Nur Kholik Ridwan

Menjaga Waktu Pagi dan Sore, Dilaporkannya Catatan Amal Harian Seorang Hamba

Posted on

Oleh: Nur Kholik Ridwan, Pembina Yayasan Bumi Aswaja dan Pengasuh PP Bumi Cendekia Gombang, Yogyakarta.

Rosulullah shollallohu `alaihi wasallam bersabda: “Mereka (datang silih berganti) mengawasi kalian, yaitu malaikat malam (pencatat amal malam) dan malaikat siang (pencatat amal siang), dan mereka berkumpul di dalam Sholat Fajr dan Sholat Ashr. (Setelah itu) Naiklah mereka yang mengawasi kalian semalam suntuk, maka bertanya kepada mereka, Robb mereka dan Dia lebih tahu tentang mereka: “Bagaimana engkau meninggalkan hambaku?” Mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka, dan mereka sedang sholat, dan kami mendatangi mereka dan mereka sedang sholat” (HR. Bukhori, No. 555, versi Maktabatur Rusyd, 2006/1427, hlm. 81).

Hadits di atas, selain diriwayatkan Imam Bukhori juga diriwayatkan Imam Muslim (No. 210 dan 623), Nasa’i (No. 485), Malik (No. 82); dan Musnad Ahmad (II: 257), dan Misykatul Mashobih (No. 626). Ibnu Mulaqqan dalam AT-Taudhih, menyebutkan tambahan hadits ini: “Dan di dalam riwayat Abul Qosim al-Judzi (disebutkan soal hadits ini), mereka (para malaikat) saya kira berkata: “Faghfirlahu yaumaddin/maka ampunilah mereka di hari kiamat” (Ibnu Mulaqqon, AT-Taudhih li Syarhil Jami`ish Shohih, versi Wuzaratul Auqaf wasy Syu’un al-Islamiyah, Qatar, 2008/1429, VI: 194).

Dalam penjelasan hadits ini, Mulla Ali Al-Qori yang mensyarahi Misykatul Mashobih, dengan judul Mirqotul Mafatih ala Syarhi Misykatil Mashobih, menyebutkan: “Maka turunlah Malaikat Siang sebelum fajar dan naik setelah ashar, Malaikat Malam turun sebelum ashar dan naik setelah fajar” (Mulla Ali al-Qori, Mirqotul Mafatih, I: 299).

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sedangkan Ibnu Mulaqqon yang mensyarahi shahih Bukhari berkomentar: “Ketiga, berkumpulnya mereka di dalam fajr dan ashar, itu adalah termasuk kelembutan Allah terhadap hamba-Nya yang mukmin dan pemuliaan terhadap mereka, bahwa Allah menjadikan berkumplnya para malaikat di sisi mereka (kaum mukminin) dan berpisahnya malaikat atas mereka (kaum mukminin), ada di dalam waktu-waktu ibadah, dan berkumpulnya mereka pada waktu taat kepada Robb mereka. Maka mereka menjadi saksi atas kaum mukminun dengan apa yang disaksikan berupa kebaikan.”

“Keempat, mereka para malaikat adalah al-Hafazhah menurut kebanyakan (ulama), dan pertanyaan Alloh atas mereka dengan perkataan: “Bagaimana engkau tinggalkan hamba-Ku?”, sesunggnya itu soal tentang perintah Alloh kepada mereka dari tugas penjagaan mereka, bagi amal-amal mereka, dan mencatatnya atas amal-amal itu…” (Ibnu Mulaqqon, At-Taudhih, IV: 195).

Waktu pagi itu juga waktu yang didoakan Nabi Muhammad, agar umatnya memperoleh keberkahan. Disebutkan dalam sebuah riwayat, dari sahabat Shokhr al-Ghomidiy, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” Apabila Nabi shollallohu mengirim peleton pasukan, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri adalah seorang pedagang. Dia membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta” (HR. Abu Daud, No. 2606, versi Baitul Afkar ad-Dauliyah, hlm. 290).

Dalam syarah Aunul Ma’bud `ala Syarhi Sunan Abi Daud, yang disusun Al-Muhaddits Abdurrahman Syaraful Haqq al-Azhim Abadi sh-Shiddiqi, disebutkan: “Fi bukuriha” artinya pada pagi dan awal siangnya… berkata al-Mundziri, hadits ini dikeluarkan juga oleh Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Tirmidzi mengatakan, hadits Shokhr al-Ghomidhi adalah hadits hasan” (Al-Abadi, Aunul Ma’bud ala Syarhi Sunan Abi Daud, versi Dar Ibnu Hazam, Beirut, 2005/1426, hlm. 1185).

Dengan adanya khabar dari Kanjeng Nabi di atas, menunjukkan bahwa waktu pagi dan sore adalah waktu yang penting bagi pesuluk di jalan Alloh dan orang-orang mukmin, yaitu waktu di mana laporan amal harian seorang hamba dihadapakan kepada Robb semesta alam. Seorang hamba tentu akan berbahagia apabila laporan yang diberikan malaikat kepada Robb semesta alam itu adalah laporan yang baik. Karenanya, orang-orang sholih dan pesuluk di jalan Alloh senantiasa memelihara waktu-waktu pagi dan sorenya, agar ketika dilaporkan kepada Robb semesta Alam, mereka dalam keadaan tidak lalai.

Tentang laporan amal-amal ini, selain durasinya harian, dalam penjelasan riwayat yang lain, ada yang berdurasi mingguan, dan tahunan. Laporan mingguan ada pada hari Jumat, laporan setahun ada pada malam Nishfu Sya’ban, sebagaimana hal ini dibahas dalam tulisan tersendiri. Hikmah dari ini, adalah agar hamba senantiasa awas dan mengisi hari-harinya dengan kebaikan-kebaikan, dan berusaha keluar dari kemaksiatan-kemaksiatan, dan segera bertaubat. Bahwa seorang manusia, ada malaikat-malaikat yang mencatat amalnya, dan melaporkannya setiap hari kepada Alloh.

Baca Juga >  Kolom KH Henry Sutopo: Aku dan Tiga Santri Nakalku di Tengah Hujan Deras

Beberapa yang penting dilakukan dalam mengisi waktu pagi dan sore, di antaranya:

Menjaga sholat shubuh dan Ashar
Terdapat riwayat dari Umaroh bin Ruwaibah, berkata: “Saya mendengar Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk api neraka, seseorang yang sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, yakni al-fajr dan al-ashar” (Miyskatul Mashobih (No. 624); Muslim (No. 213 dan 634), Abu Dawud (No. 427), Nasa’i (No. 471) dan tidak menyebut “yakni al-fajr dan al-ashar”.

Menurut Mulla Ali al-Qari, maksud dari menjalankan sholat di sini adalah “dawamu ada’iha” (kontinyu menjalaninya)… Dan Nabi mengkhususkan dua waktu sholat ini (fajr dan ashar), karena shubuh itu waktu enaknya tidur, dan ashar adalah waktu istighol dalam tijaroh…Dua waktu ini, waktu yang disaksikan, yang malaikat malam dan malaikat siang menyaksikan, yang mengangkat di dalam dua waktu itu, amal-amal hamba” (Mulla Ali al-Qori, Mirqotul Mafatih `ala Misykatil Mashobih, I: 299).

Tentang sholat ashar, Al-Qur’an juga menjelaskan: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha (sholat ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’” (QS. Al-Baqoroh [2]: 238).

Memperbanyak Bertashbih
Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang memerintahkan ini, di antaranya:

1. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang” (QS. Thoha [20]: 30).

2. Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh (QS. Ar-Rum [30]: 17).

3. Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi (QS. Al-Ghafir/Al-Mu’min [40]: 55.

Berdzikir setelah Shubuh dan Setelah Ashar

Terdapat beberapa Riwayat dalam soal ini, di antaranya:

1. Riwayat dari jalan sahabat Abu Umamah, Nabi Muhammad bersabda: “Barangsiapa sholat shubuh di masjid secara jama`ah, dan berdiam (untuk berdzikir) sampai paginya dhuha, maka ia (menjalankan amal) memperoleh pahala orang haji dan orang umrah secara sempurna, dengan haji dan umrahnya” (HR. Thabrani, Al-Mu’jamul Kabir, No. 7649; Jam’ul Jawami’, No. 22047/3551).

2. Dari Qotadah dari Anas bin Malik berkata: “Rosulullah shollallohu `alaishi wasallam berkata: “Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah Ta`ala mulai dari waktu sholat shubuh hingga terbit matahari, lebih aku cintai daripada memerdekakan 4 budak dari putra Ismail. Dan aku dududk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari mulai sholat sampai terbenam matahari lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak putra Ismail (HR. Abu Dawud, No. 3667, versi Baitul Afkar ad-Dauliyah, hlm. 405).

3. Dari Simak bin Harb berkata: “Saya bertanya kepada Jabir bin Samuroh: “Apakah engkau sering duduk bersama Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam?” Jabir menjawab: “Iya. Banyak. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam tersenyum” (HR. Muslim No. 670/286, versi Darul Kutub al-Ilmiyyah-Daru Ihya’i al-Arabi, 1991/1412, I: 463).

4. Dari riwayat Imam Muslim, melalui Jabir bin Samuroh, juga diceritakan bahwa “Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam apabila sholat fajar dia duduk di tempat sholat sampai terbitnya matahari, secara baik” (HR. Muslim, No. 670/287).

Bagi orang yang melakukan tijaroh dn pekerjaan yang halal dan mengharuskan datang lebih pagi, tentu saja, lebih bik baginya adalah mencari menjalani pekerjaan halal itu sembari berharap memperoleh keberkahan dalam pekerjaannya itu. Dzikirnya bisa dilakukan di sore hari, atau di malam hari. Dan termasuk dalam amal-amal baik pagi dan sore adalah juga ta’lim dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Wallohu a’lam.