tafsir al ibriz karya kiai bisri mustofa

Mengenal Tafsir Berbahasa Jawa dalam Kitab Al-Ibriz Karya Kiai Bisri

Posted on

Al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa itu tafsir berbahasa Jawa. Tapi, uniknya, konteks berbahasanya berbeda dengan tafsir berbahasa Jawa lain, seperti al-Iklil fi Ma’ani at-Tanzil yang ditulis adik Kiai Bisri, KH. Misbah Zainal Musthofa. Juga berbeda dengan Kur’an Jawi, terjemah KH. Raden Bagus ‘Arfah dari keraton Surakarta. Semua berbahasa Jawa, tapi corak berbahasa Jawanya berbeda.

Kiai Bisri menggunakan bahasa Jawa Tengah Pantura, yang bloko sutho, das-des, dan enggan basa-basi. Sedangkan Kiai Misbah menggunakan bahasa Jawa ala Jawa Timuran, karena beliau tinggal di Tuban. Ulasannya biasanya lebih panjang dibandingkan dengan penjelasan kakaknya. Kalau Kiai Raden Bagus ‘Arfah lebih halus lagi, karena Selain menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, konteks penulisannya saat itu memang karena untuk kepentingan dakwah ala Keraton Surakarta.

Yang pasti, ketiga tafsir ini sekaligus menjadi freezer budaya, alias “pengawet kata” bahasa Jawa. Pasalnya banyak sekali kata dalam bahasa Jawa yang dipakai dalam ketiga tafsir tersebut, yang justru saat ini tidak lagi digunakan dalam percakapan keseharian orang Jawa.

Dalam penafsiran QS. Al-Fil, yang saya bacakan Rabu kemarin lusa, Kiai Bisri menggunakan beberapa istilah Jawa yang saat ini nyaris “punah” karena tidak lagi dipakai, misalnya Thoiron Ababil(طيرا ابابيل) dimaknai sebagai “manuk kang anggolong-nggolong”. عصف alias dedaunan diartikan “rambanan”. Lantas, dalam uraiannya beliau menggunakan istilah Jawa yang sekarang tampak asing seperti :

Baca Juga >  Kolom Gus Nadir: Islam yang Bagaimanakah yang Lebih Baik?

“Gawok/Anggawok’ake” (Takjub, membuat kagum)

“Kapitunan” (penyesalan?)

“Dempyok-dempyok/dampeyak-dampeyak” (berbondong-bondong)

“Bosah-baseh” (kocar-kacir/porak poranda?)

“Ajur mumur koyo telethong” (hancur lebur seperti tahi sapi)

“Bendu” (benci, marah)

****
Perhatikan berbagai istilah ini. Kosa kata ini masih populer ketika Kiai Bisri menulis al-Ibriz tahun 1950-an hingga satu dasawarsa berikutnya. Namun dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, semakin sedikit yang menggunakannya dalam konteks penutur-pendengar.

Kalaupun masih ada yang menggunakan, biasanya kalangan pesantren yang masih memakainya dalam konteks transfer pengetahuan melalui metode utawi iki-iku dalam kajian kitab kuningnya.

Bagi saya, kitab berbahasa Jawa telah menjadi freezer, pengawet kebudayaan; karena kita bisa melacak jejak leluhur kita dalam berbahasa, sekaligus konteks penggunaan bahasanya, dan sudut pandang pengetahuan yang ingin disampaikan oleh muallif, mufassir, maupun transmiter pengetahuannya (kiai yang mengajarkan sebuah kitab berbahasa Arab dan memaknainya dengan bahasa Jawa, menggunakan metode bandongan [seminar]).

Selamat belajar, selamat menikmati “kosa-kata” Jawa yang mulai hilang akibat dinamisasi dan akulturasi kebudayaan.

Wallahu A’lam Bisshawab

11 Maret 2020

Penulis: Gus Rijal Mumazziq Z, rektor INAIFAS Jember.