barokahe nu

Memahami Barokah: Kisah Tentang Anjing dan Kambing

Posted on

Oleh KH Moch Sobir Hatimy, Wakil Ketua PCNU Bantul

Adalah Syaikh Ibrahim bin Adham, suatu ketika pernah terlibat dialog dengan salah seorang “zindiq” yang tidak percaya akan eksistensi barokah.

Zindiq itu berkelakar :  “Yang namanya barokah itu jelas tidak ada, itu hanya mitos saja “.

Mendengar itu, Syaikh Ibrahim bin Adham lantas menanggapi-nya dengan bertanya.

“Pernahkah kamu melihat anjing dan kambing?” kata Syaikh Ibrahim.

“Iya, tentu ,” kata bapaknya.

“Mana dari keduanya yang lebih banyak ber-reproduksi dalam melahirkan anak-anaknya ?”

“Pastinya anjing,  anjing bisa melahirkan sampai 7 anak anjing sekaligus. Sedangkan kambing hanya mampu melahirkan paling banyak hanya 3 anak kambing saja,”

“Coba perhatikan lagi di sekelilingmu, manakah yang lebih banyak populasinya antara anjing dan kambing ?” tanya Syeikh Ibrahim.

“Aku lihat kambing lebih mendominasi, jumlahnya lebih banyak dibandingkan anjing .”

“Bukankah kambing itu sering disembelih? Entah itu untuk keperluan hidangan jamuan tamu, prosesi kurban Idul Adha, acara aqiqah, atau momen istimewa dan hajat lainnya? Tapi ajaibnya spesies kambing tidak kunjung punah dan bahkan jumlahnya justru nampak melebihi anjing?” jelas Syaikh Ibrahim.

Baca Juga >  Kisah Kiai Umaruddin Membimbing Masyarakat Masuk NU

“Iya, iya, betul sekali .”

“Begitulah gambaran BAROKAH ,” tegas Syeikh Ibrahim.

“Jika tamsilnya begitu, lalu kenapa justru kambing yang mendapat berkah, bukan anjing ?”

Syaikh Ibrahim bin Adham kemudian menutup dialog itu dengan jawabannya yang cukup menyentil:

لأنّ الأغنامَ تَنومُ أوّلَ الليلِ و تصبحى قبلَ الفجر فتدرك وقت الرحمة فتنزل عليها البركة ،،، وأما الكلاب تنبح طول الليل فإذا دَنا وقت الفجر هجست ونامت ويفوت عليها وقت الرحمة فتنزع منها البركة

“Karena kambing lebih memilih tidur di awal petang tapi, ia selalu bangun sebelum fajar, di saat itulah ia mendapati waktu yang penuh dengan rahmat, hingga akhirnya turunlah berkah kepadanya. Beda halnya dengan anjing, ia suka menggonggong sepanjang malam, tetapi di saat menjelang fajar ia malah pergi tidur sampai melewatkan saat-saat turunnya kucuran rahmat dan ia pun tidak kebagian berkah.”

Mugi-mugi manfangat .