kh zainal abidin munawwir

Makannya Simbah Kiai Haji Zainal Abidin Munawwir

Posted on

Oleh : KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY

Soal makan Kiai Zainal Abidin Munawwir (Mbah Zainal), Krayak, Yogyakarta, waktu masih muda terlihat biasa-biasa saja. Ya lumrah, sama dengan Kiai Warson (adiknya). Kalau makan mereka berdua sering bareng. Makannya di ndalem Mbah Ali Maksum, karena memang mereka berdua tinggal satu rumah dengan keluarga Mbah Ali. Sebab, Bu Nyai Sukis (Ibunda Kiai Zainal) juga serumah. Rumah yang sekarang di tempati oleh Bu Nyai Ida Zainal. Rumah kuno sederhana dan tidak bertingkat.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kalau sekarang sudah rumah masa kini. Cukup berjubel. Mbah Ali waktu menerima pajekan (makan) santri-santri, tetap tidak semua. Hanya santri yang mau. Yang lain ada yang masak sendiri, sepert Gus Mus, Kiai Masyhuri dan lain-lain. Dan sebagian lagi ada yang makan di warung-warung di sekitar Pondok. Ada warung Pojok, ada warung Bu Dul, ada warung Bu Kaji, atau Bu Sis. Dulu masih belum banyak. Kalau sekarang warung makan di sekitar pondok sudah banyak, sudah 15 kali lipat jumlahnya.

Hanya ketika Kiai Zainal ngunduri (mendekati_red) sepuh, atau kira-kira 10 tahun setelah Mbah Ali Maksum pindah ke rumah utara jalan, beliau makannya semakin berkurang. Katakanlah sejak ditinggal Mbah Ali. Sedikit dan sediki sekali, secaran saja tidak penuh. Lauk kesukannya telur, tahu, atau tempe. Kalau sudah ada salah satu, telur, tahu atau tempe itu, beliau sudah tidak tanya yang lain. Kiai Zainal tidak suka daging-daging yang bernyawa, seperti ikan, kambing, sapi, ayam dan lain-lain.

Baca Juga >  Gus Yahya: Hukum Jati dan Penjelasan KH Yusuf Hasyim tentang Kiai Tebuireng

Mungkin karena beliau sudah sepuh dan alim, sehingga perasaan sayang terhadap semua makhluk sangat tinggi. Ya, Kiai Zainal kalau makan tidak suka lauk daging yang disembelih. Mereka sama-sama makhluk, hamba Allah, kenapa kita manusia semena-mena? Sikap dan rasa kasih sayang ini sangat jauh dari kita. Kita tidak sampai ke situ. Kalau makan yag penting halal dan baik itu saja. Malah ada juga yang ndalil, Litarkabuu Minha, Wamin Haa Ta’kuluun…He he… wong kyai kok didalili…?
Allahu yarham
Krapyak, 26-03-2015