Karomah KH Hasyim Asy’ari Jombang untuk NKRI

perjuangan kh hasyim asy'ari

Diceritakan zaman itu, KH Hasyim Asy’ari mempunyai karomah yang luar biasa. Kalau sudah berjalan, orang ndak ada yang berani ngomong, ndak ada yang berani. Mbah Hasyim punya penderek yang memang sangat ditakuti orang namanya Mbah Rosyidi. Beliau ini pernah membuat cerobong pabrik gula di Cukir meluntir jadi angka 8 gara-gara Mbah Hasyim disuruh bayar pajak. Tapi Mbah Hasyim ndak mau karena pakai golden, karena sudah bersepakat “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum”. Kalau bayar pakai beras ndak apa-apa ambil, kalau pakai sapi ndak apa-apa, tapi kalau pakai golden Mbah Hasyim ndak mau karena beliau sudah mengharamkan golden.

Ini sangat berbeda dengan sekarang, orang mengharamkan rokok tapi cukai yang 74 triliun masuk APBN, terus APBN diberikan untuk bantuan sekolahan, ini kan namanya tidak konsisten. Banyak sekarang orang yang mengharamkan pancasila tapi, setiap hari pakai uang Indonesia yang ada stempelnya pancasila. Kalau Mbah Hasyim tegas mengatakan “saya bayar pajak mau, tapi kalau pakai golden enggak”.

Bacaan Lainnya

Belanda itu tahu untuk membuat Mbah Hasyim itu menyalahi fiqh-nya itu, maka disuruh bayar pakai golden, bahkan didiskon ceritanya. Mbah Hasyim tetep ngomong “aku ndak mau pakai golden, kalau pakai sapi silahkan.” Lah tapi belanda ngotot, akhirnya Belanda ngamuk di Tebuireng dan terus pulang. Pas pulang tau-tau pabrik gula cukir cerobongnya meluntir jadi angka 8. Ternyata lama-lama baru dikasih tau, dan akhirnya belanda datang minta maaf. Itu yang bikin cerobong itu meluntir Mbah Rosyidi. Kalau ke Tebuireng makamnya lurus dengan makam Gus Dur persis di paling pojok.

Jadi Mbah Hasyim itu sangat punya pengaruh, dan Mbah Hasyim itu orang yang tidak pernah dalam sejarah hidupnya nyeneni (memarahi) santri. Bahkan dibohongi santrinya saja ndak marah. Yang pernah bohongi Mbah Hasyim itu ada, namanya Pak Sulam. Waktu itu musim liburan, Pak Sulam ndak pulang, kirim surat ke Kiai Hasyim. “Kepada Kiai Hasyim Asy’ari di Jombang, mohon maaf Sulam mati. Saya bapaknya Sulam, si Sulam mati tidak bisa kembali ke pondok. Kalau ada hutang mohon diikhlaskan, kalau ada salah mohon dimaafkan.”

Habis itu Mbah Hasyim mengumumkan di depan santri : “para hadirin, ini sulam mati, jadi mohon kalau ada kesalahan dimaafkan, kalau ada hutang diikhlaskan, kalau ada yang belum ikhlas, aku yang bayari”. Loh, tiba-tiba dari pintu gerbang pondok Pak Sulam datang. “Matur nuwun, Kyai, matur nuwun diikhlaskan,” itu Pak Sulam. Mbah Hasyim ndak marah tuh, bahkan akhirnya Pak Sulam jadi tantara. Dan ketika jadi tentara tetep saja begitu, tapi beliau pernah ngantar Jendral Abdul Haris Nasution (pahlawan nasional) ziarah ke makam pahlawan.

Saat itu Pak Sulam yang diminta baca doanya. Pak Abdul Haris Nasution denger doanya sampai nangis, karena saking mendayu dan saking lamanya Pak Sulam. Nangis semua satu kuburan. Begitu selesai Pak Sulam ditegur, “ngawur ae Lam, lah nang kuburan maca doa pencak (ngawur kamu Lam, di kuburan kok baca doa pecat).” Ternyata yang dibaca itu doa mau pencak, karena memang Pak Sulam yang hafal cuma itu.

Ada yang lucu lagi soal kisah pertempuran 10 November. Ketika sudah berangkat perang banyak masalah. Kalau di Jogja orang tau Belanda, tau pesawat, tank, dan sebagainya. Sementara perang di Surabaya itu didatangi oleh santri yang seumur-umur ndak pernah lihat tank, ndak pernah lihat mobil. Mangkannya cerita perangnya itu lucu. Ketika saya ketemu sesepuh yang dulu ikut menyaksikan, itu rombongan yang dari barat dibawa pake truck, termasuk bapak saya pun naik truck ke Surabaya. Selama perjalanan tidak bisa langsung perang, karena selama tiga hari tidak bisa bangun, kenapa? Mabuk naik truck.

Jadi setiap para sesepuh cerita tentang perang 10 November, beliau-beliau bilang, perangnya ndak begitu. Mereka belum terlatih dan ndak paham strategi. Tapi memang santri itu ndak mempan ditembak. Ketika ditembak ndak mempan, pistolnya itu direbut. Bukannya digunakan untuk nembak, malah untuk mukul tentara Belanda, karena mereka ndak paham caranya menembak. Akhirnya senjata-senjata Belanda itu direbut, lalu dikasihkan tentara kita. Tapi pelurunya ndak diambil. Jadi ceritanya lucu.

Terus, para tentara itu membuat strategi : “nanti dicegat disini, dicegat disini, disini”. Tapi penyergapan itu selalu gagal. Kenapa? Karena santri mesti mendahului. Ketika dimarahi, mereka bilang, “ngopo ndadak ngenteni sampean barang, selak dibedil (ngapain nunggu kalian, keburu ditembak)”. Jadi konsep resolusi jihad itu bukan perang, tapi mirip tawuran. Lha para ndak bisa memakai senjata, tapi mereka ditembak ndak mempan. Jadi ya pukul-pukulan saja.

Ada satu orang saksi peristiwa 10 November yang meninggal tahun 2007 silam, itu seluruh tubuhnya ada bekas luka tembak. Rupanya dia pas perang ndak bisa pulang karena ndak kuat ngangkat tubuhnya. Tubuhnya itu bengkak semua gara-gara peluru masuk di dalam kulit tapi ndak nembus daging. Lho kenapa? Ternyata ketika dia disuruh baca doanya kurang. Dia gerak gerak lalu kentut. Jadinya gitu, hanya kulitnya yang tembus peluru.

Ada juga kisah tentang melihat Belanda pakai motor. Belanda disergap, tapi habis itu ndak ngerti diapain ini motor. Pokoknya dokumen-dokumen kisah itu lucu. Termasuk ada yang disuruh memakai sepatu. Malam disuruh pakai sepatu, sorenya hari pas pulang ndak bisa jalan. Lecet semua kakinya karena sepatunya Belanda besar lalu depannya diganjal pakai pasir biar muat di kaki. Ya lecet kakinya.

Ada juga yang pulang perang pakai baju Belanda, sampai di rumah ditembak ndak mempan, pas dipukul temannya dia pingsan. Mereka ndak paham itu temannya karena pakai Belanda dikira tentara Belanda. Itu diantara kisah-kisah unik peristiwa 10 November.

*) Disarikan dari ceramah KH. Ahmad Muwafiq di Acara Majelis Ahad Wage PWNU DIY tanggal 5 November 2017

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *