Jamaah Haji
Ilustrasi

Masuk Surga Tidak Harus Naik Haji

Posted on

Oleh KH Henry Sutopo, Krapyak Yogyakarta.

Daftar tunggu calon jamaah haji di daerahku DIY saat tulisan ini kubuat (2017) adalah sampai Tahun 2034. Artinya dari mendaftar hingga berangkat harus nunggu kurang lebih 17 tahun, bahkan ada yang lebih lama.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Bahasa guyon, saking lamanya daftar tunggu ada yang nyelethuk, ‘itu mending saatnya berangkat belum Kiamat.’ Tapi saya yakin orang yang sudah daftar InsyaAllah sudah dicatat dan sudah GUGUR kewajiban hajinya. Niyyatul mar i khoirun min ‘amalihi. Niat seseorang lebih baik dari amalnya (alhadis).

Animo umat Islam yang demikian tinggi untuk menunaikan haji di Indonesia bisa jadi ada beberapa faktor antara lain :

1. Kesadaran umat Islam yang semakin tinggi untuk beribadah haji.
2. Tingkat ekonomi yang meningkat.
3. Atau faktor yang lain.

Yang jelas keinginan umat Islam untuk bisa masuk surga dengan lantaran beribadah haji juga semakin tinggi. Walau ada juga orang naik haji dengan motivasi cari “prestise”.

Menunaikan haji dalam berbagai kesempatan selalu yang diiming-imingkan adalah surga sebagai balasannya. Wal hajjul mabruuru laisa lahu jazaaun illal jannata… Dan haji yang mabrur tiada lain balasan melainkan surga (Alhadis).

Hadis Muttafaq ‘alaihi itulah yang kemudian terpateri dalam benak setiap muslim.

Bahwa untuk bisa masuk surga “seakan akan” hanya dengan cara naik haji. Hal tersebut kurang difahami bahwa itu untuk haji yang mabrur, sedangkan predikat haji mabrur tidak semudah telinga mendengar ceramah kupasan hadis tersebut.

Tidak sedikit orang muslim awam yang lupa bahwa untuk bisa menjadi penghuni surga banyak JALAN nya selain dari pada haji yang mabrur. Banyak dalam ayat suci Alquran yang menjelaskan tentang orang-orang yang dijanjikan surga oleh Allah SWT semisal Annisaa’ 122 :

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Albaqoroh 25:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.”

Alhajj 23:

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.”

Dan masih banyak ayat ayat yang lain.

Yang disebut orang yang beriman tingkat yang paling rendah adalah orang yang dalam hatinya walau cuma sebesar biji sawi mengakui adanya Allah SWT, itu berarti sudah digaransi bakal masuk surga.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Nabi SAW bersabda :

“Iman itu mempunyai tujuh puluh tujuh cabang, yang paling utama adalah ucapan LAA ILAAHA ILLALLAH, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan benda yang membahayakan dari jalan, punya rasa malu juga cabang dari iman.” )Alhadis)

Beramal saleh bentuk dan macamnya tidak terhitung. Setiap aktifitas kebaikan yang diniati mencari Ridho Alloh itulah amal saleh, sehingga setiap orang bisa mengerjakan. Tidak seperti ibadah haji yang memerlukan persyaratan dan kemampuan tertentu.

Dengan demikian, jelaslah bahwa untuk bisa masuk surga tidak harus Ber HAJI lebih dulu. Jaminan surga bagi haji mabrur harus difahami dalam konteks TARGHIB, memotivasi untuk melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya dan menggapai kemabrurannya.

Semakna pula jika ada anggapan bahwa ooa yang dikabulkan adalah doa yang dibaca di saat umroh atau haji. Ini juga harus disampaikan pengertian yang lengkap kepada orang Islam yang masih awam bahwa hal ini tidak benar.

Sehingga sering terjadi ketika orang punya HAJAT kepentingan, Ia memaksakan harus umroh, harus haji karena doa yang terkabul hanyalah doa yang dilantunkan di Roudhoh dalam Masjid Nabawi, di Multazam, di Maqom Ibrahim, di Arafah dan sebagainya.

Orang yang punya pemahaman seperti itu bisa disebut orang yang MENGKAPLING GUSTI ALLOH SWT seakan akan Alloh SWT hanya berada di kedua Tanah Suci itu. Padahal Alloh SWT selalu berada di dekat hambaNya yang sedang berdoa.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku akan mengabulkan doa orang yang memohon kepadaKu apabila ia berdoa kepada Ku.” (Al Baqoroh ayat 186)

Jadi berdoa itu bisa dimana saja, kapan saja, tentunya dengan memperhatikan adab tata kerama doa seperti yang sudah banyak dikaji dan diajarkan oleh para Kyai atas dasar petunjuk Rasulullah SAW.

Termasuk pula jika ada “PENGGIRINGAN OPINI” bahwa doa itu monopoli dan wilayahnya KYAI. Ini juga tidak benar. Belum pasti doa orang yang bukan Kyai tidak akan terkabul. Sebaliknya doa Kyai pasti terkabul, sehingga orang harus berbondong-bondong sowan Kyai jika ingin doanya terkabul.

Tulisan ini kalau dibaca dan difahami secara runtut dari atas, orang bisa menyimpulkan bahwa yang menulis adalah:

1. Orang yang belum pernah haji dan umroh.

2. Kalau sudah pernah haji dan umroh tentu orangnya tidak punya Biro BIMBINGAN HAJI DAN UMROH.

3. Penulisnya bukan Kyai atau kalau dia Kyai… adalah Kyai yang tidak punya Santri dan Jamaah yang sering sowan untuk minta Doa… Alias KYAI TIDAK LAKU.

Jujur… Kesimpulan itu benar 100%. Saya penulisnya!… walau demikian saya juga PINGIN MASUK SURGA.

Krapyak 24 Agustus 2017

(Diambil dari Buku Catatan Seorang Santri karya KH Henry Sutopo hal. 319)