Kelima, kepedulian dan kepekaan sosial. Mengedepankan unsur kepedulian sosial ini juga selalu saya tekankan. Saya mengambil contoh cerita Mbah Ali Maksum saat kakak beradik Gus Mus dan kakaknya almarhum Kyai Kholil mondok. Allahu yarhamhum. Saat itu Yai Kholil tidak mengaji sorogan, terus kata mbah Ali ke Gus Mus, ayo kowe sek tak hukum. Lho kok saya pak, protes Gus Mus. Yo kuwi tanggung jawabmu juga, opo yo kowe arep pinter dewe, arep mlebu surgo dewe, bidadarine arep tok pek kabeh dewe.
Imajinasi saya, kira-kira kalimat-kalimat seperti itu yang diungkapkan Mbah Ali yang memang suka guyon. Hehehe. Itu juga coba saya terapkan ke santri. Kalau ada teman sekamarnya tidak datang ngaji, teman sekamarnya yang ngajilah yang saya hukum. Kalau ada anak keluar mbolos, tidak ada yang lapor, maka anak satu kamar yang dihukum.
Tentu masih banyak lagi sebenarnya yang bisa diuraikan dari proses-proses pembelajaran santri di pesantren, baik yang sudah dapat dijelaskan oleh ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi, sosiologi, maupun yang belum, misal terkait barokah, jariyah, ijazah, maupun yang lainnya. Bagaimanapun proses pembelajaran santri di pesantren itu berlaku 24 jam, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Juga berlaku mulai saat masuk pesantren dan tidak berakhir hingga anak turun si santri. Ada banyak akhlaq dan ragam silaturahmi yang harus dijaga oleh santri. Dari sinilah makanya berlaku semboyan, sekali santri, selamanya adalah santri.
Butuh keberanian untuk memasukkan anak ke pesantren dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ditawarkan pesantren. Alhamdulillah, lulusan pesantren yang tenanan tentunya tidak ada yang tidak sejahtera terutama secara psikologis, spiritual, dan juga sosial. Hanya saja, saya juga tidak ingin terlalu mempromosikan pondok pesantren, karena bagaimanapun mengasuh anak orang itu tanggung jawab yang berat, mengasuh anak sendiri saja berat. Hehehe.
Pesantren memang tidak untuk dipromosikan, tidak berani terlalu mengiklankan diri. Karena sebenarnya memondokkan anak itu butuh kerelaan dan keikhlasan yang luar biasa juga dari orang tua. Ini yang berat dan sekali lagi sulit terutama bagi orang tua yang tidak terlalu tahu dunia pesantren. Memasukkan anak ke pesantren itu membutuhkan kepahaman, kesadaran, kepasrahan, dan keikhlasan orang tua
. Tanpa itu, yang biasanya terjadi adalah ketidakkompakan sesama orang tua yang diamanahi, yaitu orang tua kandung dan orang tua di pesantren. Nah, yang akan terjadi adalah anak akan cari celah untuk berperilaku yang tidak diharapkan.
Wallahu aβlam bisshowaab….
(Ibu Nyai Maya Fitria adalah Dosen UIN Sunan Kalijaga dan Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta)








