maulid di mlangi

Di Mlangi, Kau Akan Temukan Mauludan yang Eksotis!

Posted on

Di desa saya tinggal, Mlangi Sleman, mauludan diadakan di masjid dengan pembacaan Maulid Syaraful Anam.

Cara membacanya tergolong unik, yakni dengan menggunakan teknik suara dalam yang memekik tinggi. Yang belum terbiasa tidak akan paham apa yang sedang dibaca. Bahkan sebagian masyarakat asli Mlangi pun ada yang tidak paham. Nadanya sependek pengetahuan saya mirip-mirip lagu Jawa kuno. Sesekali irama shalawat khas ini dibarengi dengan tepukan yang berirama menunjukkan kegembiraan.

Tradisi ini biasa disebut dengan tradisi gladen. Pelantunnya disebut pak dalang. Tradisi ini biasanya diadakan oleh warga sebagai wujud syukur saat memperoleh anugerah dari Tuhan seperti mantenan, lahiran bayi, sunatan termasuk mauludan dan lain sebagainya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa masing-masing warga membuat bingkisan makanan sebanyak dan sebagus yang mereka mampu untuk dikumpulkan di masjid dan dibagi-bagikan ke masyarakat yang hadir.

Setelah acara selesai dari sekitar jam 07.00-13.30, masyarakat bergembira dengan perolehan bingkisan masing-masing, termasuk saya.  Hal ini dilakukan masyarakat Mlangi (dan daerah daerah lainnya) sebagai ekspresi kecintaan mereka kepada Nabi Muhamad Saw. agar mendapatkan berkah dan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Tradisi ini juga menarik perhatian para peneliti dari berbagai kampus. Biasanya ada beberapa peneliti yang lalu lalang memotret dan memilihat fenomena menarik ini. Beberapa bulan lalu saya mendapati Prof. Mark Woordward juga hadir dalam acara yang semisal tapi beda konteks.

maulid mlangi

Berikut ini petikan terjemah Maulid Syaraful Anam yang dibaca:

Baca Juga >  Hati Suhita, Menyibak Misteri Pernikahan dalam Budaya Pesantren

“Ya Allah, dengan kesucian Nabi Muhammad yang mulia dan para keluarga serta para sahabat yang menempuh jalannya yang lurus, jadikan kami sebagai umat pilihannya; tutuplah aib kami dengan sepercik kesuciannya; kumpulkan kami dalam golongannya; jadikan lisan kami selalu memuji dan menegakkan sunnahnya; hidupkan kami dengan berpegangteguh pada ketaatan dan cinta kepadanya; wafatkan kami dalam keadaan berpegang teguh pada sunnah dan golongannya. Ya Allah, masukkan kami ke surga bersamanya karena ia adalah orang pertama masuk surga; tempatkan kami dalam istana surga karena ialah yang pertama menempoatinya; welasi kami karenanya di hari semua makhluk meminta syafaatnya yang kemudian engkau rahmati mereka karena syafaatnya.”

Begitulah cara masyarakat mengekspresikan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Caranya bisa beragam namun tujuannya sama yakni ingin diakui sebagai umat Nabi Muhammad dan mendapat syafaatnya.

اللهم صلّ علی سيدنا محمد وعلی اٰله وصحبه اجمعين …

(Penulis: Abdoel Halim, Dosen IAIN Surakarta)