malaikat berwajah teduh

Cerpen : Malaikat Berwajah Teduh

Posted on

Senja yang syahdu. Beriringan dengan hembusan pelan nafas sang angin. Nafas yang sejuk. Menggelitik jiwa-jiwa yang berkabut. Sinar sang penerang yang berwarna merah jingga menyambut hangat hamba-hamba haus rindu.  Rindu akan keindahan panorama langit lukisan alam semesta. Langit yang sangat indah, diiringi dengan alunan musik alam raya, sebuah alunan lagu yang kian lama kian menipis. Larut bersama dengan redupnya hangat sinar sang mentari.

Adzan berkumandang, suara merdu yang datang dari sebuah Masjid dengan bangunan kuno khas Yogyakarta. Bangunan yang dikelilingi oleh beberapa komplek dengan penghuni yang berjumlah ribuan. Tepatnya Masjid sebuah Pesantren Mahasiswa di Yogyakarta. Di Pesantren inilah tempat para santri menuntut ilmu dan mencari berbagai pengalaman baru seperti kuliah. Di sudut ruang Masjid itu aku duduk dengan terkantuk-kantuk, kepalaku terasa pusing mengamati tiap baris syair-syair berbahasa arab yang harus kuhafalkan. Setiap baris dari sebuah buku kecil yang sudah usang. Berkeriput dan hampir sobek karena air hujan. Sebuah buku yang menjadi pegangan setiap santri di Pesantren itu. Para santri biasa menyebutnya dengan kitab nadloman. Setiap bait-bait yang harus kuhafalkan dan akan kusetorkan setiap ba’dha sholat maghrib.

“Tur, tangi. Udah adzan maghrib lo. Masih aja tidur di pojokan, awas air liurnya netes, hahaha..,”suara menggelegar Toni membuatku yang sedang terkantuk-kantuk itu menjadi terbangun.

“Ahh… kowe ki… bikin kaget aja. Ini lho setoranku kurang satu baris lagi. Udah setengah jam gak hafal-hafal huh, “ gumamku sembari bangun dan meletakkan buku kecil itu di atas meja.

“Udah sana cepat wudlu, keburu telat kena marah pak kyai, baru tau rasa lo” kata Toni mengancamku.

Setelah bangun dari tempat duduk aku bergegas menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudlu. Setelah beberapa saat kemudian Pak Kyai Yusuf datang untuk menjadi imam dalam sholat jama’ah. Para santri terlihat berdesakan masuk menuju Masjid setelah mendengar bunyi bel tiga kali, bel itu menandakan bahwa sholat jama’ah maghrib akan segera dimulai. Santri putri juga ikut berjama’ah di aula atas bersama dengan Bu Nyai Fatimah.

Santri putra berdesak-desakan masuk dan saling berebut agar berada di shaf paling depan. Termasuk aku. Bahkan ada yang saling dorong satu sama lain. Pak Kyai Yusuf hanya mengangguk angguk dan tersenyum melihat tingkah lucu dan semangat yang tergambar jelas dari raut wajah santri-santrinya itu.

Setelah selesai jama’ah para santri bergegas mengantri untuk setoran hafalan Al-Qur’an serta nadloman kepada para ustadz yang sudah lama mengajar di Pesantren itu. Dalam antrian itu aku mendapat urutan paling awal, sehingga setelah itu aku bisa langsung naik ke kamar. Kamarku terletak di lantai tiga dari empat lantai yang ada di asrama putra. Setelah sampai kamar  aku langsung merebahkan badan, karena setelah seharian berada di kampus.

Tiba-tiba saja ponselku berdering, dalam ponsel itu tertulis nama kakakku yang saat ini tinggal di Jakarta, tempat tinggalku. Sebuah pesan watshapp.

Dek, kamu pulang sekarang bisa gak. Bapak udah makin parah penyakitnya, kritis. Kakak tunggu pulangmu ke Jakarta. Bapak juga berkali-kali menanyakanmu. Love you… Kak Kharisma.

Air mata ini tidak terasa membasahi pipi lembutku, bahkan bulu mataku pun tak sanggup membendung air mata kesedihan ini. Tanpa pikir panjang aku bergegas ke kamar pengurus untuk menemui bagian keamanan agar bisa izin pulang ke rumah. Setelah ke bagian keamanan aku harus sowan ke Pak Kyai Yusuf agar mendapat izin. Begitulah prosedur jika ingin pergi maupun pulang yang lumrah ada di Pesantren manapun.

Namun saat akan memasuki ruangan tempat Pak Kyai Yusuf singgah, perasaanku sudah tidak enak. Aku merasa seperti memasuki kerajaan seorang Raja Penguasa Istana. Namun setelah aku mengucapkan salam dan dipersilahkan masuk oleh Bu Nyai Fatimah perasaanku menjadi lebih tenang. Belum lagi saat aku menatap wajah teduh Pak Kyai Yusuf yang saat itu sedang duduk dengan tenang di kursi ruang tamu yang berwarna merah merona. Tangan keriput itu selalu ditemani tasbih yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Aku mendekat dengan jalan sambil jongkok, dengan penuh rasa hormat aku mulai menenangkan diri.

Nyuwun sewu , Pak Kyai,”

“Iya thole, gimana. Kok tumben Guntur kesini, gak biasanya,” Pak Yai menatap wajahku dengan penuh rasa sayang dan penuh ketenangan. Dalam wajah yang teduh itu menyimpan banyak sekali beban hidup. Tergambar jelas dari keriput yang mulai menghiasi wajahnya.

“Iya Pak Kyai, jadi begini. Barusan saya mendapat kabar dari rumah kalau ayah saya penyakitnya sudah semakin parah dan saya disuruh kakak untuk segera pulang ke rumah. Saya mau meminta izin dari Pak Kyai,” kataku lirih dan menunduk karena tak berani menatap wajah beliau.

Baca Juga >  Hilda (01): Cinta, Luka dan Perjuangan

Jawaban Pak Kyai sungguh tak kuduga sebelumnya.

“Jangan le jangan pulang dulu. Pulanglah kamu besok lusa. Sekarang aku ada tugas untukmu. Berhubung Kang Hanif sedang sakit, saya mau minta tolong ke kamu untuk menjaga toko kitab milik Pesantren, satu hari saja setelah itu kamu boleh pulang”

Dalam hati aku sedikit heran, sedih, bahkan marah dengan beliau. Jarang sekali beliau melarang santri ketika ia hendak izin pulang apalagi ketika izinnya memang kepentingan keluarga yang sedang sakit.

“Oh begitu pak Kyai. Njih mpun ndak apa-apa. Nyuwun ngapunten,” kataku lirih dengan nada yang agak berat. Dalam hati kecilku aku sebenarnya menjerit, marah, dan kesal dengan beliau. Tapi apa boleh buat. Aku yang hanya seorang santri tak bisa berkutik. Karena adab lebih tinggi daripada ilmu. Ta’dlim atau hormatlah kepada guru jika ingin ilmu yang kau dapat kelak bisa bermanfa’at. Itu yang sering beliau ucapkan saat mengajar. Aku mencium tangannya yang mulai dingin. Lalu berjalan mundur dan menunduk dengan sangat hati-hati.

Dalam perjalanan menuju kamar aku sedikit mengerutu. Bisa-bisanya ya beliau itu. Gak habis pikir aku. Kenapa beliau tidak bisa sedikit pun mengerti tentang perasaanku. Ayahku yang sedang kritis dan berharap anaknya pulang ehh..gak dibolehin. Guru macam apa sih.

“Astaghfirullah..astaghfirullah..Ya Allah ampuni diri ini yang telah lancang. Hamba khilaf..,” Seketika ku sadar atas apa yang aku ungkapkan dalam hati. Aku tetap terus menenangkan diri. Air mataku menetes, menyesali caci makiku kepada guru yang telah menagajariku banyak hal.

***

Hingga hari dimana aku harus menjaga toko kitab sesuai dengan permintaan Pak Kyai itu tiba.

“Tumben kamu yang jaga toko tur?,” tanya Kang Fahmi selaku senior yang sudah hampir sepuluh tahun mengabdi untuk pesantren. Mulai dari menjaga toko kitab, menggembala sapi-sapi milik Pak Kyai, hingga menjaga putra-putra Pak Kyai yang masih SD.

“Ehh… iya mas, ga tau nih. Pak Kyai tiba-tiba nyuruh saya. Untuk satu hari saja sih kang. Tapi sebenarnya saya izin pulang karena ayah saya yang penyakitnya tambah parah. Bukannya diizinkan pulang saya malah disuruh jaga toko… ya sudahlah”

“Udah… namanya santri ya sami’na wa ato’na aja tur, kerjakan apa yang beliau perintahkan gak usah disesali. Pasti ada hikmahnya,” kata Kang Fahmi mencoba menenangkanku.

Dan benar apa yang dikatakan Kang Fahmi. Tiba-tiba saja dari kejauhan ada Kang Mamat dan beberapa santri berlarian dari pintu gerbang Pesantren menuju Toko Kitab ini. Wajah mereka terlihat panik. Keringat deras bercucuran membasahi tubuh mereka.

“Kang Guntur, Kang Fahmi gawat ki gawat,” kata Kang Mamat dengan nafas terengah-engah.

“Sabar Kang sabar, apa yang gawat. Tenang sek… tenangkan dirimu,” Kata Kang Fahmi

Kang Mamat mencoba menenangkan dirinya. Ia mulai mengatur nafas dan duduk di teras toko kitab.

“Tahu gak kang, barusan ada kecelakaan beruntun truk-truk mobil bahkan beberapa motor,  bahkan ada bis yang biasa ditumpangi santri sini juga itu. MasyaAllah..saya melihatnya sendiri. Untung gak ada santri yang mudik hari ini. Ngeri pokoknya. Korban bergeletakan kemana-mana…hiiii….” Kang Mamat menjelaskan sambil memegang lehernya.

Sejenak aku berpikir. Ya Allah apakah ini jawaban atas semua takdir-Mu. Engkau gerakkan hati Pak Kyai agar melarangku untuk pulang hari ini. Bahkan kemarin aku sempat marah-marah kepada beliau walaupun itu hanya menggerutu di dalam hati. Aku kembali merenungi kesalahan yang telah kuperbuat kemarin. Sekelebat terbayang wajah teduh Pak Kyai yang telah menyelamatkan nyawaku dengan caranya sendiri.

Wahai guruku, terima kasih. Engkau telah menyelamatkan nyawaku dari marabahaya ini. Alhamdulillah. Kang Fahmi yang ada di samping langsung memelukku dan menangis. Ia merasa sangat bersyukur karena Pak Kyai telah melarangku pulang hari ini. Sekarang aku sadar tidak ada rugi sedikitpun jika kita mau taat kepada guru. Justru ketaatan itulah yang akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Walau perih saat kita harus melewatinya.

*) Oleh : Khoirotun Nisa’, Mahasiswi Magang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta