Sa’d bin Abi Waqqas dan Kisah Ibunya yang Menolak Masuk Islam

Posted on

Sa‘d bi Abī Waqqāṣ

Sahabat yang konon membawa Islam ke China ini lahir dari keluarga Quraisy Bani Zuhrah. Ia termasuk orang-orang yang mula-mula masuk Islam dan 10 orang Sahabat Nabi yang dijanji masuk surga. Sewaktu Nabi berhijrah ke Medinah, ia berumur 23 atau 27 tahun.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Ibunya menentang keras keputusannya untuk masuk Islam dan mengancamnya berpuasa sampai mati jika ia tidak mau meninggalkan Islam. Ketika ia keukeuh dengan keputusannya, ibunya betul-betul tidak mau makan dan minum. Konon karena peristiwa ini, Sa‘d betul-betul terpukul hatinya sampai Allah menurunkan ayat:

{وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا} [لقمان: 14، 15]

Ayat ini memberikan pesan agar seorang anak tidak mengikuti perintah orang tua untuk meninggalkan Islam, namun ia harus tetap menjaga hubungan baik dengan mereka.

Ia terlibat dalam banyak peristiwa penting di masa hidup Nabi: Hijrah ke Medinah, Perang Badr, Perang Uḥud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, Bai‘ah Ḥudaibiah, Penaklukan Mekah dan perang-perang lain yang dipimpin Nabi.

Pada masa ‘Umar bin al-Khaṭṭāb, ia ditugasi pemimpin pasukan yang dikirim ke Persia dan berhasil menaklukkan Qadisiah, Jalula’ dan Madain. Dialah yang memimpin pendirian kota Kūfah dan menjadikannya pusat komando penyerangan ke Persia. Walaupun kemudian, ‘Umar menggantinya dengan orang lain, namun ia disebutnya sebagai salah seorang ahli syura (enam orang yang ditetapkan ‘Umar sebagai calon penggantinya).

Ketika terjadi perang saudara anta Ali dan Mu‘awiah, ia memilih untuk tidak memihak kepada salah satu di antara keduanya. Sa‘d meninggal di Medinah pada tahun 55 H/674 M.

Tidak jelas kapan ia sampai ke China karena tidak ditemukan catatan perjalanan itu dalam buku-buku babon sejarah Islam.

Penulis: Prof Dr KH Muhammad Machasin, Mustasyar PBNU.