Makna dan Hakekat Kekayaan dalam Islam
Mari cermati ayat Al-Quran berikut ini.
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al Baqarah, 214).
Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu.
Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih. Minder karena “Miskin, sering menjadi suatu kegusaran dalam diri ketika kita telah berusaha dan bekerja keras, telah jalani perintah-NYA (Sholat 5 waktu, dhuha, tahajud, zakat, dzikir, Sholawat,doa dll…) namun belum juga diijabah jadi tetap miskin.
Tak perlu minder, apalagi protes pada-NYA.
Seorang anak bertanya kepada ibunya :
“Ibu, mengapa kita miskin?”
Dengan tenang sang ibu berkata:
“Nak, hidup ini seperti jalan-jalan di Supermarket. Semua orang boleh memilih dan membawa barang apa saja yang ia inginkan”. Siapa yang membawa sepotong roti, maka ia harus membayar seharga sepotong roti. Siapa yang membawa tiga potong roti, iapun harus membayar tiga potong roti”.
Sementara kita tak mungkin membawa apa-apa. Karena tak punya uang untuk membelinya”. Di pintu kasirpun kita tak akan diperiksa, dibiarkan jalan begitu saja”. Begitu pula kelak di Hari Kiamat Nak. Saat orang-orang kaya antri menjalani pemeriksaan untuk dimintai pertanggungjawaban. Di saat orang-orang kaya ditanya tentang:
Darimana hartanya mereka peroleh ?
Dan kemana hartanya mereka gunakan ?
Kita dibiarkan terus berjalan tanpa beban, lebih enak bukan ?!.
Apakah engkau masih juga belum bisa menerima ?
“Anakku jika kita memang ditakdirkan menjadi orang miskin. BERSABARLAH SEJENAK,
Karena setelah kematian, kemiskinan itu akan sirna.
Barangkali, jika kita kaya belum tentu bisa lebih bertakwa?!
Mungkin juga, dengan kemiskinan kita akan lebih mudah meraih SURGA-NYA. Karena kaya dan miskin bukanlah ukuran Mulia dan Hinanya manusia. Tetaplah berprasangka baik pada Allah.
Singkirkan rasa iri , cemburu & buanglah tanda tanya tentang jehendak-NYA Pembagi Nikmat.
Mungkin jatah yang buat kita masih tersimpandi Jannah-NYA nenunggu kita siap nenerimanya”.
Rasulullah bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah :
ليس الغنى عن كثرة العرض , ولكن الغنى غنى النفس
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id al Khudri :
ومن يستغن يغنه الله
“Siapa yang menampakkan kecukupan niscaya Allah akan membuatnya kaya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ibnu Baththal menerangkan makna hadits Abu Hurairah, “Hakikat kekayaan bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, karena kebanyakan orang yang diberi kelapangan harta oleh Allah justru tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya. Ia malah berupaya sekuat tenaga menambah hartanya tanpa peduli dari mana harta tersebut diperoleh. Orang yang demikian berarti seperti seorang yang fakir karena ambisinya sangat kuat. Hakikat kekayaan adalah kaya hati, yaitu merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya, qana’ah dengannya, merasa ridha, dan tidak rakus menambah harta, serta tidak memaksa dalam meminta. Orang seperti ini seakan-akan orang kaya.” (Fathul Bari).
أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا مِنكم ويعلم الصابرين
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang² yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Qs al Imran 142).
والله اعلم
Demikian ulasan khusus terkait Makna dan Hakekat Kekayaan dalam Islam. Semoga bermanfaat.
Penulis: Musa Muhammad.







