IIQ An Nuur Wisuda 167 Lulusan, 25 Hafal Al-Qur’an 30 Juz dan Qiraat Sab’ah

Para wisudawan terbaik.

Bangkitmedia.com, BANTUL – Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menggelar wisuda ke-18 jenjang Sarjana Strata Satu (S1) dan Harlah ke-24 di halaman kampus setempat, Sabtu (14/09/2026). Dari total 167 wisudawan, setidaknya 145 wisudawan menyandang predikat Cumlaude, 25 predikat hafiz/hafizah (penghafal Al Qur’an) 30 juz dan 11 menyandang gelar Qiraat Sab’ah.

Rektor IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Ahmad Sihabul Millah MA dalam sambutannya menegaskan, wisuda merupakan pintu gerbang menuju perjalanan baru yang lebih luas, penuh tantangan, dan penuh harapan. Maka konsep Quranic Soft Skills menjadi penting untuk dikembangkan.

Bacaan Lainnya

“Kita hidup pada transisi besar dalam sejarah umat manusia. Teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) berkembang jauh lebih cepat dari yang dipikirkan. Maka jika kita mengandalkan kecerdasan dan kepintaran, tentu AI lebih dari itu. Yang tidak ada dalam AI adalah hati nurani dan akhlaqul karimah. Titik inilah Quranic Soft Skills diperlukan melalui kerja istiqamah (konsistensi), tawadlu’ (rendah hati), komunikatif-kolaboratif, dan menebar manfaat bagi kehidupan manusia”, tegas Sihab.

Ketua Yayasan Al Ma’had An Nur, KH. Muslim Nawawi dalam sambutannya memberi penyemangat bahwa Kampus IIQ An Nur mungkin sebagian menganggap kampus sederhana, tetapi keberkahannya bisa dirasakan banyak orang karena pendirinya. Ini telah dibuktikan para alumninya yang telah berkiprah di seluruh pelosok Indonesia. Maka dari itu, ia memberikan peringatan kepada wisudawan agar tidak puas atas capaian hari ini.

“Bersyukur wajib, tapi jangan sampai kalian puas. Jika kalian merasa puas, maka berhenti. Jika berhenti, maka dipastikan tertinggal dengan yang lainnya. Maka silakan diteruskan studinya sampai di jenjang tertinggi”, ucap beliau.

Prof. Euis Nurlaelawati, Ph.D., guru besar UIN Sunan Kalijaga dalam orasi ilmiah menyampaikan pentingnya bermimpi dan terus melakukan yang terbaik dalam setiap fase kehidupan. Ia menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya mulai dari tingkat dasar sampai sekolah menengah atas yang dilalui dengan belajar di pesantren.

“Semua ilmu yang kita rawat harus jadi jalan untuk kemaslahatan. Semua pengetahuan yang kita produksi harus tidak menjauh dari manusia. Semoga seluruh kerja keilmuan kita menjadi bagian pengabdian kita kepada Allah Swt dan kemanusiaan”, ungkap Euis.

Acara dihadiri berbagai kalangan, mulai dari Dzurriyah Al Ma’had An Nur, Bupati Bantul, PWNU DIY, Pemda Bantul, jajaran TNI dan Polri, Kopertais III DIY melalui Forkom, dan berbagai pimpinan perwakilan kampus PTKIS di Yogyakarta.  (Arief Faozi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *