Kenali Diri Sebelum Mengenal Allah

hqdefault

Oleh : Vicky Taufiqurrahman

            Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Allah, seperti ungkapan Al Imam Ghozali, “ Barang siapa mengenal dirinya maa ia akan mengenal Tuhan-Nya”. Mengenal diri tidak akan pernah sempurna kalau tidak mengenal asal kejadian diri, dari mana kita berasal dan kemana kita akan kembali. Mengenal diri berarti menggali diri sendiri, dengan jalan memperbanyak renungan dan berdiam diri, berbicara dengan diri sendiri, mengoreksi diri sendiri dan yang lebih penting lagi selalu memperbaiki diri sendiri. Kunci untuk mengenal diri adalah selalu khusyuk dalam hidup, dan kuncinya khusyuk dalam hidup adalah selalu berprasangka baik terhadap segala sesuatu, termasuk selalu berprasangka baik terhadap segala sesuatu, termasuk selalu berprasangka baik kepada Allah, dengan segala ketentuan-Nya, hati selalu berdzikir kepada Allah, selalu mengingat Allah dalam segala keadaan.

            Khusyuk dalam hidup berarti selalu sibuk dengan diri sendiri. Selalu sibuk untuk selalu memperbaiki diri sendiri, dari waktu ke waktu, tidak mengoreksi dan menyalahkan orang lain, apalagi menghakimi dan menilai orang lain. Hingga tidak ada waktu untuk melihat dan menilai perbuatan dan tingkah laku orang lain, apalagi untuk menghakimi dan menghukumi amal perbuatan orang lain. Segala sesuatu yang terjadi dalam  dirinya dan yang ada di luar dirinya, menjadi lewat begitu saja, tidak membekas dan mengotori hatinya. Orang yang khusyuk dalam hidupnya, dia akan mampu mengendalikan akal pikir dan nafsunya, menjadi begitu tenang, hatinya begitu teduh. Mempu melihat segala sesuatunya selalu ada kebaikan dan kebenaran, selalu ada makna dan arti dibalik segala sesuatu, dia bisa melihat kebenaran dan kebaikan di dalam keburukan, dan dia juga bisa mengambil hikmah, makna dan arti dibalik keadaan dan kejadian itu. Begitu juga, dia akan mampu melihat ada kebajikan dan kebenaran dibalik setiap kebaikan, dan dia juga mampu mengambil hikmah, dasar untuk meniti jalan menuju khusyuk dalam hidup.

Bila hidup selalu kasak-kusuk, selalu disibukkan dengan menilai, menghakimi dan menghukumi perbuatan dan tingkah laku orang lain, maka diri akan selalu resah, dan jauh dari ketenangan dan ketentraman. Sedangkan diri yang tenang dan tentram itu adalah diri yang mendapat undangan Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya. Dan di dalam surga-Nya, kita akan mengenal dan berjumpa dengan-Nya. Untuk mengenal Allah dan berjumpa dengan-Nya harus dengan satu syarat, yaitu kita harus dalam keadaan tenang, jiwa dan hati harus dalam ketentraman dan kelembutan. Diri yang tenang adalah suatu tanda bahwa iman kita kepada Allah, baik dan buruk yang ada dan terjadi di diri kita dan di luar diri kita, semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Dan bila hidup kita selalu di penuhi dengan sikap kasak-kusuk, itu pertanda iman kita itu begitu tipis dan semakin tipis, dari hari ke hari. Bila kita telah yakin segala sesuatu itu datannya dari Allah, maka untuk apa kita mempermasalahkan setiap segala sesuatu yang ada dan terjadi.

Iman seorang yang tipis akan menmbuat keyakinan seorang akan mudah goyah, terombang-ambing oleh setiap keadaan dan kejaidan disekitarnya. Tanda-tanda iman seorang yang tipis, dia akan begitu mudah terpengaruh oleh keadaan dan kejadian yang berbeda di luar dirinya, hingga keadaan dan kejadian itu mengotori akal dan pikirdan hatinya. Begitu mudah sebuah keadaan dan kejadian disekelilingnya, mempengaruhi akal dan pikirannya, mempengaruhi emosi, sikap dan tingkah lakunya. Bagi seorang yang tipis imannya, mereka akan cepat merespon segala kejadian dan keadaan, tanpa berpikir dahulu, tanpa memilah dan memilih, apalagi merenungkan dulu, baik dan buruknya, sehingga semua sikap dan perbuatan tanpa terkontrol.

Segala sikap dan perbauatan yang tidak terkontrol, akan menjerumuskan seseorang kedalam jurang kesesatan dan penyesalan. Salah satu tanda orang yang tipis imannya, segala sesuatu akan di lakukan dengan tergesa-gesa, sesuatu yang di lakukan secara tergesa-gesa itu adalah  salah satu sifat syetan, yang bercokol pada diri manusia. Bila segala sesuatu yang di lakukan secara tergesa-gesa, maka akan menjadi buta, tidak bisa melihat mana yang hitam dan mana yang putih, mana yang benar dan mana yang salah, apa lagi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Segala sesuatu akan menjadi gelap gulita, hingga semua tindakan akan serba salah, yang berakibat merugikan diri sendiri dan orang lain, dan pada akhirnya sebuah penyesalan yang akan di dapat.

*Ngaji ini disarikan dari berbagai sumber oleh Ficky Fatchurrahman, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga

sumber gambar : youtube

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *