Kelas Ekologi Festival Jagat: Praktik Pengolahan Sampah hingga Kopi Inklusif di Seblak

Kegiatan kelas ekologi Fesival Jagat di Seblak Jombang. (foto: istimewa)

Bangkitmedia.com, JOMBANG – Perhelatan Festival Jagat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu hingga Minggu, 29-30 Agustus 2026 mempertemukan ratusan santri, kiai, pengajar madrasah, dan pegiat komunitas lintas iman. Agenda ini merangkum berbagai kegiatan, mulai dari Majelis Keadilan Ekologi, Fun Games, hingga Kelas Ekologi, sebagai ruang konsolidasi pemecahan masalah lingkungan hidup. Di dalam Kelas Ekologi, krisis lingkungan langsung dibedah melalui praktik pengolahan di lapangan.

Pembahasan dibuka dari penanganan limbah komunal pesantren yang volumenya dapat mencapai puluhan ton per bulan. Pengasuh Pesantren Annuqayah Sumenep, Gus Sholahuddin Wahid atau Ra Mamak, menegaskan penyelesaian masalah ini menuntut regulasi dari pucuk pimpinan.

Langkah pertamanya adalah menanamkan budaya menolak potensi sampah (refuse) sejak dari sumbernya, sebelum masyarakat melangkah ke tahap mendaur ulang.

“Sampah adalah kita, kita adalah santri. Santri tidak boleh keluar dari pesantren, sampah pun juga,” kata Ra Mamak.

Ia mengingatkan bahwa persoalan teknis dan teknologi pengolahan menempati urutan kesekian setelah pemahaman dan kesadaran berhasil ditanamkan kepada para santri. Praktik baik ini telah ia terapkan secara disiplin dalam mendidik santri di Sumenep.

Penanganan limbah lalu ditarik ke skala rumah tangga oleh Hendrikus Hari Wantoro. Kehadirannya mempertegas praktik kolaborasi lintas iman dalam merawat ekosistem lingkungan.

Hendrikus menunjukkan cara kerja ember tumpuk, banana circle, dan Losida (Lodong Sisa Dapur) untuk mengurai kotoran organik. Alam pada dasarnya telah memiliki sistem untuk membereskan limbahnya sendiri. Tugas manusia adalah memilah jenis kotoran tersebut secara disiplin agar proses pembusukan alami berjalan sempurna tanpa menimbulkan penyakit.

Praktik pemilahan ini dijabarkan spesifik oleh fasilitator GUSDURian Yogyakarta, Pandu dan Hafi. Mereka membedah klasifikasi limbah menggunakan contoh barang di sekitar pesantren, salah satunya peci santri yang sudah rusak. Lapisan mika dan plastik di dalam kopiah membuatnya masuk ke dalam kategori residu yang sulit terurai.

Sebelum memandu praktik pengomposan menggunakan keranjang Takakura dan pipa biopori, fasilitator mengajak peserta menonton film pendek dari Ravacana Friends mengenai dinamika warga yang kerap membuang kotoran sembarangan guna memantik refleksi personal.

GUSDURian Lombok Tengah datang membawa solusi untuk sisa makanan dapur. Bang Jali, fasilitator kelas ini, memanfaatkan larva lalat tentara hitam (black soldier fly) atau maggot.

Maggot sanggup melahap sisa makanan organik dengan sangat cepat sehingga menekan timbulnya bau busuk di area dapur. Larvanya yang kaya protein bernilai tinggi sebagai pakan alternatif ternak. Bang Jali menyebut produksi telur ayam di salah satu desa binaannya melonjak tajam dari satu butir menjadi lima belas butir setelah rutin mengkonsumsi maggot.

Di kelas yang sama, sisa bahan dapur seperti ampas bumbu lengkuas diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Cairan fermentasi ini berfungsi ganda, menjadi nutrisi penyubur tanaman sekaligus manjur sebagai insektisida alami pengusir serangga dan tikus.

Pengelolaan limbah cair rumah tangga berlanjut pada minyak jelantah sisa penggorengan. Pembuangan minyak jelantah secara sembarangan mematikan kesuburan tanah dan mencemari ekosistem sungai. Merespons persoalan ini, fasilitator GUSDURian Majalengka, Intan, memandu peserta menjernihkan minyak bekas pakai menggunakan rendaman arang selama satu pekan.

Cairan tersebut disaring dari kotoran, dicetak, dan diberi pewangi alami dari bahan kebun rumahan. Cairan beracun tersebut akhirnya berubah menjadi lilin aromaterapi yang aman digunakan dan memiliki nilai jual ekonomi.

GUSDURian Mojokerto menangani urusan sampah anorganik melalui manajemen Bank Sampah. Fasilitator kelas, Ilul, meminta warga merespons masalah lingkungan dengan tepat, tanpa terjebak pada pencarian nilai ekonomi saat mengumpulkan botol, kardus, atau plastik bekas.

Tujuan utama pendirian bank sampah harus difokuskan pada upaya menahan volume limbah agar tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir. Nilai tukar rupiah dari sampah yang disetorkan harus diposisikan sebagai hasil sampingan dari tanggung jawab komunal.

Pembahasan ekologi di festival ini menjangkau persoalan kemandirian ekonomi dan inklusi sosial. Di area halaman terbuka, Irfan Maulana dari GUSDURian Tasikmalaya mendemonstrasikan proses pengolahan biji kopi.

Ia menceritakan sebuah perkebunan kopi di lereng perbatasan Tasikmalaya dan Garut yang kini dikelola mandiri oleh anak-anak dari jemaat Ahmadiyah. Program pemberdayaan hulu-hilir kopi ini dirintis setelah kelompok rentan tersebut berhadapan dengan diskriminasi saat hendak mendaftar ke sekolah formal.

Pengelolaan kebun kopi akhirnya menjadi ruang pendidikan inklusif bagi mereka untuk belajar kewirausahaan. Di sela-sela rutinitas menyeduh kopi murni, Irfan menyempatkan diri mengingatkan para guru dan santri untuk mengurangi kebiasaan mengkonsumsi kopi saset demi menjaga kesehatan tubuh. (*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *