Gus Mus dan Kyai Sahal

Kepekaan dan Kepedulian Sosial Kyai Sahal

Posted on

Kyai Sahal (Ketua MUI Jateng waktu itu, tahun 90-an) merasa sangat kecewa atas ditempatkannya Kyai Bukhori (Ketua Tanfidziah NU Jateng) diurutan ke-4 dalam jajaran wakil ketua DPD I Golkar Jateng. Meski akhirnya Kyai Bukhori menjadi “lakon”, tetap saja tak lepas dan bermula dari komentar keras oleh Kyai Sahal, seniornya sendiri. Menurut Kyai Sahal, penempatan ini merupakan kekurang-penghormatan terhadap ulama.

Sempat memanas, banyak reaksi yang muncul di koran waktu itu. Di antaranya, Prof. Dr. Muladi salah satu tokoh Golkar Jateng, menyatakan bahwa masalah atas kekecewaan ini perlu didengar, dikomunikasikan dan didialogkan secara informal dengan Kyai Sahal. Yang menarik dari berbagai pengamatan dan tanggapan seorang profesor yang juga menjadi guru besar fakultas hukum Undip itu, Kyai Sahal pada saat menjelang Musda memang sering mengeluarkan statemen yang terkesan keras. Menurutnya, tidak mungkin beliau bicara keras kalau tidak ada sesuatu. Kiai besar semacam Kyai Sahal perlu didekati, aspirasi dan keinginannya perlu segera ditangkap. Meski di akhir sang profesor menegaskan bahwa di Golkar urutan ketua satu, dua dan seterusnya tidak ada bedanya. Toh, yang bersangkutan sendiri, Kyai Bukhori pun tidak merasa dinomorempatkan.

Kyai Sahal memang terkenal dines dan memiliki ghirah yang luar biasa terhadap sesamanya. Dulu pun beliau merasa tersinggung berat ketika ulama besar NU seperti Kyai Maimoen Zubeir dicalonkan PPP dalam urutan sekian, di bawah beberapa santrinya.

Bukannya tidak tahu bahwa dalam Orsospol ada ketentuan, aturan, kriteria, dan pertimbangan tertentu (selain atau tidak hanya yang menyangkut segi keulamaan) untuk menempatkan seseorang dalam suatu kedudukan atau jabatan organisasi. Dalam hal Kyai Bukhori, Kyai Sahal pun bukannya tidak tahu kapasitas ke-Golkar-annya, sebagaimana beliau tahu belaka kapasitas ke-PPP- an Kyai Maimoen.

Bagi Orsospol yang bersangkutan, boleh jadi akan mengatakan itu hanya sekedar urutan yang tidak punya makna menomorsatukan yang pertama, menomorduakan yang kedua, dst. Justru di sinilah, boleh jadi, jalan pikiran Kyai Sahal: Kalau bagi Orsospol bersangkutan urutan tidak berarti demikian, lalu apa ruginya menempatkan Kyai di nomor awal?

Baca Juga >  Usai Banjir Bandang, Benarkah Semua Ras Manusia Keturunan Nabi Nuh?

Orang boleh saja mengatakan, begitu saja saja kok dipermasalahkan. Wong yang bersangkutan sendiri saja sudah menerima, tidak mempersoalkannya. Tetapi, hemat saya, adanya kekecewaan-kekecewaan pendahuluan yang dirasakan oleh Kyai Sahal sebelum sekedar kecewa soal penempatan Kyai Bukhori. Barangkali, siapa tahu, Kyai Sahal mempunyai kepekaan dan kepedulian sosial sedemikian rupa, memang merasa selama ini kalangan ulama kurang begitu dihargai. (Meskipun beliau tidak menutup mata akan adanya sementara orang yang disebut Kyai justru tidak ingin atau tidak bisa dihargai). Kyai tidak pantas menyebut-nyebut jasa memang, apalagi minta dihargai. Tetapi apakah karena itu lalu orang lain boleh begitu saja memanfaatkan jasa-jasa atau sekedar namanya tanpa menghargainya?

Umumnya, Kyai yang beneran tentu akan mengatakan, apalah yang saya lakukan, tidak ada. Tapi cobalah tanyakan kepada wakil para Kyai seperti Kyai Sahal itu, apa yang sudah dilakukan kalangan Kyai, insya Allah, meskipun dengan terpaksa, beliau akan menunjukkan daftar panjang yang anda sendiri tak akan bisa memungkirinya. Saya khawatir justru sekarang ini sebenarnya peranan Kyai, dengan segala basa-basi atau caci-maki yang menyertainya, tidak bisa lebih dari sekedar sambatan (diminta tolong).

Kalau memang benar demikian sebelum ketemu sendiri, perkenankanlah, saya matur: Kyai Sahal, apa kurang mulia menjadi sambatan?

 

*Cuplikan Singkat esainya Kyai Ahmad Mustofa Bisri terkait penilaiannya kepada Kyai Sahal Mahfudz Kajen (Wafat Jum’at 24 Januari 2014 pukul 01:00 WIB). Tepat hari ini Haul beliau.

 

Lahum Al Fatihah..