Kenapa Studi Politik Islam adalah Studi Paling Panas?

Kenapa Studi Politik Islam adalah Studi Paling Panas?

Kenapa Studi Politik Islam adalah Studi Paling Panas?

Tidak ada tema yang paling bikin ramai dalam kajian ilmu keislaman kecuali tema terkait politik.

Bahkan cabang ilmu lain sering terbawa-bawa juga gara-gara urusan politik, bukan semata diskusi ilmiyah.

Karena tema politik tidak akan lepas dari pembicaraan terkait centang perenang berbagai kekuatan umat, khususnya dalam rangka meraih kekuasaan dan umumnya dengan berbagai kepentingan lainnya.

* * *

Perang dunia dan berbagai perang lainnya tidak akan terjadi, kecuali karena masalah kericuhan politik para penguasa negara.

Demikian juga berbagai perang yang melibatkan berbagai faksi, kelompok, jabhah, front, atau apapun istilahnya yang melibatkan sesama umat Islam, pasti dilatar-belakangi keributan kepentingan politik di antara para pimpinannya.

Perang yang melanda negeri Islam juga tidak pernah lepas dari kekisruhan di bidang politik.

Adapun ribut urusan aliran aqidah, fiqih, dan lainnya hanya kamuflase saja. Di belakangnya tetap urusan politik juga.

Sedikit di bawah perang, penggulingan kekuasaan, revolusi, pergantian rezim bahkan berbagai demontrasi unjuk rasa yang melibatkan umat Islam, semuanya punya latar belakang politik.

Maka studi politik Islam adalah studi paling panas, karena isinya tidak bisa jauh-jauh dari berbagai macam perang, keributan, perseteruan dan konflik sesama umat Islam sendiri.

Bahkan dibandingkan konflik terhadap pemeluk agama lain, justru konflik internal sesama pemeluk Islam lebih mendominasi.

* * *

Maka kajian politik Islam selalunya akan punya posisi yang berseberangan secara simetris dengan kajian terkait ukhuwwah Islamiyyah atau persaudaraan Islam.

Prinsip ta’awun, saling bantu, saling mempererat tali kasih sayang, saling memaklumi, saling mengalah, saling cinta dan saling husnudzhan sesama hamba Allah yang sejak 14 abad lalu telah ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW, bubar jalan ketika umat ini bicara politik.

Sebenarnya politik itu tidak harus kotor, hanya saja tidak semua tokoh mampu menjalankan politik yang suci, bersih dan bermartabat.

* * *

Ibarat pertarungan rimba persilatan, kalau yang ikutan para master dan suhu dengan ilmu tingkat tinggi, insyaallah jadi seni bela diri yang enak ditonton.

Pendekar yang lebih tinggi ilmunya bisa menang dengan tidak curang, rendah hati dan tidak sombong.

Pendekar yang kalah pun tidak sakit hati, tapi menerima kekalahan dengan satria.

Tapi kayak gitu hanya bisa berlaku di level pendekar yang kesaktiannya sudah tinggi.

Sedangkan di level kroco, yang lebih dikedepankan justru balas dendam, sakit hati, dan bagaimana secara licik bisa bunuh lawan.

Kalau perlu bersekongkol dengan sesama musuh, untuk menjatuhkan musuh besar.

Begitu musuh besar mati terbunuh, para pembunuhnya pun gantian saling khianat dan saling berbunuhan.

***

Akhirnya dunia persilatan berisi orang kotor semua. Isinya hanya orang-orang durjana.

Ambisi, dendam, amarah, dan darah merah jadi keseharian.

Sedangkan pendekar betulan malah pada menjauh dan menyingkir dari rimba persilatan, pergi jauh untuk hidup di gunung atau hutan, atau menyamar jadi rakyat biasa.

Penulis: Ahmad Sarwat, Direktur Rumah Fiqih Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *