Masyarakat Ekonomi NU

ekonomi nu

Tidak masalah dikatain ngomongin NU melulu sama Amin Mudzakkir, karena khusus hari ini adalah Hari lahir NU.

Kali ini soal gerakan ekonomi NU.

Tidak banyak yang mendefinisikan massa besar NU sebagai potensi ekonomi. Sebagia besar orang menganggap massa NU sebagai massa politik electoral, tidak beranjak dari zaman NU menjadi partai politik 1952. Di antara yang tidak banyak itu, saya kira adalah KH As’ad Said Ali dan shohibnya KH Masyhuri Malik.

Dari sisi ekonomi, jumlah massa NU yang bebagian besar dari kalangan menengah ke bawah itu bukan beban. Ini mungkin sama dengan semangat orang-orang China, negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.

Sebaliknya jumlah itu bisa menjadi potensi ekonomi yang besar sekali. Massa yang besar, puluhan juta itu adalah pasar. Ada produsen, ada pengiklan, ada distributor, ada konsumen. Bahkan praktiknya semua orang bisa memerankan kesemuanya. Semua kebutuhan pasar disediakan dan dicukupi dari lingkungan sendiri.

Perlu dikembangkan terma “Masyarakat Ekonomi NU”. Gerakan kecilnya sudah dimulai. Para pentolan Kader Penggerak NU seperti Amir Ma’ruf  melakukan gerakan kecil pengumpulan koin NU di sejumlah daerah. Istilahnya koin, tapi praktikya pasti tidak hanya koin limaratusan yang terkumpul, tetapi juga uang kertas warna biru dan merah. Hasil gerakan koin NU yang sekarang menjadi gerakan nasional PBNU itu telah menjelma rumah sakit NU, sekolah-sekolah, bahkan modal usaha.

Tidak berlebihan jika dikatakan, besarnya dana sumbangan politisi sekelas anggota DPR RI pun, tidak akan pernah sebanding dengan koin yang dikumpulkan warga. Dulu program i’anah syahriah atau iuran warga NU terkikis gara-gara NU menjadi parpol. Sekarang gerakan ini bangkit kembali. Beberapa pengurus NU bahkan dengan bangga menolak sumbangan politisi di acara NU. Jadi mereka boleh sekedar datang.

Banyak minimart NU berdiri di beberapa derah, seperti KIMONU yang diresmikan Ketua PCNU Kota Bogor Ifan Haryanto ini. Sebagian produk beberapa ritel NU memang masih berasal dari distributor besar. Tapi secara bertahap produk-produk yang dipasarkan akan berasal dari kalangan sendiri, atau dikasih merek sendiri.

Semangat “membeli produk kalangan sendiri” atau “berbagi rizki dengan membeli produk tetangga sendiri atau produk sesama nahdliyin” bisa menjadi salah satu kunci.

Syahdan di zaman online, banyak terobosan ekonomi bisa dilakukan. Generasi pra-milenial NU seperti Hamzah Sahal, Savic Ali, Syaifullah Amin saja cukup terdepan di dunia online, apalagi generasi milenialnya yang ashli pakek shod.

Penulis: A Khoirul Anam, wartawan senior NU Online dan dosen UNU Indonesia Jakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *