Dua kali saya silaturahmi langsung dengan saudara di daerah Sukolilo, Pati. Dua kali pula saya merasakan pikiran langsung melayang pada buku-buku sejarah masa kejayaan kerajaan di masa silam.
Sukolilo, adalah daerah yang cukup jauh dari ingar bingar kota. Dengan hamparan sawah yang luas kemana-mana, ia adalah pesona masalalu yang yang masih bisa dirasakan hingga saat ini.
Daerah ini, menurut sejarah, adalah daerah yang penuh dengan hiruk pikuk sejarah. Ada makam (petilasan) Anglingdharma. Tinggal juga di sini masyarakat Bombong bersuku Samin, ada Bumi Kasunanan Prawoto, juga ada juga cerita mbah Jangkung, nama lain dari mbah Saridin.
Itu semua ada di Kecamatan Sukolilo, Pati. Belum di kecamatan lain, semisal Kajen, daerahnya mas Ulil Abshar Abdalla. Atau juga cerita-cerita lain di daerah pinggiran gunung Muria.
Yang menarik bagi saya, adalah makam dari Sunan Prawoto, yang merupakan raja keempat dari kerajaan Demak di tahun sekitar 1546-1549. Raja Demak yang mempunyai nama Raden Mukmin ini mempunyai cerita yang cukup panjang saat berseteru dengan Adipati Jipang Arya Penangsang, yang merupakan anak dari Raden Kikin (Pangeran Sekar Sedo ing Lapen).
Arya Penangsang adalah murid dari Sunan Kudus. Dan sejatinya, keturunan dari Raja Demak semuanya juga berguru pula dengan Sunan Kudus, yang merupakan ahli siasat dan strategi dari Kerajaan Demak, selain qadhi di wilayah Kudus. Tapi entah kenapa, antar murid dan para bangsawan kerajaan ini kemudian saling berseteru panjang.
Perseteruan dimulai saat Pangeran Sabrang Lor (Patiunus atau Adi Pati Unus), raja Demak kedua yang tak lain adalah menantu Raja Demak Pertama (Raden Patah) meninggal saat penyerangan ke Portugis di daerah Malaka. Dari sini kemudian cerita bersambung dengan Kesultanan Banten, Ratu Kalinyamat di Jepara, Wilayah Jipang (sekarang Cepu) hingga Pajang (sekitaran Solo). Jika diceritakan secara komprehensif akan sangat panjang, tentu dengan berbagai konflik dan dibumbui dengan subyektvitas penyusun sejarah.
Yang menarik bagi saya yang kedua adalah cerita Mbah Jangkung, alias Saridin yang merupakan murid nyeleneh dari Sunan Kudus. Dalam cerita ketoprak, ia terbentuk sebagai sosok yang saenake dewe, namun kuat dalam keyakinan. Ia sering membuat jengkel murid-murid Sunan Kudus lainnya yang semula mengerjainya. Mbah Saridin, sebagau murid yang baru tiba, malah menyuguhkan kesaktian-kesaktian di luar nalar, justru dengan muka kepolosannya.
Satu cerita:
“Semua air ada ikannya” kata Saridin.
“Masa, Din. Coba itu air yang ada di batok kelapa apa ada ikannya?, Pertanyaan cerdas dari murid Sunan Kudus Lainnya.
Dengan polos dibukalah kelapa. Dan ternyata, memang ada ikannya.
Saya menikmati cerita ini, dulu saat masih kanak-kanak, selain dari cerita orang tua, juga mendengarkan ketoprak Radio.
***
Alhasil, silaturahmi ternyata tak sekedar merekatkan kembali baut-baut persaudaraan, tetapi juga menapaktilas kesejarahan nusantara, meski rupa dan peninggalan dalam bentuk petilasan dan monumen-monumen sederhana di pelosok kampung.
Kudus, 22 Juni 2018
(Penulis: Ilham Aufa)








