Kenangan penulis (kanan) dengan (almh) Nyai Hj. Durroh Nafisah.
LANGIT mendung, seakan ikut berduka mengiringi jenazah guru kami, Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah dari Jakarta menuju Yogyakarta, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali meninggal dunia pada Sabtu (28/6/2025) pukul 04.50 WIB di Rumah Sakit Dharmais, Palmerah, Jakarta Barat.
Nyai Hj. Durroh Nafisah lahir di Bantul pada 18 Agustus 1954 yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yayasan Ali Maksum, Kompleks Hindun-Annisah dan Beyt Tahfidz An-Nafisah.
Almarhumah merupakan putri keempat dari Kiai Ali Maksum (Rais ‘Aam PBNU periode 1981-1984) dan Nyai Hasyimah Munawwir. Kakak dan adik Nyai Nafisah terdiri Adib (wafat saat masih kecil), KH Atabik Ali (wafat 2021), KH Jirjis Ali, Nyai Siti Hanifah Ali (wafat 2020), Nafi’ah (wafat saat masih kecil), Muhammad Riqfi Ali (wafat 2016), dan Nyai Ida Rufaidah Ali. Putri satu-satunya Nyai Nafisah dan almarhum KH Muhammad Nasih Hamid Pasuruan yakni Nyai Dr. Hj Hindun Annisah yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asyari Bangsri, Jepara, Jawa Tengah dan Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU periode 2022-2027 dan kini anggota DPR RI.
Asal mula nama Durroh Nafisah.
Nderek ngaos KH. Ghofur Maimun pada tahlilan Ibunda Nyai Hj. Durroh Nafisah pada hari pertama (Ahad, 29/06/2025), kami jadi teringat ketika suatu waktu Ibunda selesai menyimak kami, beliau menceritakan asal mula nama “Durroh” di depan nama “Nafisah”.
Waktu masih mondok, Ibunda mempunyai teman yang cantik & pintar namanya Durroh, karena terinspirasi nama Durroh yang cantik, secantik artinya yaitu “Mutiara”, maka sejak saat itu semua kitab dan Al-Qur’an yang Ibunda punya, dilabeli nama Durroh Nafisah.
Akan tetapi nama tersebut belum dipublish & diliris secara terbuka.
Sampailah pada waktu Ibunda menikah, beliau menikah dengan Romo KH. Nasih Hamid Pasuruan. Qodarullah garwonipun Romo Yai Hamid juga bernama Bu Nyai Nafisah. Untuk membedakan kedua nama Nafisah tersebut, Ibunda ditimbali Mbah Hamid, beliau dawuh;
“Namamu supaya beda dengan Ibumu kutambahi dengan Durroh ya?!…
Seketika Ibunda kaget, dari mana Mbah Yai Hamid pirso nama Durroh yang selama ini hanya tertulis di sampul kitab & Al-Qur’an.
Dengan senang hati, Ibunda meng-iya-kan dawuh Mbah Yai Hamid untuk menambah kata Durroh di depan nama Nafisah. Sejak saat itu Ibunda dengan resmi mempublish nama “Durroh Nafisah”.
Atur Pangandikan untuk Santrinya
Beberapa nasehat atau pangendikan dari beliau yang akan selalu kami ingat ketika di pondok, yang kurang lebihnya seperti ini :
“Wajib mandi sebelum tahajud dan mujahadah. Jadi santri Ndak boleh ombrot, harus rapi
Nek setoran ngaji ndak boleh umak–umik seperti Mbah Dukun, harus lantang, fasih,tartil, 1/4 juz sama dengan 15 menit. Rihlah Ubudiyah, semaan di tempat manapun, seperti di pantai, restoran, atau di tempat rekresai lainnya”
Adalah salah satu bukti sayangnya Ibunda Nyai kepada santri-santrinya untuk rajin dan istiqomah muroja’ah.
Nasehat Lainnya
“Jadilah perempuan yang terampil, Trengginas, Kuto, ora nggumunan ”
“Harus punya hati seluas samudera”
“Harus ridho dan ikhlas terhadap apa-apa yg sudah menjadi ketentuan-Nya”
“Nek dihusnudzoni iso harus dibuktikan iso”
“Awas nanti nek nggak pernah nderes, tak datangi di mimpimu”
“Sesungguhnya kita itu sedang berkejaran dengan ajal, maka jangan pernah meninggalkan Qur’anmu (baca: tahfidmu) dalam keadaan terbengkalai, karena kita tidak tahu kapan ajal itu datang, padahal kematian adalah suatu hal yang pasti”, begitu nasehatnya Bu Nyai Tercinta.
Sugeng kondur bunyai kami, panutan kami, “Mutiara” Al Quran dari Pesantren Krapyak. Biarkan air mata kami terus meleleh, sebagai pengganti rindu akan harumnya nama Ibunda Nyai Hj Durroh Nafisah di hati kami. (*)
Istiah Marzuki, S.Pd.I, M.Pd.I
Santriwati Kompleks Hindun PP Krapyak Yogyakarta, Kini Pengasuh Tahfidz Al Quran Putri PP. Bahrul Ulum Pujon, Malang.









Inspiratif
Nderek Belo Sungkowo konduripun ibu nyai Hajjah Durroh Nafisah (waktu di ponpes Krapyak, komplek H5 sekamar dengan Gus Yahya Staquf, mas Hamam Hadi dll., saya panggil beliau dg. Mbak Genuk). Almarhumah termasuk Min Ahli Jannah. Lahal Fatihah..