gus baha' ngaji

Rahasia Kisah Gus Baha’ Tolak Uang Milyaran untuk Bangun Pesantren

Posted on

KH Ahmad Bahauddin Nursalim (akrab disapa Gus Baha’) selalu mengisahkan banyak cerita hikmah dari berbagai Nabi, sahabat, ulama’ salaf dan ulama’ Nusantara. Dengan kisah-kisah itu, Gus Baha’ memberikan ilmu hikmah yang luar biasa kepada para santri dan pecintanya. Tanpa terasa, pemahaman kitab kuning yang sulit akhirnya mudah dipahami santri dan masyarakat awam.

Dalam suatu ngajinya, Gus Baha’ mengisahkan dirinya sendiri. Suatu hari, ada seorang donatur datang kepada Gus Baha’. Dari Arab Saudi, donatur ini datang membawa uang milyaran rupiah.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

“Gus, kalau panjenengan mau membesarkan pesantren, maka saya akan sumbangkan uang saya ini untuk panjenengan,” kata donatur itu.

Para santri dan jama’ah yang mendengarkan sungguh amat senang, karena Gus Baha’ akan mendapatkan uang milyaran untuk pembangunan pesantren. Dengan uang milyaran itu, maka pesantren Gus Baha’ bisa semakin maju dan menampung lebih banyak santri lagi.

Ternyata, Gus Baha’ menolak donatur itu. Apa alasannya?

“Ciri utama ulama’ itu mengajak orang menuju Allah. Kalau saya terima dan fasilitas pondok saya bagus, takutnya saya malah mengajak orang kepada fasilitas bukan kepada Allah. Kalaupun ada ulama’ yang menerima sumbangan karena berprinsip bahwa fasilitas bagus akan menghasilkan produk bagus ya itu silahkan. Yang pasti saya memiliki prinsip sendiri dan kamu jangan tiru saya,” kisah Gus Baha’.

“Kalau ada yang mau nyumbang kamu uang banyak ya terima saja, gak usah sok-sokan nolak,” lanjut Gus Baha’ disambut tawa para santri dan jama’ah. 

Itulah sosok Gus Baha’. Punya prinsip sendiri dalam hidupnya. Kita semua boleh mengikuti gaya beliau, tapi juga boleh mengikuti ulama’ lain yang berbeda. Semua diambil hikmah saja.

Baca Juga >  Ngaji Ushul Fiqh 5: Profil Lulusan Ushul Fiqh Mujtahid Abad Modern

Dalam suatu ngaji, Gus Baha’ mengisahkan sosok Mbah Maksum Lasem. Saat awal-awal jadi kiai, Mbah Maksum rajin sekali baca wiridan. Setiap saat tak bisa lepaskan dari wirid. Tiba-tiba, ada sahabatnya yang mengkritiknya.

“Kang Maksum, sampeyan ini wirid terus kayaknya karena dilihat para santri dan masyarakat. Kamu dulu kan jarang wirid. Sekarang tiap habis shalat wiridan terus.”

Kritik sahabatnya ini akhirnya dijawab Mbah Maksum muda.

“Iya, dulu memang jarang wirid. Awalnya memang karena dilihat orang lain, tapi lama-kelamaan akhirnya lupa, jadi ikhlas,” jawab Mbah Maksum.

Kisah ini, bagi Gus Baha’, mengajarkan kita untuk selalu belajar ikhlas. Dengan ikhlas itulah manusia akan mencapai derajat kewalian. (Abdurrahman Thohir / red / Bangkitmedia.com)