halalbihalal

Halal Bihalal dan Kisah Rasulullah Selesaikan Urusannya dengan Akasyah

Posted on

Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fak. Agama Islam UNU Surakarta

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari berinterkasi satu sama lain. Dalam interaksi tersebut tidak jarang terjadi gesekan antara satu dengan lainnya di mana ada pihak yang dirugikan. Keadaan inilah yang melatar belakangi perlunya hahal bihahal untuk menyelesaikan hak-hak adami di masyarakat. Namun demikian perlu diingatkan bahwa halal bihalal baru menyelesaikan aspek moral saja dan tidak sekaligus aspek hukumnya. Rasulullah telah memberikan keteladanannya bahwa persoalan hukum terhadap seseorang sebaiknya diselesaikan secara hukum dan bukan sekedar meminta maaf.

Jadi memang beberapa kasus gesekan di masyarakat sering kali memiliki dua aspek, yakni aspek hukum dan aspek moral. Sebagai contoh, jika saya meminjam sebuah buku kepada anda dan saya telah berjanji waktu itu untuk segera mengembalikannya, namun hingga kini saya belum mengembalikan buku itu kepada anda, maka ada dua masalah dalam hal ini. Masalah pertama adalah saya telah melakukan kesalahan moral kepada anda karena saya tidak menepati janji untuk segera mengembalikan buku itu. Pada tingkat tertentu kesalahan secara moral ini bisa berkembang menjadi kesalahan secara hukum ketika telah berkembang menjadi kasus penipuan.

Masalah kedua adalah saya telah melakukan kesalahan secara hukum karena bagaimanapun buku itu adalah milik anda dan tidak akan pernah menjadi milik saya sekalipun anda telah lupa akan buku tersebut, misalnya. Jadi persoalan buku ini adalah masalah hak milik anda dan saya tidak memiliki hak sedikitpun atas buku itu. Perpindahan hak milik seseorang kepada pihak lain harus melalui prosedur hukum yang sah, misalnya melalui jual-beli atau lainnya, seperti hibah, yang disepakati kedua belah pihak.

Halal bihalal yang diikrarkan secara tertulis atau lisan dengan menyatakan, misalnya, “Mohon maaf lahir batin atas seluruh kesalahan saya,” pernyataan tersebut sangat umum, dalam arti tidak menyebut kesalahan tertentu secara jelas. Jika kemudian permintaan maaf tersebut dijawab dengan pernyataan umum pula, misalnya, “Ya sama-sama saling memaafkan,” maka kedua belah pihak telah saling memaafkan dan tuntaslah persoalan mereka. Sampai di sini persoalan moral sudah bisa dianggap selesai.

Tetapi hal tersebut tidak secara otomatis telah menyelesaikan masalahnya secara hukum seperti dalam kasus pinjan-meminjam buku sebagaimana disinggung di atas. Hal ini disebabkan pinjan-meminjam buku merupakan masalah spesifik hukum yang terjadi melalui prosedur hukum atau akad yang telah disepakati kedua belah pihak sebelumnya.

Kisah Rasulullah Selesaikan Urusannya

Dalam sebuah buku berjudul “Kisah Teladan Rasulullah Menghadirkan Jiwa Muraqabah Lewat Puasa” sebagaimana diceritakan ulang dalam situs republika.co.id pada edisi 30 June 2015, dikisahkan bahwa ketika menjelang ajal tiba beliau menanyakan kepada para sahabat adakah beliau berhutang kepada mereka? Pertanyaan ini beliau ajukan kepada para sahabat karena beliau tidak mau jika bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia.

Baca Juga >  Ketika Seorang Yahudi Merindukan Rasulullah SAW

Mendengar pertanyaan itu para sahabat pada awalnya diam semuanya karena berpikir mana ada Rasullullah SAW berhutang kepada mereka. Namun kemudian salah seorang dari mereka bernama Akasyah berkata, “Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta kau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa.”

Akasyah kemudian mulai bercerita, “Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu Engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda. Tetapi, cemeti tersebut tidak kena pada belakang kuda, sebenarnya cemeti itu terkena pada dadaku karena ketika itu aku berdiri di sebelah belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah.”

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Akasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”

Dengan suara yang agak tinggi, Akasyah berkata, “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Mendengar suaranya yang lantang, Rasulullah segera membuka bajunya untuk memberi kesempatan kepada Akasyah mengambil haknya memukul tubuh Rasulullah SAW untuk menyelesaikan masalah hukum dengan sesama manusia.

Meski Akasyah pada akhirnya tidak jadi memukul tubuh Rasulullah SAW dengan membuang cemeti yang sudah ada di tangannya, dan bahkan meminta maaf dan kemudian menangis sesunggukan karena beliau sebetulnya sedang sakit, tetapi cara bagaimana beliau menyelesaikan masalahnya dengan Akasyah haruslah menjadi catatan penting bagi umatnya.

Catatan penting itu adalah tidak sebaiknya dalam menyelesaikan masalah dengan orang lain kita mencukupkan diri dengan hanya meminta maaf dan kemudian minta dihalalkan atau diikhlaskan begitu saja, sementara kita masih mampu menyelesaikannya secara hukum sebagaimana sebuah hutang harus dibayar atau diganti secara sepadan. Prinsip ini agar tidak merugikan pihak lain.

Oleh karena itu dalam berhalal bihalal haruslah selalu diingat bahwa telah meminta maaf tidak berarti telah menyelesaikannya secara hukum. Jika kita memiliki kesanggupan tertentu kepada orang lain, kesanggupan itu harus dilaksanakan sebagaimana telah disepakati. Jika kita telah menghilangkan atau membuat rusak barang milik orang lain, maka barang itu harus diganti yang sepadan. Kesadaran ini penting agar halal bihalal bukan sekedar ritual belaka tanpa mengamalkan maknanya yang hakiki.

(Tulisan ini pernah dimuat NU Online)