Ngaji Gus Baha Virus Corona dan Kisah Sayyidina Ali Hadapi Kematian

Ini Cara Menghadapi Virus Corona Menurut Gus Baha

Posted on

KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) menyampaikan pandangannya terhadap wabah virus covid-19 atau corona di Haul ke-3 Ketua Umum PBNU Periode 1999-2010, KH. Hasyim Muzadi, di PP. Al Hikam, Depok, Jawa Barat, Ahad (15/3/2020).

“Jadi kayak menyangkut, misalnya corona tadi. Sayyidina Ali itu pernah, sudah dalam ancaman pembunuhan. Karena beliau musuhnya banyak, ya musuh yang nggak jelas. Sayyidina Ali kalau mau shalat ya tetep biasa shalat tanpa dikawal,” kata Gus Baha.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Gus Baha lalu menjelaskan ketika Sayyidina Ali ditanya kenapa tidak takut kematian, padahal yang ingin membunuh banyak.

“Jawabnya Sayyidina Ali itu unik, Khisny Ajali. Saya masih hafal ta’birnya. Khisny utawi benteng ingsun (Khisny atau benteng saya). Iku ajaliy, jatah ajal,” jelas Gus Baha.

Ya sudah itu aja, lanjut Gus Baha, mau ada ancaman (nyuwun sewu) mau dibunuh orang, mau ada corona, kolera, ada apa-apa tetep kamu mati ya sesuai kontrak. Ya sudah gitu aja.

“Tapi bukan berarti kamu nggak berusaha. Ya usahalah. Memakai masker, biar maskernya laris. Tapi nggak usah diimani berlebihan,” jelas Gus Baha.

Gus Baha lalu membuat perandaian.

Misalnya gini, kata Gus Baha, coba andaikan kamu bisa melihat Lauh Mahfudz, pasti kamu tertawa malu.

Baca Juga >  Ini Teks Istighotsah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari

“Kamu di Lauh Mahfudz ditulis kamu mati kecelakaan. Kemudian kamu nggak tahu. Terus-terusan pakai masker takut korona. Itu, betapa Malaikat Izrael menertawakan kamu. Bocah kok. Hehehe. Lucu kan,” kata Gus Baha disambut tawa para hadirin.

Apalagi kalau ditulis, lanjut Gus Baha, ini mati karena gizi buruk. Terus seumur-umur pakai masker terus. Padahal tulisannya mati karena gizi buruk. Apalagi ditulis mati karena dibentak istrinya. Hahahaha. Terus yang kamu takuti dengan masker itu apa? Kan nggak ada hubungannya.

“Nah, makanya saya minta. Kalau mau takut corona itu gini, saya takut sakit. Kalau sakit menyusahkan orang. Kalau saya sakit, sujud saya kurang. Ngaji saya kurang. Berarti ketakutan kamu terhadap kekurangan aktivitas ibadah. Kalau itu baru islami. Baru benar itu,” tegas Gus Baha. (Rokhim Nur)

*Tulisan ini diolah dari ceramah Gus Baha di Haul ke-3 KH. Hasyim Muzadi di PP. Al Hikam, Depok, Jawa Barat Senin (16/3/2020)