jin muslim

Kisah Jin dan Dukun dalam Menyebarkan Berita Kenabian Muhammad SAW

Posted on

Sudah sejak jauh-jauh hari, bangsa arab mendengar berita kenabian Muhammad yang mereka peroleh dari mulut dukun. Menurut Imam Abu Fadhl Al-Sabti, dalam al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthofa, para dukun yang meramalkan munculnya Nabi Muhammad sebetulnya bukan cuman Syathih dan Syiq, melainkan juga nama-nama semisal Syafi’ bin Kulaib, Sawad bin Qarib (yang kemudian masuk Islam seperti dalam kisah sebelumnya), Khunafir Najran, Al-Af’a al-Jarhumi, Jadzl al-Kindi, Fathimah binti Nu’man, dan masih banyak lagi.

Belakangan, kabar tersebut terbukti valid. Tetapi masalahnya, bagaimana mungkin informasi dari mulut dukun bisa tepat?

Alasannya adalah karena pada masa-masa itu para jin masih diberi semacam kebebasan untuk mendengar kabar dari langit. Menurut Imam al-Diyar al-Bakri, dalam Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfus al-Nafis, mengutip Wahb bin Munabbah, Syathih mengaku bahwa jin yang menemaninya berpengalaman melakukan itu sejak masa Nabi Musa. Konon, bahkan jin-nya Syathih ini ikut mencuri dengar ‘percakapan’ Nabi Musa dengan Allah di gunung Tursina.

Kemampuan ini akan tetapi merosot sejak diutusnya Nabi Isa. Dengan asumsi bahwa langit terdiri dari tujuh tingkatan, maka pada masa Nabi Isa, para Jin dihalangi (ihtajaba) mendengar kabar dari tiga tingkat langit. Seperti dijelaskan Ibn Abbas, pada masa Nabi Muhammad Saw, ketujuh pintu informasi dari langit sama sekali tertutup bagi mereka.

Ini sesuai dengan keterangan dalam Al-Quran surat Al-Hijr ayat 17-18:

وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ
ﺇِﻻَّ ﻣَﻦِ اﺳْﺘَﺮَﻕَ اﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻓَﺄَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺷِﻬﺎﺏٌ ﻣُﺒِﻴﻦٌ

“Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.”

Apakah dengan demikian para dukun lantas pensiun?

Tentu saja tidak. Mereka masih bisa melakukan banyak hal; berdagang santet, mungkin? Atau jualan jimat dan main ruqyah-ruqyah-an? Pada masa Nabi saja, menurut Imam al-Samarqandi, terdapat setidaknya 5 dukun Yahudi antara lain Ka’ab bin al-Asyraf (dari Madinah), Abu Bardah al-Aslami (dari kalangan Bani Salim), Abu al-Sauda’ (dari Syam), Abd al-Dar (dari Juhainah), dan ‘Auf bin Malik (dari Bani Asad). Salah satu dari mereka inilah yang kemungkinan pernah menyerang Nabi melalui sihir seperti disebut dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam.

Tapi yang jelas, sejak Nabi Muhammad, dan terutama pada masa-masa kehidupan beliau, pintu informasi gaib ditutup rapat. Mereka boleh saja masih menebak-nebak masa depan, tapi tebakan tinggal jadi tebakan. Allah dalam Al-Quran surat as-Syuara ayat 222-223:

تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ يُلْقُونَ ٱلسَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَٰذِبُونَ

“(Setan-setan itu) turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.”

Imam al-Razi, dalam Mafatih al-Ghaib, mengutip sebuah hadits dari al-Dhahak:

ﻣﺎ ﺑﻌﺚ ﻧﺒﻲ ﺇﻻ ﻭﻣﻌﻪ ﻣﻼﺋﻜﺔ ﻳﺤﺮﺳﻮﻧﻪ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ (اﻟﺬﻳﻦ) ﻳﺘﺸﺒﻬﻮﻥ ﺑﺼﻮﺭﺓ اﻟﻤﻠﻚ

Baca Juga >  Keutamaan Istri yang “Minta” Duluan

“Tidaklah seorang Nabi diutus kecuali ia ditemani seorang malaikat yang menjaga mereka dari setan-setan yang menyaru malaikat.”

Permasalahannya, apakah setelah masa tugas Nabi Muhammad rampung, para dukun kembali mendapatkan kesempatan mendengar kabar gaib dari langit?

Dalam Surat al-Jin ayat 26-27 disebutkan:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”

Berdasarkan ayat di atas, sejumlah kalangan meyakini bahwa pengetahuan gaib tidak didapat kecuali oleh para rasul. Dari sini kemudian kaum Mu’tazilah menepis keberadaan wali.

Tetapi menurut Imam al-Razi, yang dimaksud dengan diksi “gaib” dalam ayat di atas sebetulnya bukan seluruh perkara gaib, tetapi hanya persoalan kiamat. Itulah sebabnya ayat tersebut didahului dengan qul in adri aqaribun ma tu’adun, ila akhiril ayat, yang menunjuk pada hari akhir.

Tentu saja, dalam hal hari akhir, bahkan sekaliber Nabi Muhammad pun tidak mengetahui kapan tepatnya. Tetapi jelas, terdapat sejumlah malaikat yang diberi izin oleh Allah untuk mengetahuinya. Jadi, yang dimaksud dengan Rasul di sini adalah malaikat.

Dari sini Imam Al-Razi kemudian menyatakan bahwa, selain para Nabi, ada sejumlah orang yang dapat mengetahui perkara gaib. Salah satu bukti yang hampir diterima secara mutawatir adalah kabar dari dukun Syathih dan Syiq yang telah dibahas. Dajjal juga bukan Nabi, tapi ahli dalam ilmu gaib. Selain itu, juga terdapat banyak kekasih Allah, yang memang tidak sampai pada derajat kenabian, yang dikaruniai sejumlah ilham (ilhamat) dan membuat mereka dimampukan memahami perkara gaib. Kita menyebut mereka wali.

Para dukun pun, dengan demikian, dimungkinkan dapat menyibak tirai kegaiban, termasuk berbicara soal masa depan, dan sebagainya. Tetapi, Imam al-Razi mewanti-wanti, kebanyakan mereka ini keliru dan penipu (yukaddzibu bi aktsar tilka al-akhbar).

Akhirnya, Sayyidina Umar memohon kepada Sawad al-Dausi supaya ia berkenan memanggil perewangan-nya. Yang diminta menjawab, “Sejak aku membaca al-Quran, wahai amirul mukminin, jin itu tak pernah mendatangiku lagi. Al-Quran adalah sebaik-baik pengganti bagi jin yang dulu pernah menjadi sahabatku.”

Apakah Sayyidina Umar kecewa karena tak jadi ketemu dengan jin yang membawa Sawad masuk Islam? Mana saya tahu! Yang jelas, jangan samakan pemikiran khalifah kedua itu dengan nalar mistis, nan gandrung cerita misteri, milik Anda.

Penulis: KH Lukman Hakim Husnan, dosen STIQ Al-Lathifiyah Palembang.