Karomah Kedermawanan Mbah Moen yang Menakjubkan Santri.
Dalam sebuah acara haflah di pondok pesantren Al-Anwar panitia mengundang seorang kyai dari Jawa Timur untuk memberikan mauidzoh. Tentu kyai yang diundang bukan orang sembarangan. Kyai yang betul-betul alim, pengasuh pesantren dengan ribuan santri.
Saat panitia sowan untuk mengundang, beliau menyanggupi untuk hadir.
“Insyaallah kulo (saya) hadir, Kang. Tapi ora arep mauidzoh (tapi tidak mau memberi nasehat). Nang Sarang kulo arep guyon mawon (di sarang saya mau guyon saja),” kata kyai yang diundang.
Menjelang acara, panitia haflah dan para penasehat musyawarah membahas persiapan haflah. Termasuk membahas besar bisyaroh yang akan diberikan kepada kyai yang diundang untuk memberikan mauidzoh.
Keesokan harinya, setelah ngaji ihya’ tiba-tiba Mbah Moen memanggil ketua panitia. Dia pun sowan menghadap Mbah Moen.
“Kyaine mbok sangoni piro?” tanya Mbah Moen kepada ketua panitia.
“Ndek dalu panitia rapat dihadiri para penasehat sepakat maringi bisyaroh sementen, Yai,” jawab ketua panitia dengan menyebut nominal bisyaroh yang telah disepakati.
“Tambahi, tambahi,” kata Mbah Moen seraya merogoh saku lalu menyerahkan uang untuk tambahan bisyaroh.
Setelah jamaah shalat dzuhur Mbah Moen kembali memanggil ketua panitia.
“Kyaine mbok sangoni piro?” tanya beliau.
“Ndek dalu rapat sepakat bade maringi bisyaroh sementen. Wau enjang jenengan nambahi sementen,” jawab ketua panitia.
“Tambahi, tambahi,” kata Mbah Moen. Beliau pun merogoh saku lalu memberikan uang tambahan bisyaroh kepada ketua panitia untuk kedua kalinya.
Setelah shalat ashar Mbah Moen kembali memanggil ketua panitia. Seperti sebelumnya, beliau menanyakan besar bisyaroh yang akan diberikan panitia kepada kyai yang diundang untuk mauidzoh.
“Saking rapat panitia sementen. Ndek enjing jenengan nambahi sementen. Wau bakda dzuhur jenengan nambahi malih sementen.
“Tambahi maneh, cung,” kata beliau lalu memberikan uang kepada ketua panitia untuk ke-3 kalinya.
Jumlah bisyaroh yang akan diberikan menjadi dua kali lipat dari kesepakatan panitia. Saking seringnya ketua panitia ditimbali dan diberi uang tambahan bisyaroh sampai ketua panitia berfikir seandainya sehabis isya acara belum mulai mungkin Mbah Moen akan memanggil dia lagi, dan memberikan uang tambahan bisyaroh.
Apa rahasia dibalik kejadian itu, tentu Mbah Moen sendiri yang tahu. Tapi santri ketua panitia memahami hal itu sebagai bentuk penghormatan Mbah Moen kepada ahlul ‘ilmi. Dia tidak sekedar mendapatkan nasehat, namun mendapatkan contoh langsung dari gurunya.
“Itulah Mbah Moen. Beliau sangat menghormati ahlil ilmi,” kata santri ketua panitia saat menceritakan kejadian itu kepada saya.
الفاتحة لشيخنا ميمون زبير بأن الله يغفر له ويرحمه ويعلي درجاته في الجنة. واعاد علينا من أسراره وانواره وعلومه وبركاته في الدين والدنيا والآخرة والى حضرة النبي محمد صلى الله عليه وسلم بسر الفاتحة…
Demikian tentang Karomah Kedermawanan Mbah Moen yang Menakjubkan Santri, semoga manfaat.
23 Maret 2021.








