Nur Muhammad

Kisah Nabi Muhammad 1: Lahirnya Cahaya

Posted on

Oleh: Gus Anis Mashduqi, Sekretaris LBM PWNU DIY.

Nabi Muhammad dilahirkan hari Senin, 12 Rabiul Awal. Jika mengacu kepada tahun masehi, tepatnya 571 M. Cahaya Muhammad menerangi dunia ini, lahir dari seorang perempuan pandai nan mulia dari golongan Quraisy, Aminah putri Wahb.

Ia dilahirkan yatim. Abdullah, sang ayah, putra Abd Al-Muthallib wafat di Madinah, sedangkan Nabi Muhammad masih dalam kandungan ibunya, di Makah.

Terkisahkan Abdullah yang sedang melakukan ekspedisi dagang ke negara-negara Syams, di antaranya ke Gaza, bersama sekelompok kafilah dagang. Ketika sudah menuntaskan ekspedisi berdagang, mereka kembali ke Makah melewati jalur kota Madinah, dan saat itu lah Abdullah menderita sakit. Abdullah berkata, “Biarkan aku tinggal di keluarga paman-paman Bani ‘Adi putra An-Najjar. Abdullah tinggal di sana selama satu bulan dalam keadan sakit dan belum juga membaik.

Para sahabat kafilah mulai berpamitan meninggalkannya dan telah sampai ke Makah. Abd Al-Muthallib bertanya tentang putranya, Abdullah. Mereka menjawab dengan berat, “Kita harus meninggalkannya bersama saudara paman-pamannya dari Bani An-Najjar, ia menderita sakit, tak kuasa melanjutkan perjalanan”.

Abd Al-Muthallib kemudian mengutus putra bungsunya, Al-Haris, untuk menjenguk akan tetapi sesampainya di Madinah, Abdullah telah wafat dan disemayamkan di sebuah lokus daerah An-Nabighah. Segera ia kembali ke Makah untuk mengabarkan berita duka ini. Abd Al-Muthallib merasa sedemikian sedih, begitu juga saudara-saudaranya. Pada saat itu, Nabi Muhammad masih janin di kandungan Aminah. Ayahandanya, Abdullah, meninggal dalam usianya ke 25 tahun di Madinah.

Baca Juga >  Sa'd bin Abi Waqqas dan Kisah Ibunya yang Menolak Masuk Islam

Momentum itu adalah ujian pertama yang ditimpakan kepada seorang anak yang belum terlahir, meski ia tidak tahu apapun hikmah dari semua narasi ini, kecuali nantinya ia akan memahami, bahwa rangkaian takdir sedang menyiapkan dirinya untuk menjadi manusia besar, bersiap menghadapi tugas yang juga teramat besar.

Allah SWT menyampaikan pesan ilahiyah untuk memberikan nama kepadanya Muhammad, pribadi yang terpuji, supaya kelak bertemu antara nama dan perbuatan, berkesesuaian antara al-ism dan al-musamma, bertaut antara bentuk dan substansi.