Belajar filsafat berpotensi membuat seseorang berpikir dengan lebih mendalam. Dalam konteks muslim, belajar filsafat bisa membuatnya memperluas pemahaman tentang Islam.
Dosen Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja, Fahrudin Faiz, mengatakan belajar filsafat bisa membantu seseorang mempelajari Islam dengan lebih luas. Sehingga dia tidak mudah terbawa masuk golongan A atau B. Filsafat menyarankan orang untuk berpikir komprehensif dan mendalam.
“Itu membuat orang wawasannya jadi luas. Kalau orang wawasannya luas, pasti dia enggak radikal. Ndak radikal dalam konotasi negatif, ketika ngertinya cuman satu [perspektif] saja dan yang lain dianggap salah,” kata Fahrudin, dikutip dari laman resmi UIN Sunan Kalijaga.
Saat wawasan muslim luas, dia bisa mengerti banyak ilmu dan pengetahuan. Dengan begitu, dia lebih mudah untuk mentoleransi perbedaan, lantaran punya banyak alternatif pandangan. Dalam belajar filsafat, semua jenis pemahaman dibaca.
Belajar filsafat juga tidak selalu membuat orang justru ateis. “Ada yang belajar filsafat jadi ateis, ada yang belajar filsafat jadi religius, ada yang belajar filsafat jadi anti-agama, ada yang jadi sangat beragama,” katanya.
Banyak referensi ilmu filsafat, seperti Imam Ghazali (filsuf dan teolog muslim asal Persia), Karl Marx, hingga Nietzsche. Sama seperti seseorang belajar agama, Ada yang masuk aliran sesat, ada yang aliran lurus, dan sebagainya.
“Sebenarnya sama aja. Bukan salah agamanya. Dasarnya adalah berpikir yang benar. Nah, inti filsafat kan begitu. Produk berpikirnya ya tanggung jawab masing-masing individu, dan ndak ada tuntutan kalau belajar filsafat terus harus manut sama yang anti-Tuhan, harus ikut yang sesat. Ndak begitu,” kata Fahrudin.
Bagi sebagian orang, mungkin belajar filsafat terasa berat. Hal itu bisa jadi karena filsafat bukan menjadi bidangnya. Bagi orang yang suka filsafat, bisa jadi belajar matematika yang berat, dan sebagainya.
Saat seseorang tidak mendalami suatu ilmu, bisa jadi membuatnya terasa berat. “Tapi kalau nanti mendalami, concern di situ, sebenarnya ya sama saja kayak bidang keilmuan lain. Enggak suka filsafat itu enggak masalah. Tapi enggak boleh enggak suka berpikir dengan benar, karena berpikir benar itu kewajiban kita,” katanya.
–
Penulis: Antariksa Bumiswara








