gus dur ziarah

Gus Dur dan Model Santri Kuburan

Posted on

Santri kuburan

Santri kuburan adalah santri yang sering mengunjungi kuburan. Santri yang seperti ini, menurut KH. Musyfiq Ma’mun Al-Karawi, saat mengisi Ceramah Umum Pengukuhan Siswa kelas akhir Madrasah Istifadah Ging-Ging Bluto, Ahad (16/6/2019), adalah santri yang bertakwa kepada Allah.

Jadi, kata beliau, untuk mengukur ketakwaan seorang santri adalah dengan cara melihat santri itu apakah ia sering mengunjungi kuburan atau tidak. Santri yang sering mengunjungi kuburan akan mengingat batas hidupnya. Mengingat batas hidup akan menunjukkan kepada santri kebesaran Tuhannya dan akan menambah ketakwaannya.

Karena itu, jika anakmu pulang dari pondok, lantas lekas mengunjungi makam leluhurnya, maka berbahagialah kamu sebagai orang tua. Anakmu dan kamu insyaAllah calon penghuni surga.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sebaliknya, apabila anakmu pulang dari pondok lalu rajin main HP, naik motor tak jelas tujuannya, sering mengunjungi pasar atau mal, maka ingatkanlah anakmu untuk segera mengunjungi makam leluhurnya. Sebab di sanalah ia akan belajar menumbuhkan iman dan katakwaannya. Jangan sampai ia tanpa sadar telah mati sebelum waktunya.

Ceramah K. Musyfiq, mengingatkan saya kepada almarhum presiden ke-4 Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) yang menurut Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) sering disebut sebagai Sarkub (Sarjana Kuburan). Semasa hidupnya, sebagai santri, Gus Dur sangat sering melakukan ziarah ke makam para ulama’ dan wali, baik yang ada di kota maupun di pelosok-pelosok desa. Hal ini berarti menunjukkan kualitas keimanan dan ketakwaan Gus Dur yang tinggi.

Baca Juga >  Di Lapangan Trirenggo Bantul, Drama Kolosal “Resolusi Jihad” Panen Pujian

Selain Gus Dur, yang hadir dalam ingatan saya saat mendengar ceramah K. Musyfiq, adalah guru saya saat kuliah di Yogyakarta, yakni almarhum Gus Zainal Arifin Thoha. Beliau terkenal, selain sebagai Kiai, juga sebagai sastrawan kuburan karena dari saking seringnya menulis sastra dan zairah kubur. Para santrinya yang rata-rata mahasiswa, setiap Senin malam diajak ziarah kubur ke makam wali di Yogyakarta.

Semua itu menunjukkan bahwa kebiasaan para guru kita dalam ziarah kubur, selain untuk mengajarkan bagaimana menumbuhkan keimanan dan ketakwaan juga untuk mengenang perjuangan para ulama’ dan wali serta leluhur kita yang mulia. Kebaikan demi kebaikan yang diperjuangkan mereka selama masih hidup dapat kita pelajari guna meraih hidup yang lebih berarti.

Dengan catatan, menurut K. Musyfiq, datang ke kuburan bukan untuk bermaksiat secara sembunyi-sembunyi. Banyak orang (pemuda-pemudi) saat ini yang malam-malam mengunjungi kuburan, bukan untuk mencari berkah, tapi berlindung kepada setan penjaga kuburan untuk menuntaskan nafsunya agar tidak diketahui orang lain.

Yang terakhir ini bukan santri. Melainkan orang yang menyamar menjadi santri kuburan, yang benar-benar terkubur dalam kemaksiatan. Penyesalan menunggunya di akhir kenikmatan sesaat yang menipunya.

Penulis: Masykur Arif, Madura.