Menguatkan Iman dari Kisah Pohon Kurma

Menguatkan Iman dari Kisah Pohon Kurma

Menguatkan Iman dari Kisah Pohon Kurma

Pohon Kurma dan Iman

Perumpamaan kalimah thoyyibah dalam Al-Qur’an seperti pohon kurma.

“Perumpamaan kalimah yang baik seperti halnya pohon yang baik, akarnya menancap kokoh sedang cabang menjulang di awan, pohon itu memberikan buah-buahannya setiap masa dengan izin Tuhannya”.

ألم تر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء تؤتي أكلها كل حين بإذن ربها ويضرب الله الأمثال للناس لعلهم يتذكرون

Pohon kurma, satu-satunya pohon di dunia yang tidak bisa roboh. Kalau pun roboh, Hal itu sebagai mu’jizat Nabi Hud di Yaman Arab selatan.

تدمر كل شيء

Sampai sekarang kalimah thoyyibah itu tidak akan tumbang dan kokoh tertancap di bumi, cabang-cabangnya ada di langit ini, memberi buah-buahan tanpa memandang waktu kemarau maupun waktu penghujan.

Begitu pula dengan iman, menancap kuat di hati dan tanda iman itu akan terlihat dengan jelas. Perbuatan yang dahulunya tidak ada harganya di mata ALLOH, dengan adanya iman berubah menjadi berharga dan diberi pahala (hal ini sebagai buah iman). Misal puasa yang dilakukan orang yang tanpa iman tidak diterima, akan tetapi dengan iman akan menjadi sesuatu hal yang mampu mendekatkan diri kepada ALLOH.

Akan tetapi pohon kurma tidak akan menghasilkan buah apabila tidak dirawat, diairi oleh petani.

Begitu pula iman akan menghasilkan amal yang diperhitungkan apabila dirawat dan disirami dengan ilmu agama (dalam hal ini, ilmu agama diibaratkan air).

Sebagai mana contoh, makan yang tanpa didasari niat baik, hanya menghilangkan lapar, akan tetapi dengan diniati shodaqoh kepada diri, penguat ibadah, mengikuti Rosululloh, dan niat yang lain-lain dalam makan, maka dengan hanya makan satu kali akan mendapatkan beberapa pahala niat yang baik dalam makan.
Dan hal ini karena pengetahuan. Inilah pentingnya ilmu agama.

Demikian ulasan khusus terkait Menguatkan Iman dari Kisah Pohon Kurma. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin

Penulis: Kanthongumur, alumni Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *