ngaji tashrif

Dialeg Ngapak dalam Lalaran Tashrif

Posted on

TASHRIF NJAWANI

Dialek kadang mempengaruhi santri dalam pengucapan lafal bahasa Arab.

Pagi itu kelas satu ibtida’ belajar ilmu Sharaf. Untuk mengetes hafalan santri, sang ustadz memanggil salah satu santri maju ke depan kelas.

“Kamidi, maju!” kata ustadz.

Kamidi pun maju dan mulai setoran hafalan.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

“Marro’ marroo’ marruu’…” suara Kamidi lantang di depan kelas dengan logat Tegal medok.

Gerrr… Santri satu kelas tertawa semua.

“Baleni maning…,” kata ustadz.

“Marro’ marroo’ marruu’.”

Gerrr… Satu kelas tertawa lagi.

Kamidi bingung. Kok pada tertawa sih? Perasaan gak ada yang salah.

“Eh, Kamidi. Dudu marro’ tapi marro,” kata ustadz membetulkan “kesalahan” Kamidi.

“Baleni maning.”

“Marro’ marroo’ marruu’,” kata Kamidi tetap dengan dialeknya tidak berubah sedikit pun.Β πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Di hari yang lain oleh santri yang lain dalam pelajaran qawaidul i’lal.

Baca Juga >  Ngaji Burdah 1, Tertimbun oleh Kerinduan

“Idza waqa’at; ing dalem nalikane tumiba. Apa al-whawhu; whawhu…,”

Gerrr… Kembali satu kelas tertawa.

“Ojo whawhu tapi wawu,” kata ustadz.

“Idza waqa’at; ing dalem nalikane tumiba. Apa al-whawhu; whawhu…,” kata santri istiqamah dalam dialek Pemalang-nya.Β πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Seiring dengan perjalanan waktu belajar Alhamdulillah mereka mampu mengucapkan marro dan wawu dengan benar.

Bahkan untuk sekedar membedakan antara tsulatsi mujarrad dengan tsulatsi mazid, isim mufrad dan jamak taksir adalah hal yang sangat mudah bagi mereka.

Penulis: Abu Said.