Ngaji Burdah 13, Rambutnya telah Beruban Memasuki Fase Kedewasaan

Posted on

gus mus dan kyai dimyati rois

Oleh: Kiai Kuswaidi Syafi’i, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul

NU Care LazisNU Jogja KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

 

فإن امارتي بالسوء ما اتعظت
من جهلها بنذير الشيب والهرم

Sesungguhnya nafsu ammarahku yang dibelenggu keburukan, karena saking bodohnya, tidaklah sanggup menerima peringatan uban dan gurat-gurat ketuaan.

Konon, orang yang pertama kali rambutnya beruban adalah Nabi Ibrahim. Setengah terkejut beliau menyaksikan rambutnya yang tiba-tiba memutih itu. Lalu, beliau bertanya kepada Allah Ta’ala tentang perubahan warna yang terjadi pada rambutnya. HadiratNya menjawab bahwa itu adalah ketenteraman, ketenangan dan kehormatan.

Artinya adalah bahwa secara ideal siapa pun yang rambutnya telah beruban mestinya minimal secara psikis dia telah memasuki fase kedewasaan. Tidak kanak-kanak lagi. Sehingga ada garis yang sangat korelatif antara uban yang bermunculan di kepalanya dengan ketenteraman, ketenangan dan kehormatan. Seakan uban itu menunjuk kepada cahaya rohani yang berpendar-pendar di kepalanya.

Tapi hal itu tidak pasti menjelma sebagai suatu kenyataan. Boleh jadi kepala seseorang telah dipenuhi oleh uban, tapi mentalnya tetap saja tak kunjung dewasa dan rohaninya justru malah makin terpuruk. Di situ, di kepala yang sudah menjadi tempat tinggalnya itu, uban-uban itu terasa merana, kesepian dan tidak direspon sama sekali sebagaimana semestinya. Cahaya uban itu lalu jadi redup, kemudian jadi kelam karena tertimbun oleh dosa-dosa dan kelalaian.

Baca Juga >  Benarkah Ada Yahudi dan Nasrani dalam Ayat Terakhir Al-Fatihah?

Hal itu terjadi karena nafsu yang bodoh dan terkerangkeng oleh keburukan demi keburukan itu telah dengan gagah bertahta dalam diri seseorang, tampil sebagai sais atau nakoda yang menjadi penentu bagi langkah-langkah nasibnya.

Di saat itulah, bahkan uban dan gurat-gurat ketuan yang sebenarnya tak pernah tersentuh pamrih itu tidak mempan lagi sebagai pengingat bagi hampir datangnya kematian. Sehingga orang yang rohaninya terbelenggu itu tak kunjung mempersiapkan diri untuk memasuki hari-hari keabadian.