Rahasia Hidup Berkah Gus Baha, Hanya Diungkap Saat Ngaji

Rahasia Hidup Berkah Gus Baha

Rahasia Hidup Berkah Gus Baha, Hanya Diungkap Saat Ngaji.

Sangat jarang Gus Baha menyebutkan jejak hidupnya sendiri. Tapi kali ini Gus Baha mengungkapkan dengan tegas tentang rahasia hidupnya. Orang banyak menyebut Gus Baha sebagai sosok kiai yang luas ilmunya, hafal Qur’an, dan menarik simpati semua kalangan. Kalau sudah ngaji, semua terasa ingin mendengarkan langsung apa yang disampakan Gus Baha.

Terkait hidup berkah ini, Gus Baha mengajak semua masyarakat untuk saling mendoakan, jangan saling mengumpat. Inilah prinsip hidup yang dijalani Gus Baha.

“Karena saya sadar bahwa Islam di Papua tidak ada peran bahasa (saya). Begitupun Islam di Kalimantan,
Rusia, Usbakistan, Australia, dan banyak Islam yang tidak ada campur tangan kita. Kita tinggal duduk-duduk di sini, kok, terlalu banyak mulut, kadang semua Umat Islam kita salahkan. Bukankah lebih enak do’a agar dunia ini aman,” tegas Gus Baha.

Di sini, Gus Baha juga menjelaskan terkait kesalehan yang dimiliki umat Islam. Bagi beliau, saleh itu beragam. Ada saleh minimal, yang intinya tidak sampai kufur. Ada juga saleh ideal, seperti yang rajin ibadah dan sedekah.

“Ada Adna Al-Sholeh, kesalehan paling rendah, yaitu asal tidak menyekutukan Allah SWT. Ini pentingnya mendekatkan diri kepada kepada Allah dan pentingnya mencintai umat Kanjeng Nabi, sebagaimana yang ditegaskan Ratib Al-Haddad dalam do’anya,” kata Gus Baha.

Gus Baha juga mengisahkan tentang pertemanannya dengan banyak kalangan.

“Saya ini sering bertemu macam-macam orang. Kelompok beragam. berulang kali. Saya sering ditanya para kyai.

“Gus, teman anda kok Islamnya beragam?”

“Tdak, Islam mereka sama. Nabinya juga sama: Nabi Muhammad.”

“Tapi kelompok Islamnya macam-macam.”

“Tidak ah. Macam-macam itu cara kamu. Karena pengetahuanmu sempit, jadi bilang Islamnya bermacam-macam. wong pernah saya tanya soal Nabinya, Nabinya masih Nabi Muhammad.”

“Terus beragamnya dari mana? wong, Tuhannya sama, Rasulnya juga sama. Paling yang berbeda itu bendera ormas Islamnya saja. Walah, soal bendera itu tinggal pesan desainer ya bisa, gampang. Sukanya kok persoalan bendera. Itu gak jelas. Makanya saya minta, sejak ngaji ini untuk dilatih jangan mudah melabeli munafik orang lain. Munafik pada jaman Nabi, yang dibodohi sudah pasti benarnya. Zaman sekarang, orang yang membodohi sama, orang yang tidak jelas kebenarannya.”

Gus Baha kemudian menjelaskan tentang banyaknya pembangunan masjid dengan memakai proposal.

“Semisal proposal masjid, kalau ada yang membodohi ya ada benarnya. Karena dari proposal sudah disepakati DPR ada upeti 30 %, oleh kiainya dibikin kegiatan. Sudah tahu masjid sepi kok dibangun megah. Karena proyek. Kiai alim protes, “masjid gak usah dibangun, jelek tak masalah, yang penting jamaahnya banyak (makmur). Bukan karena megahnya bangunan.” Kiai yang lain membantah. “yang penting syiar. Urusan jumlah jamaah itu nomor dua.
waduh, akhirnya dibodohi sama kontraktornya.”

“Saya ditanya, bagaimana status hukumnya, Gus?”

“Hukumnya ya pas. Karena niatnya tidak benar, akhirnya dikibuli ya wes.”

“Kita tidak pernah tahu. Ini benar masjid. Tapi gambaran permasalahannya kita tidak pernah tahu. mbulet.
beda ketika di masa Nabi. Awalnya membangun (masjid) itu bukan karena proposal, bukan karena hitung-hitungan untung rugi. Awalnya bangun itu Ussisa alat Taqwa (berdasarkan taqwa).”

“Tapi bagaimana masjid yang kita bangun? Kadang dibangun karena iri dengan masjid desa lainnya yang megah. berarti motivasi karena malu atau karena cinta masjid? Karena malu, kan?”

Gus Baha mengajak kita semua untuk melakukan refleksi atas ibadah yang kita jalani.

“Kita tidak pernah tahu. Maksudnya, kesalehan kita kita ini jenis yang gampang tercampur. Berhubung gampang kecampuran, kalau ada kecelakaan, jangan-jangan karena kesalahan kita. Makanya benar firmannya Allah, ketika dalam perang Uhud umat Muslim kalah, dan Allah bersimpati lagi karena pengakuan dosa. “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa dan perbuatan kami yang berlebihan.”

Perang Uhud itu, lanjut Gus Baha, pasti baiknya, karena membela Nabi (dalam perang) pasti baik. Tapi ya namanya orang, kadang di tengah perang ada salahnya. Tidak mengikuti perintah Nabi di atas gunung.

“Sama, membangun masjid pasti baiknya. Tapi ya namanya manusia, kadang-kadang di tengah jalan, ada salahnya. namanya juga manusia. Mengajar ya baik. tapi di tengah-tengah ngajar ya ada tamaknya,” tegas Gus Baha.

Terkait rahasia hidup berkahnya, Gus Baha mengungkapkan dengan sangat tegas.

“Kita sekarang ini senang saling hasud. Hidup saya bisa berkah karena mencintai umat Nabi Muhammad,” kata Gus Baha.

Penulis: Ustadz Abu Umar.

*Tulisan Rahasia Hidup Berkah Gus Baha, Hanya Diungkap Saat Ngaji ini bersumber dari video berikut ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *