Kisah Mbah Moen Menginap di Hotel yang Penuh Kejanggalan

Kisah Mbah Moen Menginap di Hotel yang Penuh Kejanggalan

Posted on

Kisah Mbah Moen Menginap di Hotel yang Penuh Kejanggalan.

Setelah mengisi pengajian di sebuah pondok pesantren, Mbah Moen langsung pamit pulang. Setelah keluar dan masih di kota yang sama Mbah Moen ngersakke istirahat dulu di hotel.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sopir agak bingung juga. Permasalahannya bukan semata-mata hotel, tapi dia juga harus mempertimbangkan kelayakan hotel bagi Mbah Moen. Sedangkan dia sendiri tidak paham hotel di kota itu.

Sopir pun membawa beliau ke sebuah hotel untuk bermalam. Saat sudah masuk tiba-tiba Mbah Moen ngendikan, “Hotele koyoke gak resik iki.”

Sopir paham dengan maksud Mbah Moen.

“Enggih, Yai,” jawab sopir.

“Kowe kok eroh?” tanya Mbah Moen.

“Kulo wau ningali wong ayu,” jawab sopir.

***

Kondisi hotel yang “gak resik” menjadikan beliau gelisah. Semalam suntuk beliau tidak bisa istirahat.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali beliau segera mengajak keluar dari hotel.

“Tapi sarapane dereng medal, Yai. Nopo boten nenggo riyin?” kata sopir.

“Gak usah. Engko golek sarapan nang jobo wae,” kata beliau.

Mereka pun keluar dari hotel.

“Golek warung, Cung,” kata beliau.

“Enggih,” jawab sopir.

Beliau menyuruh mencari warung mungkin karena sopir sempat matur untuk menunggu sarapan. Jangan-jangan sopir lapar.

Lagi-lagi sopir bingung. Dia tidak paham warung di kota itu.

***

Sopir membawa beliau ke sebuah warung, tanpa tahu warung itu seperti apa. Saat masuk warung mereka langsung menemukan kejanggalan. Di dalam terpampang simbol agama tertentu yang menunjukkan bahwa pemiliknya bukan seorang muslim. Tentu hal ini menjadi masalah, karena berhubungan dengan kehalalan makanan.

“Pripun, Yai. Medal mawon nopo?” tanya sopir.

“Gak usah,” jawab beliau.

Saat penjual keluar, kejanggalan semakin sempurna. Ternyata penjualnya bermata sipit yang identik dengan etnis tertentu yang umumnya non muslim.

“Mau pesan apa, Mbah?” tanya penjual

“Nasi goreng satu porsi saja. Untuk sopir saya. Pakai telor, tanpa daging, dan dibungkus saja,” kata beliau.

Baca Juga >  Pahala Mengucapkan Salam Assalamu'alaikum

“Minumnya apa, Mbah?” tanya penjual.

“Ini saja,” kata Mbah Moen seraya menunjuk minuman soda tawar.

Penjual mengambil gelas.

“Gak usah pakai gelas. Cukup dibuka saja. Biasanya saya minum langsung dari botol,” kata Mbah Moen.

Oleh penjual botol pun dibuka. Mbah Moen meminum soda tawar langsung dari botol, tanpa gelas maupun sedotan.
Soda hanya diminum sedikit.

***

Sopir beliau saat itu adalah KH Hamzah Hasan (Gus Hamzah), santri dan sopir beliau yang saat ini mengasuh pondok pesantren Tanbihul Ghofilin Banjarnegara.

Gus Hamzah menceritakan kisah ini kepada saya dua kali. Saat bercerita Gus Hamzah selalu mengatakan bahwa Mbah Moen itu sangat wirai tapi tetep luwes.

Bagi saya sendiri kisah ini juga memberikan teladan lain selain kewiraian beliau.

Pertama: Saat beliau berada di hotel “ora resik”, beliau begitu gelisah. Sampai semalaman beliau tidak bisa istirahat. Saat pagi tiba beliau pun segera meninggalkan hotel itu.

Saya yakin kebanyakan kita akan tidur lelap bila dalam kondisi seperti itu. Kita juga akan memilih menunggu jatah sarapan dari hotel.

Kedua: Beliau sangat memperhatikan pendereknya. Mungkin beliau pagi itu belum lapar. Tapi bagaimana seandainya sopirnya ternyata lapar.

Ketiga: Saat salah masuk warung, ternyata beliau tidak langsung meninggalkan warung itu. Karena bisa jadi hal itu menyakiti pemilik warung. Namun beliau juga tetap menjaga diri dari makanan yang syubhat. Wirai tapi tetap luwes ini yang selalu menjadi pesan Gus Hamzah saat menceritakan kisah ini.

Semoga kita bisa meneladani beliau.

29 Juli 2020.

Penulis: Abu Said, santri Mbah Maimoen Zubair.

*Melengkapi artikel Kisah Mbah Moen Menginap di Hotel yang Penuh Kejanggalan, silahkan simak video berikut ini.