Memaksakan Simbol Agama Karena Lupa Kedudukan
Rasulullah yang diajarkan pertama itu waljamaah, yang awal namanya sahabat. Generasi kedua namanya tabiin. Generasi selanjutnya namanya tabiit tabiin dan kita ini generasinya para ulama yang cara pembelajaranya sangat berbeda. Di Arab sana, Rasulullah mengajarkan bagaimana makan pakek (memakai-red) tiga jari masih bisa dijalankan sampe sekarang karena di sana masih kurma sama roti.
Begitu sampai di Nusantara, sudah tidak kurma dan tidak roti tapi sudah soto. Jadi kalau makan pakek tiga jari akan sangat susah. Di sana kurban pakek unta, disini tidak lahir unta tapi lahir kerbau sama sapi, karena terlahir kerbau sama sapi jadi jangan memaksakan diri kurban pakek unta. Nanti ditangkap oleh polisi karena mencuri untanya Kebon Raya Bogor.
Disana masih bisa pakek jenggot, tetapi di sini rasnya mongolia sudah tidak punya jenggot. Ketika ulama-ulama awal datang ke sini, mereka tidak pernah ribut masalah simbol-simbol yang tidak bisa dilakukan oleh Indonesia. Nah sekarang ini, tugas pemerintah karena banyak orang yang kemudian lupa kedudukan itu, kemudian memaksakan menjadi pengikut Rasulullah. Ini yang harus kita pahami bahwa kita ini berkedudukan sangat jauh.
Al-Qur’an saja berbeda-beda. Ketika mengajarkan di awal, Rasulullah tidak memerintahkan menulis al-Qur’an. Kenapa? karena sahabat hafal al-Qur’an. Orang yang hafal tidak perlu menulis. Saya hafal wajah istri saya, nggak pernah bawa fotonya ke mana-mana karena saya hafal. Makanya ibu-ibu yang dibawa gambarnya kemana-mana jangan seneng dulu. jangan-jangan nggak hafal.
Setelah Rasulullah meninggal, sahabat menulis qur’an untuk tabiin yang tidak ketemu Rasulullah. Tiba-tiba generasi sahabat meninggal, tabiin menulis titik di bawahnya al-Qur’an. Al-qur’annya sahabat terlalu pinter, menunggik-menunggik seperti cacing. Maka kemudian dikasih titik oleh Abdul Aswad Adduali. Disebar lagi, titik nggak cukup maka dikasi fathah kasro, domma sakkal oleh Syekh Alfarohidi. Disebar lagi, yang membaca al-Qur’an karena al-Qur’an rahmatan lil alamin bukan lagi orang Arab semata.
Orang Andalusia membaca al-Qur’an wadduha menjadi wadduhe. Orang Turki, mustaqim menjadi mustaqin. Masuk ke Indonsia dibaca oleh orang Padang menjadi lakanud keluar lakanuid. Makanya kalau orang Padang menyebut Muhammad jadi Muhammek. Orang Sunda ketika membaca alladzina sebagian besar membaca allatzina. Begitu masuk ke Jawa, ketemu dengan huruf honocoroko. Alhamdu, karena tidak punya huruf ha menjadi alkamdu, alfatehah menjadi alfatekah.
Nah ini orang kalau mengerti proses modifikasinya al-Qur’an, pasti tahu ketika masuk ke semua negara pasti berbeda. Alfatehah menjadi alfatekah dan ini yang dialami oleh bapak Presien Republik Indonesia. Ya hayyu ya kayyum menjadi yokayuku yokayumu. Rabbil alamin karena nggak punya huruf ain punyanya ngo menjadi rabbil ngalamin. Nggak punya dhot punyanya lo maka romadhon keluarnya romlan. Begitu dibaca orang Bali sangat susah, karena orang Bali nggak punya huruf tok bilangnya thok maka siratol menjadi sirothol ladzina an amta alaihim ini.
Islam berkembang ke semua negara dan al-Qur’an berbeda ketika dibaca oleh orang Bugis, alaihim keluarnya alaihing, karena orang Bugis kalau bilang n itu eng. Nama Bedu Amang itu berasal dari Abdurrahman. Makanya Islam itu bergerak. Nah lantas apa? terciptalah sebuah ilmu bagaimana orang Islam di seluuruh dunia bisa membaca al-Qur’an. Dibikinkanlah sebuah ilmu dengan judul attajwi alqiroatil qur’an yang nulis Abu Ubaid Qosim bin Salam. Ini generasinya para ulama dan begitu besar yang mungkin bapak presiden sudah saya sampaikan. Saya ingin sampaikan lagi biar kita tidak lupa ada perubahan besar ketika Islam masuk ke tanah Nusantara di mana waktu itu tanah nusantara sangat sulit dimasukkan Islam, kenapa?
Demikian ulasan khusus terkait Memaksakan Simbol Agama Karena Lupa Kedudukan. Semoga bermanfaat.
*Disarikan dari ngaji Gus Muwafiq dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Bogor, pada Rabu 21 November 2018.







