Dzikrullah Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

dzikir kepada allah

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Sama sekali bukan lelaku mudah buat (mungkin) semua kita untuk mendawamkan dzikrulLah secara lisan dan batin.

Namun, kita tahu, dalam al-Qur’an, ajaran untuk berbuat begitu rupa sungguh nyata benar adanya –bahkan berlimpah ayatnya. Di antaranya surat al-Jumuah ayat 10: “Apabila shalat (ibadah) telah ditunaikan, maka bertebaranlah (berusahalah, bekerjalah, berjuanglah, berikhtiarlah) kalian di muka bumi dan carilah sebagian karunia (rezeki) Allah Swt dan berdzikirlah pada Allah Swt dengan banyak agar kalian beruntung.

Shalat yang dijadikan representasi simbolis dari seluruh bentuk ‘ibadah mahdhah yang diwajibkan Allah Swt kepada kita, dalam ayat tersebut, hanya disebut “sekali dan apabila telah ditunaikan/dijalankan”. Begitupun ihwal ikhtiarmencari rezekiNya (atau dalam bentuk lainnya, seperti belajar) dinyatakan sekali plus “sebagian dari karunia Allah Swt (min fadhlilLah). Tapi coba perhatikan dengan seksama bagian “wadzkurulLah katsiran” (berdzikirlah pada Allah Swt) dengan terang diperintahkanNya “agar banyak”, bahkan sebanyak-banyaknya, alias tiada batasnya.

Bukankah logis sekali bagi kita untuk menyimpulkan bahwa perintahNya untuk berdzikir (walau tak termasuk ‘ibadah mahdhah) supaya dilakukan dengan banyak-banyak dan bahkan sebanyak-banyaknya atau sering-sering dan bahkan sesering-seringnyamestinya melampaui aktivitas ‘ibadah mahdhah (shalat)dan bekerja (berikhtiar) itu sendiri?

Logis sekali pula bila kemudian kita menyimpulkan bahwa seyogianya sebagian besar waktu kita atau bahkan seluruh waktu kita dalam keadaan apa pun (duduk, baring, dan termasuk bekerja) senantiasa tersambungkan dengan dzikrulLah?

DzikrulLah adalah aktivitas mengingat dan menyebut (bisa secara lisan atau batinan) Kemahaan Allah Swt dalam pelbagai redaksinya yang tak terbatas. Bisa subahanalLah, alhamdulilLah, Allahu akbar, masya Allah, istighfar, ta’awudz, hingga selawat dan sebagainya. Bebas saja. Yang terpenting adalah hati kita, rohani kita, senantiasa mengingat dan bersambung dengan WujudNya ‘Azza wa Jalla.

Kita sesungguhnya telah sama-sama memahami bahwa umpama seluruh aktivitas kita benar-benar senantiasa terbingkai Wajah Allah Swt, niscaya takkan ada keberanian pada diri kita setitik pun untuk melanggarNya secara syariat maupun menanggalkanNya dari segala sesuatu yang kita dapatkan atau alami (suka maupun duka).

Ini jelas selaras dengan janji Allah Swt dalam al-Qur’an, misal surat al-Ahqaf ayat 13: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhanku adalah Allah Swt dan kemudian beristiqamah (dengan ikrar tersebut), maka takkan ada rasa takut dan sedih dalam hidupnya.” Dan inlah puncak kebahagiaan hidup yang sangat kita dambakan!

Pertanyaannya kini: apakah saya dan Anda benar-benar mampu menggapai derajat amaliah begitu rupa hingga hidup kita sungguh bahagia?

Inilah PR rohani kita seumur hidup. Mari berbesar hati dengan senantiasa memohon pertolongan dan hidayah Allah Swt agar kita bisa semakin matang secara rohani….

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitabnya, Jala’ al-Khatir fi al-Bathin wa al-Dzahir, menasihati kita perihal keutamaan mendawamkan dzikrulLah ini.

Beliau mengatakan bahwa dzikir merupakan sumber kebaikan dan kebahagiaan hidup. Sekaligus pertanda bagi semakin jernihnya hati, rohani, seiring berkurangnya atau terbersihkannya diri dari noda duniawi dan ketergantungan kepada makhluk.

Orang-orang saleh, lanjut beliau, senantiasa memandang segala sesuatu (kejadian maupun makhluk) sebagai semata cerminan Kemahakuasaan Allah Swt. Maka segala apa pun diterimanya dengan ikhlas –tidak pernah mengguncang pikiran, apalagi hati. Sebab diri ini pun semata diyakini sedang melakoni apa-apa yang diputuskan Allah Swt belaka dan semua hal itu yang terjadi itu diyakini sebagai karuniaNya yang terbaik walau boleh jadi kita belum mengetahui makna atau rahasianya.

Orang-orang saleh, lanjut beliau lagi, kadang menggunakan alat bantu untuk mengkondisikan dirinya bisa tersambung dengan aktivitas dzikrulLah (dalam kebiasaan kita hari ini, sebutlah tasbih). Alat tersebut senantiasa melekat dengannya bahkan hingga ia lelap di pembaringannya. Dan ketika ia terbangun, alat tersebut tetap lekat dengannya –tanda secara rohani lekatnya ia pada dzikir Allah Swt.

Tasbih dan segala alat bantu berdzikir, kita mengerti, memang bukan esensinya. Ia tetap semata alat. Hanya memang, boleh jadi, dengan kebiasaan bertahun-tahun menggunakan suatu alat dzikir, akhirnya ia menjadi bagian integral dari diri kita. Dengan sendirinya, telah menjadi terotomatisasikan pada dirinya untuk berdzikir setiap alat itu ada dalam bagian dirinya.

Betul, sebagaimana pikiran Anda, saya sepakat bahwa lagi-lagi ia hanya alat –yang artinya, bisa berfungsi sedemikian intimnya maupun (boleh jadi) tidak begitu rupa bagi kebiasaan orang-orang saleh lainnya. Kita mengerti semua bahwa esensi dari nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani tersebut ada pada “dzikrulLah sebanyak-banyaknya, setiap saat, dalam setiap gerak-gerik kita.”

Apakah “sebanyak-banyaknya” (katsiran) yang identik dengan angka-angka begitu penting di hadapan tujuan pokok kejernihan rohani melalui dzikir itu?

Rasanya, tak relevan bagi kita yang memang bernawaitu sungguh-sungguh untuk memiliki jalinan mesra dengan Allah Swt dalam segala aktivitas keseharian mendiamterikan angka dan makna rohani tersebut. Mari kita berendah hati bahwa derajat rohani kita yang awam-awam ini jelas sangat membutuhkan proses pemaksaan diri, lalu latihan, kemudian pembiasaan, setiap waktu. Dan terus berjuang mengistiqamahkannya hingga menjadi habitat kita.

Semua proses ini lazim belaka bila kita kemas dalam kalkulasi angka-angka dzikir tertentu –mungkin berdasar ijazah guru. Toh pada akhirnya, seiring waktu yang lama dalam mendawamkan dzikir-dzikir itu, yang tentulah menuntut disiplin diri yang tinggi, insya Allah soal angka-angka dzikir itu menjadi tak lagi utama, digantikan oleh kelezatan rohani tatkala kita intim mengingatNya, berkomunikasi denganNya, dan bersamaNya dalam setiap detak jantung dan gerak tubuh ini.

Semoag bermanfaat.

Jakarta, 21 Juli 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *