Kisah Perihnya Menahan Rindu untuk Kekasih

Romantisme Kaum ‘Udri: Kisah Perihnya Menahan Rindu untuk Kekasih

Romantisme Kaum ‘Udri: Kisah Perihnya Menahan Rindu untuk Kekasih.

Diantara kaum-kaum yang beruntung, adalah kaum yang sedang dimabuk asmara. Merindu dan dirindu menjadi menu utama. Namun siapkah anda menjadi bagian darinya? Untuk menahan sakitnya tak bisa berjumpa.

Jika kita membayangkan kata romantisme, maka sekejap pikiran kita tertuju ke Roma di Italia, Barcelona di Spanyol atau Paris di Perancis. Bagaimana Roma dengan patung-patung sebagai simbol cinta. Barcelona yang terkenal hingga diabadikan dalam judul lagu Fariz RM. Atau Paris yang begitu mesranya, sampai menginspirasi Bandung menjadi Paris van Java. Bukan melulu shopping-nya, akan tetapi rindunya. Maka ada ungkapan, Bandung kota rindu.

Imam Ashmu’i, seorang penyair di awal Islam era Khalifah Harun Al-Rasyid menggambarkan batapa romantis kaum ‘Udri dalam syairnya.

Ketika Imam Ashmu’i melintas pada suatu lembah, ada sebuah bayt yang tertulis pada batu.

أَيَا مَعْشَرَ الْعُشَاقِ بِاللهِ أَخْبِرُوا * إِذَا اسْتَدَّ عِشْقٌ بِالْفَتَى كَيْفَ يَصْنَعُ

Wahai para perindu! Demi Allah Kabarkanlah kepadaku, kalau saya merasakan rindu seperti ini apa yang harus diperbuat?

Oleh Imam Ashmu’i dijawab dengan menulis bayt versinya.

يُدَارِي هَوَاهُ ثُمَّ يَكْتُمُ سِرَّهُ * وَيَصْبِرُ فِي كُلِّ الأُمُورِ وَيَخْشَعُ

Jika rindu maka tenanglah, dan bersabar serta khusyu’ dalam setiap hal

Pada hari berikutnya Imam Ashmu’i lewat lagi dan ada tulisan bayt baru yang menjadi balasan atas baytnya

وَكَيْفَ يُدَارِي وَالْهَوَى قَاتِلْ الْفَتَى * وَفِي كُلِّ يَوْمٍ رُوحُ يَتَقَطَّعُ

Bagaimana mungkin aku menenangkan hatiku, sedang cinta itu telah membunuhku. Setiap hari ruhku tercabuti perlahan satu persatu

Setelah itu Imam Ashmu’i menulis lagi

إِذَا لَمْ يُطِعْ صَبْرًا وَكِتْمَانِ سِرِّهِ * فَلَيْسَ لَهُ مِن مَا سِوَى الْمَوْتِ أَنْفَعُ

Kalau tidak sabar, tidak bisa menyimpan rahasia, maka tidak ada lebih baik selain mati saja

Ketika Imam Ashmu’i melewati lembah itu pada hari ketiga, tidak ada jawaban lagi atas bayt yang ia tuliskan, namun terlihat seorang pemuda bersandar pada batu tersebut dengan sudah tidak benyawa. Imam Ashmu’i menyesal karena yang mungkin olehnya bayt tersebut dianggap gurauan, namun direspon serius oleh seorang yang selama ini berbalas bayt dengannya.

Maka ia menuliskan bayt terakhir untuk mewakili curahan hati pemuda tersebut.

سَمِعْنَا أَطَعْنَا ثُمَّ مِتْنَا فَبَلِّغُوا * سَلَامِي إَلَى مَنْ كَانَ لِلْوَصْلِ يَمْنَعُ

Sungguh telah ku dengar dan taati nasehatmu hingga aku mati. Akan tetapi tolong sampaikanlah salamku kepada orang yang telah menghalang-halangi cintaku.

Dari penggalan syair tersebut dapat kita ketahui bagaimana romantisnya kaum ‘Udri, dan dari syair ini pula kita bisa melihat betapa perihnya menahan rindu kepada kekasih kita.

Romantisme ini dapat kita ambil hikmahnya, bahwa untuk mencintai kekasih memerlukan perjuangan dan pengorbanan. ketika kekasih kita jauh di desa, maka akan terasa berat untuk menahan ingin berjumpa. Jika dia ingin belanja, cukup transfernya saja yang sampai kepadanya. Namun jika nekat ingin berjumpa, maka boleh jadi akan ada korban di antara kalian berdua. Ingat, masih musim corona.

Penulis: Hilmi Fauzi, M.Pd., alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan juga alumni Pesantren Krapyak Yogyakarta.

__________
Semoga artikel Kisah Perihnya Menahan Rindu untuk Kekasih ini dapat memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

simak artikel terkait di sini
simak video terkait di sini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *