Pasien di Surabaya Sembuh dari Corona, Optimis dan Terus Berdoa

Optimis dan Terus Berdoa, Pasien di Surabaya Akhirnya Sembuh dari Corona

Pasien di Surabaya Sembuh dari Corona, Optimis dan Terus Berdoa

Penderita positif virus Corona tak boleh merasa kecil hati, putus asa. Walaupun di tengah kondisi sangat sulit, tapi harus tetap optimis dan patuh dengan arahan dari dokter dan petugas kesehatan. Jangan sampai kecil hati dan putus asa, karena itu malah makin memperburuk kondisi tubuh.

Demikian yang dialami Cristina, sosok warga Surabaya yang telah dinyatakan sembuh dan negatif dari Covid-19 dari RS dr Soetomo Surabaya. Penegasan Cristina ini dinyatakan dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi swasta nasional Kompas TV, Ahad (29/03/2020).

Cristina menegaskan bahwa dirinya telah mengalami masa sangat sulit dalam hidupnya, tapi bisa dilaluinya dengan penuh optimis dan perjuangan.

“Kuncinya selalu optimis, berfikir positif dan selalu berdoa. Jangan pernah terbawa isu-isu yang negatif, karena malah membuat tubuh kita makin lemah. Kita harus optimis dan selalu berfikir positif, karena itu akan membuat kita penuh energi di tengah penyembuhan virus Covid-19 ini,” tegas Cristina.

Selain itu, lanjutnya, ia selalu berdoa kepada Allah SWT. Usaha secara medis jangan pernah menyurutkan untuk terus berdoa kepada-Nya.

“Iya, saya selalu berdoa. Hanya dengan pertolongan-Nya saja, saya bisa meraih kondisi yang semakin baik ini. Kita punya Tuhan, harus selalu bersandar dan berharap sepenuhnya kepada-Nya,” tegas Cristina.

Dalam laporan Times Indonesia, mulai sekitar awal Maret 2020, Christina mulai merasakan perubahan pada kondisi tubuhnya. Mulanya demam tinggi, lalu disusul badan terasa pegal-pegal dan kehilangan nafsu makan. Tepat 9 Maret, Christina memeriksakan kondisinya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya.

“Beberapa hari saya dirawat di RS Mitra Keluarga. Waktu itu napas saya sudah lemas. Dada kanan warnanya abu-abu sudah bisa sembuh karena terapi. Lalu yang kiri memburuk berbentuk embun dan menutup-nutup,” kata Christina.

Pada 11 Maret 2020, dia dibawa ke RSU Unair untuk dilakukan swab tenggorokan dan hidung. Pada saat yang bersamaan, RS Mitra Keluarga sudah mengosongkan pasien. Kemudian, esok harinya, Christina dibawa ke RSUD dr Soetomo dan langsung masuk dalam ruang isolasi khusus.

“Saya tahu saat dimasukkan ke ruang isolasi khusus. Dengan kondisi lemas, bernapas pun sudah tidak sampai, oksigen tidak maksimal. Saya sendirian di ruang khusus itu bersama alat medis,” ungkapnya.

Selama perawatan superintensif di ruang isolasi khusus itu berlangsung, ibu dua anak ini tidak mengetahui kalau ia tengah mengidap penyakit yang kini mewabah di berbagai belahan dunia tersebut. Bahkan, yang dia tahu dokter hanya menyampaikan bahwa kondisi pasien harus sembuh, harus kuat, dan tidak putus dalam berdoa.

“Ibu harus sembuh, ibu sehat, karena hanya ibu yang bisa membantu diri ibu sendiri. Imun ibu yang membentengi ibu sendiri. Itu kata dokter kpada saya. Tidak pernah sama sekali dokter dan perawat bilang kepada saya tentang virus,” urainya.

Beberapa hari dirawat di ruang isolasi merupakan hari paling berat bagi Christina. Setelah keluar dari ruang isolasi khusus penuh peralatan medis, Christina harus menjalani tahap berikutnya, yakni masuk ke ruang isolasi tanpa peralatan.

“Itu lima hari yang luar biasa berat. Saya merasakan betapa sakitnya. Dokter terus mendukung saya. Katanya, ibu tidak apa-apa jalan pelan-pelan selangkah dulu dan pakai oksigennya. Lalu setelah itu, saya dimasukkan ke ruang yang tidak ada peralatan lagi masih di ruang isolasi juga,” papar dia.

Setelah hari kedelapan di rawat di RSUD dr Soetomo, akhirnya Christina dapat bertemu dengan sang suami. Pada kesempatan itu, dokter menyampaikan bahwa kondisi Christina sudah resmi negatif Covid-19.

“Dokter bilang itu kepada suami saya kalau saya sudah kembali sehat. Saya dinyatakan negatif Covid-19,” ungkapnya penuh syukur.

Christina berharap, warga Kota Surabaya juga dapat mematuhi aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Terlebih, dia sebagai mantan pasien Covid-19 sudah merasakan betapa sakitnya melawan virus tersebut.

“Peraturan pemerintah itu harus didengar. Covid-19 bukan penyakit atau virus biasa. Saya sudah mengalami ini. Untuk anak muda, sudah tidak usah lagi keluar kalau sekadar nongkrong. Itu tidak perlu. Kita batasi interaksi. Memang ada dokter, tapi dia juga manusia,” pungkas Christina.

Data terkini dari Pemerintah Kota Surabaya berdasarkan peta sebaran Corona lewat lawancovid-19.surabaya.go.id, Selasa (31/3/2020) berdasarkan data dinas kesehatan Kota Surabaya, total keseluruhan ODP mencapai 207 orang pada 31 Maret 2020 dari periode 30 Maret 2020 sebanyak 206 orang.

Sementara itu, jumlah PDP naik enam orang menjadi 66 orang dari sebelumnya 61 orang. Pasien konfirmasi positif masih 38 orang pada 31 Maret 2020. Konfirmasi positif dari luar Surabaya sebanyak tiga orang.

Kabar baiknya ada PDP sehat mencapai 14 orang dan pasien sembuh dari Surabaya sebanyak 10 orang dan sembuh dari luar Surabaya sebanyak dua orang. (red/Bangkitmedia.com)

Demikian ulasan khusus terkait Pasien di Surabaya Sembuh dari Corona, Optimis dan Terus Berdoa. Semoga bermanfaat.

Artikel terkait silahkan baca di sini. Tonton berbagai video unik dan penuh hikmak seputar kehidupan sehari hari, tentunya disampaikan oleh para pemateri yang tidak diragukan lagi sanad keilmuannya. Selain itu para pemateri, semua merupakan ulama ulama dari Jamiyyah Nahdlatul Ulama, sehingga tidak perlu khawatir terhadap apapun yang disampaikan. Tonton di sini

Penulis: Nur Rokhim

Editor: Muhammad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *