gus mus kurban

Puisi Gus Mus tentang Kurban

KURBAN

disana
barangkali ibrahim, hajar, dan ismail pun mengawasi lautan kafan kepasrahan berputar-putar mengitari titik bumi
allahu akbar!
meluap-luap di pelataran suci
mencoba menyapu sampah dalam diri
selama ini
allahu akbar!
menderas arus berkejar-kejaran
putar-balik antara bukit shafa dan marwah
meyakinkan diri akan penerimaan
sebelum tumpah menutup padang arafah yang ramah
allahu akbar!
meluber ke muzdalifah membanjiri
mina yang menyerah
allahu akbar!
lalu balik melimpah menggenangi ka’bah
dan menyatu dengan matair zamzam
yang pemurah
allahu akbar!

disini pun kerelaan ibrahim,
kepatuhan hajar, dan kepasrahan ismail
menguji kesayangan yang dikurbankan
bismillahi allahu akbar!
relakah sepenuh hati relakah?
relakan sepenuh hati relakan!
bismillahi allahu akbar!
kurelakan permataku semata wayang
bismillahi allahu akbar
adakah yang lebih tersayang
melebihi putera tersayang
adakah yang lebih berharga
melebihi nyawa
kecuali kasihnya yang menanti
di batas ketulusan?

Baca Juga >  Ini Budaya Menyambut Ramadan di Indonesia

hari ini pun
agaknya hingga kapan pun
kurban tetap tak seberapa
takbir tak seberapa
tahmid tak seberapa
tapi terimalah, tuhan!
bismillahi allahu akbar walillahil hamd.

1413

(KH A Mustofa Bisri, Budayawan dan Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh Rembang)