Kiai Zuhdi di Masjid UGM: Sanad Jadi Kunci Kedewasaan Menyikapi Perbedaan Umat

Kajian bertajuk “Sunah Rasulullah sebagai Fondasi Peningkatan Kualitas Ibadah” di Masjid Kampus UGM, Jumat (13/2/2026).

Bangkitmedia.com, YOGYA Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, Ahmad Zuhdi Muhdhor, menekankan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pandangan keagamaan di tengah umat. Pesan tersebut disampaikan dalam kajian bertajuk “Sunah Rasulullah sebagai Fondasi Peningkatan Kualitas Ibadah” di Masjid Kampus UGM, Jumat (13/2/2026).

Dalam pemaparannya, Kiai Zuhdi mengawali dengan kaidah klasik keilmuan Islam, “al-isnâdu minad-dîn, law lâ al-isnâdu laqâla man syâ’a wa mâ syâ’a”, yang bermakna bahwa sanad merupakan bagian tak terpisahkan dari agama. Tanpa sanad, siapa pun dapat berbicara apa saja sesuai kehendaknya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, sanad adalah jembatan transmisi keilmuan yang menghubungkan umat dengan sumber utama pengetahuan kenabian. Melalui sanad, warisan ajaran Rasulullah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sekaligus terjaga otentisitasnya.

Kiai Zuhdi menjelaskan, beragamnya pemahaman keagamaan di kalangan umat tidak lepas dari perbedaan intensitas para sahabat dalam berinteraksi dengan Nabi Muhammad SAW. Ada sahabat yang mendampingi Rasulullah hampir setiap waktu, namun ada pula yang hanya sesekali berjumpa. Kondisi ini membuat tingkat serapan ilmu para sahabat menjadi beragam, lalu diwariskan melalui jalur sanad masing-masing.

Ia menilai, ketidakpahaman terhadap konteks inilah yang kerap memicu gesekan di tengah masyarakat. Kiai Zuhdi mencontohkan, bahwa Rasulullah SAW pada situasi tertentu dapat menyampaikan satu ajaran, namun pada kesempatan lain menyampaikan penjelasan yang berbeda, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan umat saat itu.

Hal serupa, lanjutnya, juga terjadi dalam praktik ibadah, termasuk perbedaan bacaan doa dalam salat yang pada masa sahabat sempat menjadi bahan perbincangan.

“Bagi orang yang tidak dewasa, hal ini akan menjadi topik yang diperdebatkan hanya berdasarkan sudut pandangnya masing-masing,” ujarnya di hadapan jamaah.

Padahal, kata Kiai Zuhdi, apabila seluruh riwayat tersebut dirunut melalui sanad yang sahih, maka perbedaan-perbedaan tersebut sama-sama memiliki dasar kebenaran yang bersumber dari Rasulullah SAW.

Melalui kajian pra-Ramadan ini, Kiai Zuhdi mengajak jamaah untuk memandang perbedaan sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam, bukan sebagai celah untuk saling menyalahkan. Menurutnya, justru melalui jalur sanad yang terjaga, keberagaman pemahaman itu menunjukkan keluasan ajaran Islam sekaligus menjaga orisinalitas tradisi keilmuan umat. (Hana Alia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *