Rahasia Air Mata Yazid bin Muawiyah Menyaksikan Kepala Sayyidina Husein.
Sayyidah Fathimah az-Zahraa radhiyallah `anha melahirkan anak perempuan pertama pada tahun ke-5 H. Anak itu diberi sang kakek Rasulullah SAW dengan nama “Zainab” untuk memperingati putri Beliau “Zainab” yang meninggal pada tahun ke-2 Hijriah disebabkan luka parah. Setelah kalah perang Badr, seorang musyrik menusuk perut Sayyidah Zainab di perjalanan beliau menuju Madinah. Tusukan itu mengakibatkan keguguran & meninggal.
Sayyidah Zainab (cucu) mendapat perhatian & kasih sayang besar dari sang kakek Rasulullah SAW, tapi tak sampai berumur 5 tahun; sang kakek meninggalkan dunia ini.
Hari-harinya pun dilalui di sisi tempat tidur ibunya yang sedih & sakit sepeninggalnya sang ayah Rasulullah SAW. Disebutkan dalam sejarah bahwa Sayyidah Fathimah tidak pernah terlihat tertawa setelah kepergian Rasulullah SAW. Sayyidah Fathimah sudah mempersiapkan putrinya “Sayyidah Zainab” untuk menggantikan kedudukannya, beliau memberikan wasiat pada sang putri ini untuk selalu menemani kedua saudara laki “Hasan & Husain” & saudari kecilnya “Umm Kultsum”.
Sayyidah Zainab melaksanakan wasiat itu dengan baik, makanya beliau dijuluki sebagai “Umm al-Hasan” & “Umm Haasyim”. Sayyidah Zainab merupakan seorang putri yang lembut & perhatian seperti sang ibu, alim & gagah berani seperti ayahnya.
Beliau terkenal dengan kepribadian yang hebat; dijuluki “al-`Aqiilah” atau “`Aqiilah banii Hasyim (yang paling berperan dalam kaumnya), juga dengan kedermawanan, bahkan dijuluki sebagai “Umm al-`Awaajiz wa masaakiin” (Ibu dari kaum lemah & miskin) karena kepedulian beliau terhadap golongan yang lemah.
Ketika sudah masanya.. al-Imam Ali karramallah wajhahu memilihkan suami yang paling pas untuk sang putri, yaitu: “Abdullah bin Ja`far” seorang laki-laki mulia & dermawan, dijuluki “Quthb as-sakhaa” (puncak kedermawanan).
Dari pernikahan itu, beliau melahirkan 4 anak laki-laki: Ali, Muhammad, `Aun & Abbas, 2 anak perempuan: Umm Kultsum & Umm Abdillah.
Konon, Sayyidah Zainab ini di rumahnya selalu menutup aurat, bahkan jarang sekali terlihat kecuali dari belakang tirai.
Tapi Allah mentaqdirkan hal lain..
Rahasia Air Mata Yazid bin Muawiyah Menyaksikan Kepala Sayyidina Husein.
Dalam peristiwa “Karbalaa”, 10 Muharram 61 H (12 oktober 680 M), Sayyidina Husain syahid bersama hampir semua keturunan laki-laki dari Rasullullah SAW, Sayyidah Zainab yang dijuluki sebagai “pahlawan Karbala” digiring bersama sejumlah tawanan. Rombongan tawanan itu melewati medan pertempuran; di mana organ-organ berserakan. Sayyidah Zainab pun berteriak:
“Ya Muhammad, para malaikat langit bershalawat padamu dan ini al-Husain di tanah lapang berpasir darah, terpotong anggota tubuhnya.
Ya Muhammad.. ini anak-anak perempuanmu ditawan.. & keturunanmu dibunuh menyedihkan”.
Sayyidah Zainab pun mengungkapkan kekecewaannya pada Ahli Kuufah, sehingga mereka pun menangis & kebingungan. Sampai sekarang, kaum syi`ah mengenang kekecewaan Sayyidah Zainab itu, sehingga mereka memukul diri mereka sendiri dalam acara tahunan mereka.
Sayyidah Zainab digiring menuju ke sang amir “Abdullah bin Ziyad”, di situ Ibn Ziyad menerima kepala-kepala korban tanpa rasa hormat.
Sayyidah Zainab maju & mengambil tempat duduk dengan cueknya, tanpa minta idzin.
Ibn Ziyad pun berkata: “Kamu siapa?” Bertanya sampai 3 kali, tapi tak dijawab, menunjukkan Ibn Ziyad sebagai orang yang rendahan & tidak layak dihormati.
Di situlah terjadi dialog kuat.
Ibn Ziyad kalah sampai berkata: “Keberanian ini karena ayahnya merupakan seorang yang berani & seorang penyair”.
Sayyidah Zainab menjawab: “Memangnya apa hubungannya keberanian & perempuan? Ku tidak peduli dengan keberanian..”.
Ibn Ziyad pun memeriksa wajah-wajah tawanan, matanya tertuju pada “Ali bin al-Husain”. Ibn Ziyad tidak menerima & memerintahkan untuk membunuhnya. Sayyidah Zainab pun memeluk keponakannya, sambil berkata: “Wahai Ibn Ziyad, cukup sudah tindakanmu pada kami, belum puaskah kamu dari darah kami? Tidakkah kamu biarkan satu pun dari kami?”. Lalu beliau meletakkan anak kecil itu di pangkuan menunjukkan hanya ada 2 pilihan: Biarkan anak kecil itu hidup atau bunuhlah bersamaku.
Ibn Ziyad pun berkata: “Anehnya jalinan rahim, demi Allah, ku menyangka dia (perempuan) ini mengharapkan aku membunuhnya bersama anak laki-laki itu, biarkan anak kecil itu pergi dengan para perempuannya”.
Ibn Ziyad pun memerintahkan agar meletakkan rantai di kedua tangan & leher Sayyidina Ali Zainal-Abidin.
Sekali lagi.. para tawanan digiring menuju Damasqus untuk menghadap Yazid bin Mu`awiyah.
Konon, Yazid bin Muawiyah berlinang air mata saat melihat kepala Sayyidina Husein & mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan terbunuhnya Husain.. Yazid pun mendo`akan laknat Allah pada Ibn Murjanah.
Kemudian Yazid memerintahkan agar para tawanan masuk rumahnya.. di sanalah terjadi dialog panjang antaranya & Sayyidah Zainab.
Yazid pun memerintahkan agar Sayyidah Zainab & keluarga dipulangkan ke Madinah dengan penuh penghormatan bersama tim pengamanan.
Sebenarnya, Sayyidah Zainab ingin senantiasa tinggal di sisi sang kakek Rasulullah SAW, tapi Bani Umayyah khawatir keberadaan Sayyidah Zainab cukup untuk mengobarkan semangat umat demi menuntut hak Sayyidina Husain.. maka wali kota Madinah meminta Sayyidah Zainab untuk keluar dan tinggal di mana saja yang diinginkan.
Sayyidah Zainab pun pergi bersama keluarga & para keponaka menuju Mesir.
Tiba pada bulan Sya`ban tahun 61 H disambut oleh wali Mesir “Maslamah bin Makhlad al-Anshari” bersama seluruh umat Islam dari penjuru Mesir. Sesampainya di Fosthath, Sayyiduna Maslamah pun membawa tamu agung ke rumah beliau. Sayyidah Zainab tidak pernah meninggalkan tempat tinggal itu, sampai akhirnya wafat pada bulan Rajab tahun 62 H & dimakamkan dalam rumah tersebut.
Setiap selasa akhir bulan Rajab, diperingati sebagai diperingati tahunan di kota Cairo, dikenal sebagai maulid Sayyidah Zainab.
Ya.. Sayyidah Zainab memang sangat dicintai warga Mesir… Beliau dijuluki sebagai “Umm al-Mishriyyiiin” (ibu orang Mesir).
Keramat beliau banyak.
Asy-Syahiid asy-Syarif as-Syekh Emad Effat rahimahullah dalam suatu dars nahw, rabu malam, di masjid at-Tauhiid (Hay 10) berdiskusi kuat dengan beberapa murid beliau yang anti ziarah awliya. Syekh Emad pun lalu menyebutkan kekecewaan beliau terhadap sebagian orang yang menyia-nyiakan keberadaannya yang dekat dengan maqam Sayyidah Zainab tanpa mau menziarahi Beliau.
Syekh Emad pun cerita pengalaman bahwa ketika beliau mengalami kegundahan atau masalah, beliau pergi berziarah ke maqam Sayyidah Zainab, setelah itu persoalan pun terselesaikan.. Alhamdulillah…
Radhiyallah `an Sayyidah Zainab. Radhiyallahu `an Sayyidah Zainab.
Syekh Yusri Rusydi mengungkapkan: “Mengingat beliau; meringankan apa yang kamu derita dari lahir sampai kamu mati. Karena Beliau mengalami semua penderitaan dunia, tapi beliau tidah goyah. Beliaulah lambang “tsabaat” (kekokohan) ketika tertimpa musibah..”.
رضي الله عن السيدة زينب وأرضاها، وصلى الله على جدها سيدنا محمد أزكى صلاة وأنماها، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله
Tulisan Rahasia Air Mata Yazid bin Muawiyah Menyaksikan Kepala Sayyidina Husein diambil dari:
– Masaajid Mishr wa Auliyaauha as-Shaalihuun jilid 1.
– Taraajim Sayyidaat Bait an-Nubuwwah.. karangan Binti asy-Syaathi rahimahallah.
Penulis: Hilma Rosyida Ahmad, Mesir.






