Al Qur'an

Orisinalitas al-Qur’an

Posted on

Malam pertemuan ke-4 MA Krapyak mengaji kitab “Mabahist fi ulumil qur’an” dengan Pak Fauzi. Al-Qur’an semata-mata tidak seperti yang kita pegang dengan rasm mushhaf Ust’mani. Butuh waktu terbilang yang tidak singkat.

Cerita singkatnya, Para Sahabat Rasulullah adalah orang arab murni yang mudah mengerti dengan teks al-Qur’an. Tetapi pernah suatu ketika para sahabat musykil dengan teks ayat al-Qur’an

وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ

dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman … (Surat al-An’am: 82)

 

Lalu mereka bertanya langsung pada Rasulullah; Ya Rasullah, apakah ada diantara kita yang tidak berbuat zalim pada diri sendiri?. Lalu Rasulullah menjawab dengan menafsirkan kata dari “Dzamin” ialah Syirik. Masyoritas para sahabat pada waktu itu adalah “ummiyyin” (belum mengerti membaca dan menulis). Juga karena belum adanya peralatan alat tulis yang tersedia. Maka dengan hafalan kuat dan hati yang bersih para Sahabat menghafalkan al-Qur’an. Tetapi seiring berjalannya waktu baru mulai ada sedikit alat tulis, seperti dengan pedang atau barang runcing yang mampu digunakan untuk menulis di pelepah kurma, kulit-kulit hewan, dan lain-lain. lalu Munculah penulis dan sang penerjemah Nabi Zaid bin Tsabit.

Nabi Muhammad SAW bersabda;

لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القرآن فليمحه وحدثوا عني ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبو مقعده من النار

 

“Janganlah kalian semua menulis dariku (Perkataanku). Barang siapa menulis selain al-Qur’an maka hendaknya ia menghapusnya. Dan hendaknya kalian baritahu padaku, dan tidak ada dosa bagi kalian. Barang siapa yang berbohong padaku dengan maksud sengaja, maka hendaknya ia menempati neraka sebagai tempatnya.”

Hadist ini diriwayatkan oleh imam Muslim. Dalam kitab mabahist fi ulumil qur’an dikatakan hal ini dimaksudkan untuk menjaga murninya al-Qur’an serta tidak tercampur aduknya dengan perkataan Rasulullah SAW. Setalah berjalan waktu tepatnya setelah Rasulullah wafat, banyak permasalah yang terjadi salah satunya meninggalnya para huffadz ,para ahli al-Qur’an pada masa itu. Maka pada masa Khalifah Abu Bakar lalu Umar bin Khattab diusulkannya pengumpulan al-Qur’an. Pasca masa Khalifah Ustman bin Affan terkumpulah bentuk mushaf Ustmani. Yang dimaksudkan dengan menisbatkan pada sahabat Ustmani. Lalu al-Quran yang sudah jadi dengan proses yang terliti diperbanyak disebarkan ke kota-kota besar. Hingga saat ini kita sudah sangat mudah mengakses kitab Suci al-Qur’an dengan al-Qur’an rasm Ustmani.

Baca Juga >  Radikalisme Marak, Pahami Gerakan Khawarij dan Ciri-cirinya

Dari mana kita tahu Orisinalitas al-Qur’an?

Al-Qur’an adalah kalam Ilahi, berbeda dengan pendapat mu’tazilah yang mengatakan al-Qur’an itu diciptakan, asy’ariyah justru berpendapat bahwa al-Qur’an, sebagai manifestasi kalam Allah yang qadim, tidak diciptakan. Tapi hal perbedaan itu tidak akan lebih luas kita bahas. Hal yang paling mudah bahwa al-Qur’an dari zaman dahulu hingga kini masih orisinil ialah karena al-Qur’an langsung Allah SWT yang menjaganya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Setiap awal bulan bisanya saya sendiri sering pergi ke toko buku. Gramedia misalnya. Kita pasti bakal menemukan banyak buku. Tapi saya cukup sering pergi ke rak buku tentang Agama. Disana ada banyak kumpulan kitab-kitab. Kitab injil misalnya. Pertanyaan yang selalu ada dalam benak saya ialah, apakah kitab injil juga bisa dikatakan masih Orisinilitas? Karena adanya isi perubahan makna didalamnya. Dan ini tidak semata-mata berubah, tapi dengan seiringnya zaman berubah maka ia juga bisa berubah isi maknanya.

Krapyak, 9 Oktober 2018

(Muhammad Najib Murobbi, Santri Krapyak)