Kiat Mencapai Kehidupan Sejahtera “Subjective Well-being” Melalui Qanaah dan Sabar

Kiat Mencapai Kehidupan Sejahtera “Subjective Well-being” Melalui Qanaah dan Sabar

Kiat Mencapai Kehidupan Sejahtera “Subjective Well-being” Melalui Qanaah dan Sabar

Psikologi positif, merupakan cabang baru dari ilmu psikologi yang dideklarasikan pertama kali pada tahun 1998 oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi (Seligman & Csikszentmihalyi, 2000). Mereka mengatakan bahwa: “Kami percaya bahwa pandangan mengenai sisi psikologi positif manusia akan muncul, sehingga manusia akan mencapai pemahaman ilmiah dan efektif untuk meningkatkan kualitas. Psikologi positif bertujuan untuk menjadikan kehidupan normal lebih bermakna, bukan hanya sekedar mengobati penyakit mental semata”. Psikologi positif memfokuskan pada pemahaman dan penjelasan tentang kebahagiaan dan subjective well-being.

Lebih spesifik, konsep subjective well-being atau kesejahteraan hidup, merupakan perspektif atau pendekatan hedonic yang mendefinisikan sebagai hal yang fundamental tentang memaksimalkan kenikmatan dan menghindari atau meminimalkan sakit/pain; selanjutnya adalah pendekatan eudaemonic, fokusnya pada komponen thinking, makna dan realisasi diri yang didefinisikan kesejahteraan dalam bentuk tingkatan fungsi penuh sebagai manusia.

Hasil dari evaluasi kognitif orang yang bahagia adalah adanya kepuasan hidup yang tinggi, sedangkan evaluasi afektifnya adalah banyaknya afeksi (perasaan) positif dan sedikitnya afeksi negatif yang dirasakan.

Kiat Mencapai Kehidupan Sejahtera “Subjective Well-being” Melalui Qanaah dan Sabar

Dalam psikologi positif untuk mencapai kehidupan sejahtera, baik dari hasil dari evaluasi kognitif dan dari evaluasi afektif adalah dengan menerapkan sikap kanaah. Dengan begitu, kebahagian seseorang akan tercapai karena kepuasan dan perasaan positifnya cenderung lebih tinggi (menerima keadaan) daripada perasaan negatif yang dirasakan.

Dalam riwayat hadis Imam Thabrani dijelaskan, qana’ah artinya menerima pemberian Allah apa adanya. Jadi, qanaah adalah harta yang tidak pernah sirna” (Husni, 2018, hal. 20-21). Dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 155, diterangkan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah (2): 155) (Ahsin Sakho Muhammad dan Zarkasi Afif, 2020)

Dalam bab yang sama pada kitab Sunan Ibnu Majah disebutkan pula hadits Abu Hurairah, yaitu:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »

Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051, Tirmidzi no. 2373, Ibnu Majah no. 4137).

Maksud ghina nafs dalam hadits adalah tidak pernah tamak pada segala hal yang ada pada orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

Artinya: “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4: 69, shahih kata Syaikh Al Albani).

Kiat Mencapai Kehidupan Sejahtera Subjective Well-being Melalui Sabar

Untuk mencapai kehidupan sejahtera atau subjective well-being agar mendapat hasil evaluasi kognitif dan evaluasi afektif adalah dengan menerapkan sikap sabar.

Menurut M. Quraish Shihab, sabar adalah “menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik”. Sabar berarti menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan. Sedangkan menurut Achmad Mubarok, pengertian sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan.

Dalam firman Allah, diterangkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (QS Al-Baqarah: 153)

Dalam ayat lain diterangkan, bersabar ketika menghadapi musibah, berbunyi:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadanya kami akan kembali).” (QS Al-Baqarah: 155-156)

Dalam hadits No. 3792 pada kitab Fathul Bari, diterangkan:

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا قَالَ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

Artinya: “Dari Usaid bin Hudlair radliallahu anhum; ada seseorang dari kalangan Anshar yang berkata; “Wahai Rasulullah, tidakkah sepatutnya baginda mempekerjakanku sebagaimana baginda telah mempekerjakan si fulan?”. Beliau menjawab: “Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap-sikap utsrah (individualis, egoism, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka itu bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di telaga al-Haudl (di surga)”. (HR. Bukhari) [No. 3792 Fathul Bari] Shahih.

Terakhir adalah salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan hidup (subjective well-being) dicapai dengan menerapkan sikap qana’ah dan sabar. Artinya, dengan bersikap qana’ah atas pemberian dari Allah SWT dan tetap bersabar dengan segala ikhtiyar yang dikerjakan. Secara tidak langsung telah diajarkan untuk menerima apa yang telah ada dan tidak mencari-cari apa yang belum ada pada dirinya.

Demikian Kiat Mencapai Kehidupan Sejahtera “Subjective Well-being” Melalui Qanaah dan Sabar. Semoga bermanfaat.

Oleh: Fikri Hailal, Mahasiswa Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam, Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *