Mengapa Kiai Wahid Hasyim Pernah Minta Bung Hatta Jadi Ketum PBNU?

Mengapa Kiai Wahid Hasyim Pernah Minta Bung Hatta Jadi Ketum PBNU?

Mengapa Kiai Wahid Hasyim Pernah Minta Bung Hatta Jadi Ketum PBNU?

Usai wafatnya Ketum PBNU KH Machfudz Shiddiq, kakak Kiai Achmad Siddiq Jember, pada tahun 1944, para kiai sibuk mencari pengganti. Adalah Kiai Wachid Hasjim yang mengusulkan nama Mochammad Hatta waktu sudah terkenal di masa Jepang untuk dicalonkan jadi posisi Ketum PBNU. Para kiai terkejut. Namun meminta Kiai Wachid sendiri menyampaikannya ke Bung Hatta langsung pas ke Jakarta.

Pada saat ke Jakarta, Kiai Wahid menyampaikan suara para kiai NU itu ke Bung Hatta. Beliau berterima kasih atas kepercayaan itu. Namun beliau beum menyanggupi untuk menjadi pemimpin di ormas Islam terbesar itu. Selain karena situasi represif militer Jepang atas kegiatan ormas Islam, juga karena kesibukan rencana persiapan kemerdekaan Indoensia. Usulan itu pun kemudian dipending. Untuk sementara Kiai Masjkoer diminta menjadi Ketum Tanfdiziyah PBNU.

Pertanyaan kita, mengapa Kiai Wahid begitu percaya pada Bung Hatta untuk memimpin NU?

Ternyata saya temukan satu tulisan Bung Hatta yang bikin kagum bapaknya Gus Dur itu: ada satu tulisan Bung Hatta dalam Gedenkboek Indonesische Vereeniging di bulan Februari 1924 yang menegaskan posisi umat Islam Indonesia jangan seperti Muslim di negara lain yang membantu imperialisme Inggris mencaplok negara-negara Arab dan Irak! Lihat foto.

Setelah kemerdekaan, tawaran Kiai Wahid untuk posisi Ketum PBNU itu tidak lagi muncul. Ini bersamaan dengan dukungan Hatta kepada faksi modernis-puritan dalam Masyumi yang mulai condong mengikuti apa maunya blok imperialis Amerika sejak 1948, hingga ada skandal Mutual Security Act di tahun 1951, hingga keterbukaan Partai Masyumi kepada kapitalisme global, lalu NU keluar dari Masyumi di 1952 melanjutkan “chittah perdjuangan Masjumi” (istilah populer di tahun 1950 sebelum munculnya khittah NU) warisan Hadlratusysyekh KH Hasyim Asy’ari Rais Akbar Dewan Syuro Masyumi.

Lahumul Fatihah.

Penulis: KH Ahmad Baso, intelektual NU dan penulis buku-buku tentang NU.

*Melengkapi artikel Mengapa Kiai Wahid Hasyim Pernah Minta Bung Hatta Jadi Ketum PBNU? ini, menarik menyimak pendapat Gus Baha yang memberikan tanggapan terkait fitnah yang sering dialamatkan kepada PBNU sebagai agen dan sarang kaum liberal. Selengkapnya, simak video ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *