Pemahaman bahwa anak akan kualat karena kelakuannya pada orang tua sudah menjadi barang umum di Indonesia. Namun ada pandangan lain, dari Gus Baha, bahwa justru orang tua lah yang berpotensi kualat apabila sembarangan dengan anak.
Gus Baha paham betul, pandangannya ini tidak populer di masyarakat. Namun dia berani mempertanggungjawabkan pendapatnya. Pandangan tersebut terdapat di berbagai kitab sebagai referensinya.
“Anak itu kan belum punya dosa, bagaimana bisa kualat? Yang bisa kualat ya yang sudah besar. Sehingga orang tualah yang bisa kualat,” kata Gus Baha, dikutip dari tulisan Puthut EA di Mojok.co.
Gus Baha bercerita kisah Nabi Muhammad SAW. Nabi merupakan orang yang hormat pada anak kecil. Salah satu contohnya ketika Hasan dan Husein (cucu Nabi) dibiarkan main anjing di kamarnya.
“Makanya, ketika istri saya menegur anak saya waktu mereka kecil, soalnya mengajak ayam dan kambing masuk ke dalam rumah, saya memberitahu istri saya: Enggak apa-apa, Dik, wong cuma ayam sama kambing, Nabi saja ketika cucu-cucunya main anjing di rumah gak menegur mereka…,” kata Gus Baha.
Lanjut Gus Baha, dia bercerita bahwa akan ada wali, yang akan terus menjadi wali, karena longgar kepada keluarga. Misalnya sebagai orang tua sudah mengajari anak salat, padahal kita tahu bahwa salat itu sesuatu yang sangat spesial. Maka menjadi penting bagi kita membuat prosesi itu sebagai prosesi yang menggembirakan. Kegembiraan itu didirikan di atas kesadaran ketauhidan, bahwa anak kita sudah melakukan sesuatu yang spesial dalam laku ketauhidan.
“Jangan sampai anak itu punya kenangan buruk kepada orang tua. Nonton televisi, haram. Bermain, haram. Apa-apa dikit, haram. Sehingga kenangan anak kepada bapaknya atau orang tuanya itu kenangan buruk. Kenangan traumatik. Dengan begitu, mereka justru mengidolakan orang lain. Maka itu, gembirakanlah mereka, dengan konteks memberi mereka hadiah atas hal baik yang sudah mereka lakukan,” katanya.
Menurut Gus Baha, semua nabi punya hubungan yang baik dengan anaknya. Semua nabi punya adab memuliakan anak, lantaran terdapat kesadaran bahwa yang meneruskan ketauhidan di Bumi ini adalah anak. Anak akan hidup lebih lama dibanding orang tua.
Prinsip tersebut membuat Gus Baha sering ditegur orang lain, karena dianggap terlalu memanjakan anak. “Saya tidak memanjakan, karena saya memang hormat pada anak saya. Kalau perlu, saya yang berbahasa halus (krama) kepada anak-anak saya sekalipun misalnya mereka tidak berbahasa halus kepada saya. Tapi pendapat seperti ini tidak populer di sini,” katanya.
“Jadi jangan sembarangan sama anak, kamu bisa kuwalat. Anak-anak itu belum punya dosa, sementara dosa kalian itu sudah banyak. Sekali lagi ini bukan aliran sesat. Jadi kita ini jika menggembirakan anak dengan niat mengawal ketauhidan mereka, termasuk diajak ke mal, ditraktir makan, dibelikan mainan, dll, semua itu merupakan ibadah.”
–
Penulis: Antariksa Bumiswara








