Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (1870-1968), atau akrab dipanggil Habib Ali Kwitang, adalah sosok ulama’ besar Indonesia yang berjasa besar dalam dakwah Islam di Jakarta. Habib Ali bersahabat baik dengan Kiai Hasyim Asy’ari, karena mempunyai visi yang sama dalam dakwah Islam di Indonesia.
Habib Ali Kwitang memimpin Majlis Taklim Kwitang setiap Ahad Pagi. Jama’ah dan muridnya banyak sekali, bahkan hampir sebagian besar para habib dan ulama’ di Jakarta saat itu. Habib Ali ini juga sosok sangat mencintai NU, bahkan seorang anak angkatnya pernah menjadi Ketua Umum PBNU 1952-1984, yakni KH Idham Cholid.
Ketika KH Hasyim Asy’ari dan para kiai di Surabaya mendirikan NU pada tahun 1926, banyak sekali para ulama’ yang kemudian ikut serta mendirikan cabang NU di berbagai daerah. NU akhirnya berkembang pesat, karena jaringan ulama’ pesantren yang memang sangat akrab.
Tak terkecuali di Jakarta, berita NU juga tersebar luas. Habib Ali Kwitang sebenarnya sudah tahu dan paham dengan gerakan Kiai Hasyim Asy’ari, tetapi Habib Ali tetap mengirimkan santrinya untuk meneliti lebih detail tentang jam’iyah NU yang didirikan para kiai. KH Achmad Marzuqi adalah santri Habib Ali yang sowan yang ke Tebuireng untuk bertanya dan melihat langsung soal NU kepada Kiai Hasyim.
Dari penelitian langsung muridnya ini, Habib Ali kemudian mengajak seluruh murid dan jama’ahnya untuk bergabung dengan NU. Dari sinilah, NU tersebar luas di Jakarta dan sekitarnya. Setiap kali datang di Jakarta, Kiai Hasyim Asy’ari selalu bersilaturrahim di kediaman Habib Ali. Kiai Hasyim juga selalu pesan kepada anak cucunya serta para santrinya untuk sowan dan mengambil berkah kepada Habib Ali Kwitang.
Kiai Wahid Hasyim patuh dengan nasehat ayahnya. Kiai Wahid bahkan selalu mengajak putranya, Gus Dur untuk meminta berkah dari Habib Ali. Semasa kecilnya, Gus Dur bahkan membaca beberapa kitab secara langsung di hadapan Habib Ali Kwitang.
Karena kecintaan kepada NU, Habib Ali banyak menyedot perhatian para habaib di Jawa untuk bergabung bersama NU. Walaupun pengaruhnya sangat besar, Habib Ali selalu menolak untuk masuk dalam struktur NU. Tetapi setiap acara NU, Habib Ali jarang sekali absen. Habib Ali selalu hadir memenuhi undangan-undangan acara NU, termasuk dalam sebuah Apel di lapangan Ikada pada Muktamar NU tahun 1959.
Dari sini, para pemimpin PBNU saat itu selalu mendekat kepada Habib Ali Kwitang, khususnya hadir di Majlis Kwitang Ahad Pagi. Para tokoh PBNU yang seringkali hadir dalam majlis Kwitang adalah KH Wahab Chasbullah, KH Wahid Hasyim, KH Masykur, KH Saefudin Zuhri, KH Fatah Yasin, KH Achmad Saichu, KH Dahlan, KH Idham Chalid, KH Abdurrahman Wahid dan KH Hasyim Muzadi.
Bahkan Ketua Umum PBNU yang pertama, KH Hasan Gipo selalu menyiapkan diri untuk melayani Habib Ali Kwitang tatkala berada di Surabaya dan sekitarnya. Kiai Hasan Gipo sangat takdzim kepada Habib Ali, terlebih karena kecintaan Habib Ali yang luar biasa kepada NU.
Pada awal tahun 1960-an, KH Ali Manshur diundang Habib Ali Kwitang dalam Majlis Taklim Kwitang untuk membacakan sholawat yang diciptakan, yakni Sholawat Badar. Dari majlis ini, Sholawat Badar akhirnya menggema sampai seluruh pelosok negeri. Bahkan saat ini menjadi sholawat yang khas dari NU.
Begitu besarnya peran Habib Ali Kwitang dalam membesarkan NU, Rais Aam NU 1947-1971 KH A Wahab Chasbullah ketika hadir dalam Majlis Taklim Kwitang memberikan rasa takdzimnya kepada Habib Ali.
“Habib Ali adalah pintu gerbang kota Jakarta setelah Habib Kramat Luar Batang dan Habib Ustman bin Yahya. Pada jaman ini, siapa saja harus melewati gerbangnya agar masuknya tidak tersasar. Siapa saja yang sudah masuk dalam pintu gerbangnya, Insya Allah selamat dan barakah. Ini semua berkah cucunya Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka, beruntunglah bagi yang sudah masuk didalamnya.”
Pengakuan sangat nyata dari Kiai Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU.
Sampai saat ini, warga nahdliyyin masih tak bisa lepas dari Habib Ali Kwitang. Makam Habib Ali tak pernah sepi, khususnya warga nahdliyyin yang masih berharap keberkahan Habib Ali. (mm)






