Bangkitmedia.com, JOMBANG – Pengasuh Ponpes Miftachus Sunnah Kadung Tarukan Surabaya, KH Miftachul Akhyar kembali terpilih menjadi Rais Aam PBNU masa khidmat 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jobang, Minggu (30/6) malam.
Kiai Miftach terpilih setelah melalui musyawarah sembilan Kiai Khos yang tergabung dalam Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) di Ndalem Kasepuhan salah satu pendiri NU KH Wahab Chasbullah dalam rangkaian Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Pembacaan hasil rapat AHWA dilakukan salah satu anggota AHWA KH Anwar Iskandar di hadapan Muktamirin dalam sidang pleno Muktamar ke-35 NU sekitar pukul 23.30 WIB.
Rapat dibuka KH Nurul Huda Jazuli, kemudian dipimpin KH Miftachul Akhyar, Rais Aam demisioner. “Kenapa yang memimpin rapat Kiai Miftachul Akhyar, karena melanjutkan apa yang sudah dilakukan dalam Muktamar ke-34 di Lampung. Saat itu rapat dipimpin KH Ma’ruf Amin selaku mantan Rais Aam,” kata KH Anwar Iskandar.
Ditambahkan, rapat berlangsung sekitar satu jam, mulai pukul 21.00 sampai pukul 22.00. Semangat rapat adalah musyawarah untuk mufakat. “Kepada KH Muftachul Akhyar, para anggota AHWA meminta agar mengajak seluruh potensi yang ada untuk bersama-sama memajukan Nahdlatul Ulama,” tambahnya.
Rais Aam merupakan pimpinan tertinggi dalam struktur Syuriah PBNU. Posisi tersebut memiliki peran dalam menjalankan fungsi keagamaan, memberikan arahan, serta melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan organisasi.
Penetapan Rais Aam melalui mekanisme tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam Muktamar NU ke-35. Setelah ditetapkan, Rais Aam terpilih diharapkan dapat menjalankan amanah kepemimpinan Syuriah sekaligus memberikan arahan bagi perjalanan jam’iyyah NU selama periode kepengurusan 2026–2031.
Dengan kepemimpinan baru tersebut, diharapkan Nahdlatul Ulama terus memperkuat peran dan khidmahnya di tengah masyarakat, serta hadir menjawab berbagai kebutuhan umat dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Pengumuman hasil rapat AHWA disampaikan di sela voting penjaringan bakal calon ketua umum PBNU. Usai pengumuman, voting dilanjutkan lagi. Setiap PWNU, PCNU dan PCI NU mengusulkan lima nama. Setelah dihitung, nama-nama yang muncul diserahkan kepada AHWA untuk menentukan siapa yang akan ditunjuk menjadi Ketua Umum PBNU. (*)








