Refleksi Hari Santri dan Sumpah Pemuda, PW IPNU DIY Ajak Kader Nyalakan Kembali Api Perjuangan

Majelis Dialektika yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026), di Kantor GMNU DIY.

Bangkitmedia.com, YOGYAKARTA – Semangat perjuangan kaum santri dan pemuda tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah. Nilai-nilai perjuangan tersebut perlu terus dihidupkan melalui pemikiran, gerakan, dan kontribusi nyata generasi muda hari ini.

Semangat itulah yang menjadi salah satu pesan utama dalam Majelis Dialektika yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026), di Kantor GMNU DIY.

Bacaan Lainnya

Mengangkat tema “Merawat Warisan Perjuangan, Membaca Realitas, Merumuskan Masa Depan”, forum ini menjadi bagian dari refleksi Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda sekaligus ruang pertemuan lintas generasi untuk membicarakan keberlanjutan perjuangan IPNU.

Ketua PW IPNU DIY, Nadru Aulia Rahman, mengatakan, penyelenggaraan Majelis Dialektika berangkat dari keinginan untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual dan diskusi di lingkungan IPNU. “Forum ini kami gagas sebagai ikhtiar untuk merawat nalar intelektual dan diskusi bagi kader-kader IPNU, khususnya di DIY. Kita perlu menyalakan kembali api semangat kaum santri dan pemuda pada masa perjuangan dahulu. Semangat mereka harus diterjemahkan menjadi keberanian berpikir, bergerak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat hari ini,” ujarnya.

Menurut Nadru, warisan perjuangan tidak cukup hanya dikenang melalui kegiatan seremonial. Generasi muda perlu memahami nilai dan semangat yang melatarbelakangi perjuangan para pendahulu, kemudian menerjemahkannya sesuai tantangan zaman.

Forum tersebut menghadirkan lima tokoh dengan pengalaman berbeda dalam perjalanan IPNU, yakni Masyhuri (Sekretaris Jenderal PP IPNU 2000–2003), Ahmad Ghozy (Ketua PW IPNU DIY 2006–2009), Ch. Anwar (Ketua Kaderisasi PP IPNU 2018–2022), Didi Manarul Hadi (Ketua PW IPNU DIY 2022–2025), dan Muhammad Fairaz (Founder Milenual.Id).

Masyhuri mengajak kader IPNU kembali menguatkan idealisme intelektual dengan mengambil inspirasi dari tradisi pemikiran Tashwirul Afkar. Menurutnya, IPNU harus memiliki ruang yang memungkinkan kader mengembangkan kapasitas berpikir dan keberanian menyampaikan gagasan.

Ahmad Ghozy mengingatkan pentingnya memikirkan masa depan kader melalui sistem pendistribusian yang terarah. Kader IPNU perlu disiapkan untuk berkiprah sesuai kapasitas dan bidang keahlian masing-masing.

Didi Manarul Hadi menyoroti perlunya pembaruan tata kelola dan pendekatan kaderisasi agar tetap relevan dengan karakter generasi Z dan generasi Alpha. Sementara itu, Ch. Anwar menegaskan bahwa perjuangan IPNU merupakan bagian dari mandat keagamaan dan kebangsaan yang harus diwujudkan melalui lahirnya insan-insan rabbani.

Muhammad Fairaz turut mendorong agar diskusi tidak berhenti pada refleksi, tetapi menghasilkan rekomendasi konkret untuk perbaikan organisasi, terutama menjelang Kongres IPNU mendatang.

Majelis Dialektika menjadi ruang untuk mempertemukan ingatan sejarah dengan kebutuhan masa depan. Melalui forum ini, PW IPNU DIY ingin memastikan bahwa semangat perjuangan para pendahulu tetap hidup dalam tradisi berpikir dan gerakan kader-kader IPNU. Sebab, api perjuangan tidak cukup dijaga dengan mengenang sejarah. Ia harus terus dinyalakan melalui gagasan dan tindakan nyata. (Rls)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *