ciptaan alloh

Ngaji Adab (10): Tawassul dengan Ciptaan Alloh yang Dimuliakan

Posted on

Berdoa kepada Alloh dengan cara bertabaruk dengan ciptaan Alloh, yang dimuliakan dan disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadits Kanjeng Nabi, merujuk:

  1. Misalnya dengan mengambil perantara berkahnya air hujan atau Ka’bah; atau kedua-duanya dalam waktu bersamaan, yaitu menggunakan air hujan yang mengalir dari atas Ka’bah untuk keperluan tertentu, akan memperoleh keberkahan kedua-duanya, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an, yang ditunjuk dengan isyarat jelas: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (QS. [3]: 96); dan “Dan Kami turunkan dari langit air yang memberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam (QS [50]: 9). Ka’bah dan air hujan disebut mubâroka.
  2. Dengan air liur, karena Nabi pernah berdoa dalam Shohîh al-Bukhôrî begini: “Dengan nama Alloh atas tanah bumi kami, dan demi air liur sebagian dari kami (air liur orang mukmin), sembuhkan yang sakit pada kami, dengan Idzin Tuhan kami” (HR. Bukhori, No. 5413). Dan Nabi sering mengobati dengan perantara air liur kepada orang yang memerlukan.
  3. Sedangkan mengambil perantara dengan bertabaruk dari sisa-sisa apa yang pernah dilakukan Rasulullah banyak dilakukan oleh para sahabat, dan telah banyak dibahas oleh para ahli, misalnya sisa air wudhunya, rambutnya, air celupan tangannya, keringatnya, jubahnya, kuburannya, dan lain-lain.

Maka jelaslah, mereka yang menyebut tawassul syirik dan tawassul bid’ah kepada orang-orang muslim yang melakukan itu dengan niat ikhlas untuk memohon kepada Alloh melalui perantara-perantara itu, sangat berlebihan, tidak berjalan di atas Sunnah Kanjeng Nabi Muhammad. Para sahabat melakukannya dan mereka adalah orang yang dekat dengan Nabi Muhammad.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Hal inilah yang membedakan dengan mereka, yang membaca langsung teks Al-Qur’an dan hadits, tanpa memperhitungkan jalan sahabat dalam mengikuti Kanjeng Nabi untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Tentu akan banyak dibelokkan oleh selera mereka sendiri. Akibatnya, bukan hanya mengkategorikan tawassul yang diajarkan Kanjeng Nabi dan dilakukan para sahabat sebagai syirik, bid’ah, dan perbuatan jahiliyah, bahkan amaliyah thoriqat dan tasawuf yang diajarkan Kanjeng Nabi kepada Sahabat Abu Bakar dan Imam Ali melalui guru-guru bersambung sampai hari ini, pun dianggap tidak menjadi bagian dari amalan yang diperintahkan Kanjeng Nabi Muhammad, dan tasawuf dianggap penyimpangan dari Islam.

Baca Juga >  Berumah Tangga Harus Siap Kecewa

Seorang wahhabi-salafi, bernama Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam bukunya Keshahihan Hadits Iftiroqul Ummah (Jakarta: Pustaka Imam Muslim, 2005, hlm. 79), menyatakan ini dengan terang: “Tasawuf merupakan penyimpangan besar-besaran dalam Islam.” Na`ûdzu billâh min dzâlik.

Jadi, hadits No. 5 di dalam Kitab al-Adab ini, mengajarkan kepada kita dalam berdoa itu dibolehkan untuk menggunakan tawassul, dan dalam hadits itu dengan menggunakan perantaraan amal-amal shaleh; dan berdasarkan hadits-hadits lain, tawassul itu bukan hanya dengan amal-amal shaleh saja, tetapi lebih banyak dari itu, seperti telah disebutkan di atas.

Arjû al-musyaffa’, ya Rabbi sholli `alâ Sayyidinâ Muhammadin. Walhamdulillâhi Robbil `Âlamîn wal Musta`ân.

Nur Khalik Ridwan, Pengajar STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta.