Saya bukan orang alim, seperti santri-santri beliau yang lain, yang tidak diragukan kealimannya. Saya pun bukan orang mulia, seperti santri-santri beliau yang lain, yang tidak diragukan kemuliannya.
Saya hanya seorang yang mencintai Yai Maimoen, laksana seekor keledai yang mencintai Rasulullah SAW. Saya sangat mencintai beliau dan bangga menjadi santrinya.
(Kami santri tahun 1980-an biasa memanggil beliau Yai atau Kyai Maimoen)
Sebuah kisah yang saya rahasiakan selama ini, pada akhirnya harus saya ceritakan, sebagai ekspresi cinta dan mahabbah saya kepada Yai.
Pada suatu hari, Yai pinarak di rumah saya. Waktu itu kebetulan ayah saya sedang di sawah. Maklum petani. Saya yang masih sangat muda waktu itu menemui beliau dengan diam. Tidak berani basa-basi atau sekedar menanyakan apa pun. Saya diam dan hanya diam. Menunggu dawuh.
Tiba tiba beliau bertanya: “Lis, kuwe ndek bengi ngimpi opo?” (Lis, kamu semalam mimpi apa?)
Saya kaget, tidak berani menatap Yai.
Saya hanya diam. Ragu dan takut menceritakan mimpi saya semalam.
Yai mengulang lagi pertanyaannya: “Kuwe ndek bengi ngimpi opo?”. (kamu semalam mimpi apa?). Dengan ragu-ragu, takut beliau tidak berkenan, akhirnya saya matur dengan suara pelan: “Ngipi ningali ka’bah Yai. Kalehan sowan wonten daleme Sayyid Muhammad.” (Mimpi melihat Ka’bah Kyai, dan sowan ke kediaman Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani).
Hanya itu yang saya sampaikan kepada beliau tentang peristiwa mimpi semalam. Setelah itu saya hanya menunggu dawuh. Beliau juga tidak dawuh apa apa.
Singkat cerita, beberapa bulan kemudian, Agustus 1993, atas inisiatif beliau, saya diperkenankan berangkat mencari ilmu bersama putera beliau Gus Ghofur ke Universitas Al-Azhar Kairo. Mimpi itu sudah saya lupakan. Saya memang sering tidak percaya dengan mimpi saya sendiri. Apa sih arti mimpi seorang saya yang doyan tidur ini? Paling hanya bunga tidur.
Sewaktu di Mesir saya sangat ingin pergi haji. Tahun 1994 saya tidak bisa pergi haji. Demikian juga pada 1995, saya juga tidak bisa pergi haji karena bersamaan dengan ujian. Akhir Desember 1995, bulan Rajab, saya punya kesempatan pergi Umrah ke Tanah Suci.
Saat saya melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, Ka’bah dalam keadaan tidak banyak orang yang thowaf, sehingga saya bisa melihatnya dengan leluasa, mungkin karena bulan Rajab, tidak banyak orang berumrah. Saat itu juga saya banyak beristighfar dan bertasbih, karena langsung teringat dengan mimpi saya dua tahun lalu. Mimpi yang ditanyakan Yai di siang harinya. Saat beliau pinarak di rumah saya.
Bersyukurnya lagi, waktu itu saya juga sempat sowan ke kediaman Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, di Mekkah. Saya diterima beliau di dalam kamarnya. Saya masih ingat betapa bahagianya saya waktu itu, karena saat saya meminta ijin untuk memijat kaki sayyid Muhammad, beliau berkenan. Berbeda dengan Yai yang suka dipijat dengan tekanan yang keras, Sayyid Muhammad minta pijatan yang pelan.
Ya Allah mimpi yang sempat ditanyakan Mbah Moen waktu itu menjadi kenyataan. Mungkin waktu itu mimpi yang saya ceritakan itu didoakan Yai.
Ya Allah. Beliau berdua Adalah wali-wali Allah yang saya cintai dan kagumi. Kaki beliau berdua pernah saya pijat dengan tangan saya yang hina ini.
Kesamaan beliau berdua yang saya saksikan adalah: sama sama dermawan dan sama sama ramah dan suka menghormati tamu.
Dan kini beliau berdua beristirahat berdekatan di tempat yang mulia maqbarah Ma’la. Dekat ibunda Khadijah Al-Kubra.
اللهم اغفر لهما وارحمهما وأدخلهما فى جنتك. أمين.
Semoga kita semua dikumpulkan Allah bersama mereka. Para ahli Surga. Amin.
Penulis: Tsalis Muttaqin, santri Mbah Maimoen.
Ditulis dengan mata yang berkaca kaca menahan kesedihan dan haru.
Makamhaji, 8 Zulhijjah 1440 H. 00.45 WIB.








