Cara Mendapatkan Kenikmatan Sirri Hurufihi.
Bagaimana bisa mendapatkan kenikmatan Sirri Hurufihi (rahasia-rahasia huruf-huruf penyusun dari ayat-ayat Al-Qur’an) orang yang hatinya kotor (baik itu karena kufur ataupun kebanyakan maksiat). Padahal doa yang dibaca adalah:
فيا رب متعني بسر حروفه * ونور به قلبي وسمعي ومقلتي
Hati yang bersih dari penyakit itulah yang akan mendapatkan nikmatnya Al-Qur’an. Dalam tembang jawa kuno ada perkataan:
“Tombo ati iku limo ing wernane, kaping pisan moco Qur’an sakmaknane”.
Artinya: Salah satu obat dari penyakit hati adalah membaca Al-Qur’an dan juga berfikir makna yang terkandung di dalamnya.
“Yo dzikir, Yo mikir”.
Dua perkara ini sudah menjadi sifat dari orang yang dikatakan “Ulul Albab”.
إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب
من هم؟
Siapa mereka?.
الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم، ويتفكرون في خلق السموات والأرض، ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار….الخ
Marilah kita ajak akal fikiran dan hati untuk berjalan-jalan menikmati keindahan. Anak kecil yang masih berdiam diri ini akan ikut berpartisipasi dalam program ini. Surat Al-Waqiah ayat 79 ini melambai-lambai mengajak berfikir.
لا يمسه إلا المطهرون
Dalam ayat ini, memegang saja tidak bisa/tidak boleh, apalagi sampai lebih dari itu.
Al-Massu itu untuk memegang, seperti dalam keterangan kitab taqrib Abu Syuja’:
ويحرم على الجنب … ومس المصحف
ويحرم على الحائض والنفساء ….ومس المصحف
أو كما قال.
Atau untuk yang lebih dalam lagi, bukan hanya sekedar memegang. Seperti dalam ayat:
وإن طلقتموهن من قبل أن تمسوهن
أي قبل أن تجامعوهن
Kata Al-Massu di sini bermakna jima’. Berhubungan badan suami istri tentunya menggunakan alat yang tidak tampak, yaitu alat kelamin. Mendalami Qur’an menggunakan alat yang tidak tampak dari luar yaitu akal atau hati.
أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها
Dalam ayat di atas yaitu:
لا يمسه إلا المطهرون
bisa dimaknai bahwa yang bisa menyentuh Qur’an yang tertulis dalam kitab maknun adalah malaikat-malaikat yang suci. Bisa juga bermakna larangan walaupun berbentuk kata kabar, atau dalam bahasa santri salaf:
أطلق الخبر وأريد به الإنشاء
Yaitu larangan menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci dari hadast dan anjuran untuk beradab dengan menyentuh menggunakan tangan kanan yang bersih dan suci dari najis.
Dari sini juga ada pemahaman bahwa Al-Qur’an tidak bisa sentuh apalagi digauli (dalam arti difahami dengan sangat dalam) kecuali orang-orang yang disucikan, bukan hanya suci. Berarti ada campur tangan dari ALLOH karena bisa berfikir jernih sehingga menghasilkan fikiran yang benar adalah anugerah dari-NYA.
ما أصابك من حسنة فمن الله.
Memang benar harus menggunakan akal fikiran, tetapi harus ingat bahwa hal itu tidak mungkin terjadi tanpa bantuan dari ALLOH.
والله يختص برحمته من يشاء والله ذو الفضل العظيم
Dalam kitab Al-Jalalain, kata برحمته ditafsiri dengan بنبوته. Kita tahu bahwa Kenabian sudah selesai dengan diutusnya Rasulullah, maka kata برحمته ditafsirkan sebagai بوراثة نبوته yaitu warisan kenabian yang berupa ilmu agama.
إن الأنبياء لم يورثوا درهما ولا دينارا، وأورثوا العلم.
Begitulah Nabi kita bersabda.
Dalam Ilmu Fiqh bab warisan dikatakan bahwa warisan dapat terhalang karena adanya pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang mewarisi terhadap orang yang hartanya diwaris, dan juga karena beda agama.
Keduanya adalah dosa yang sangat besar yang berhubungan antara pewaris dan orang yang diwaris hartanya. Warisan dari Nabi adalah Ilmu. Maka orang-orang yang tidak mempunyai kemiripan sifat dengan sifat wajib para Nabi juga tidak bisa mendapatkan bagian warisan ilmu.
Kemiripan dalam beberapa hal ini:
1 & 2. Jujur dan Amanah dalam keilmuan. Dalam ilmu mustholah hadist disebutkan bahwa salah satu syarat diterimanya hadist perowi (periwayat hadist) adalah ia harus ‘Adil.
3. Fathonah, cerdas (limpat). Kecerdasan pun diperlukan untuk memperoleh ilmu. Atau disebut dalam Ilmu mustholah dengan sebutan Al-Dlobthi.
Dalam Syi’ir yang seingat saya ada di kitab Ta’lim Al-Muta’allim dikatakan:
ألا لا تنال العلم إلا بستة * سأنبيك عن تفصيلها ببيان
ذكاء وحرص واصطبار وبلغة * وإرشاد أستاذ وطول زمان
Dalam bait kedua Syi’ir di atas disebutkan bahwa salah satu kendaraan untuk memperoleh ilmu adalah mempunyai kecerdasan (Dzaka’).
Sedangkan tabligh (menyampaikan) hanya wajib untuk para rosul atau mursal. Walaupun begitu, ada dorongan dari ajaran agama untuk menyampaikan sesuatu yang dimiliki walaupun hanya sedikit.
بلغوا عني ولو آية
Sampaikanlah atas namaku atau dariku walaupun yang disampaikan hanya satu ayat saja.
Untuk bisa berfikir tentu diperlukan alatnya, yaitu alat dalam (akal atau fikiran) dan alat luar (ilmu shorof, nahwu, mantiq dan ilmu lainnya). Untuk membongkar mesin saja butuh skill atau keahlian dan alat-alat bongkar pasang mesin. Apabila menyelam dalam lautan ilmu Al-Qur’an.
Keterangan seperti ini adalah sebagai selingan yang kadang sangat dibutuhkan, terbukti dengan adanya perkataan selingan atau dalam bahasa santri dikatakan “Jumlah Mu’taridloh”.
Kita kembali lagi dalam pembahasan kata Al-Muthohharun. Kata Muthohharun juga mempunyai pemahaman disucikan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Diisyarahi dengan kata المطهرون yang mengikuti wazan فعل بالتشديد. Salah satu faidahnya adalah وللتكثير.
Dan menggunakan kata pengembangan dari lafadz التطهير. Dalam Ilmu Fiqh, kata ini adalah untuk mewakili arti menghilangkan hadast besar maupun kecil bahkan najis ringan, sedang dan berat.
Najis jelas tampak terlihat mata (dlohir), sedangkan hadast adalah hal yang tak tampak (Batin).
Hal ini menunjukkan bahwa yang bisa mendalami Al-Qur’an adalah orang yang suci dari dosa-dosa dlohir (anggota badan) dan dosa-dosa batin (dosa yang dilakukan oleh hati, semisal sombong). Bukan hanya sekedar bersih, tapi harus suci. Hal itu karena kadang tempat tampak bersih, tapi tidak suci. Di sana menggunakan redaksi pengembangan dari التطهير bukan النظافة.
Hal ini dikuatkan pula dengan Syi’ir yang dibaca bersama-sama oleh para santri Syaikhona sebelum sholat Maghrib pada malam Jum’at di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu Sarang Rembang Jawa Tengah Indonesia, yaitu:
شكوت إلى وكيع سوء حفظي * فأرشدني إلى ترك المعاصي
وأخبرني بأن العلم نور * ونور الله لا يهدى لعاصي
Inilah yang dapat saya fahami dan tulis, walaupun mungkin ada kesalahan dan kekurangan di sana-sini.
Alhamdulillah, diberi anugerah yang besar oleh ALLOH seperti ini. Hal ini tidak terlepas karena seringnya bersama dengan Orang yang mempunyai minyak wangi. Ingat lho menggunakan O besar pada kata Orang. Walaupun mungkin tidak diberi minyak wanginya, tentu hidung yang sehat akan menghirup harumnya aroma minyak wangi yang digunakan oleh Orang itu.
Mungkin terdapat salah dalam berfikir. Saya yakin akan ada orang yang membenarkan dan mengkoreksi kesalahan dalam pemahaman ataupun penulisan.
Akhirnya:
أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها؟.
Semoga bukan karena itu. Bila ada angan-angan dan fikiran yang belum benar, semoga karena ini:
أفلا يتدبرون القرآن، ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا
Semoga ALLOH menetapkan nikmatnya pada kita semua. Tidak seperti yang tersirat ini:
فتزل قدم بعد ثبوتها
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا
Tetapi mendapatkan:
وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
Dan mendapatkan keturunan yang tersirat dalam kata “Abdan” pada ayat:
فوجدا عبدا من عبادنا آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما
Ditulis setelah ngaji kitab “الفوائد المختارة” ba’da shubuh di Majlis Ta’lim Sabilun Najah Kramatsari, Ahad Manis, 3 Dzulhijjah 1440 H/ 4 Agustus 2019 M, dan diperbaiki pada dini hari malam Senin Pahing, 4 Dzulhijjah 1440 H/ 5 Agustus 2019 M.
Semoga bermanfaat.
Sumber: Gus Kanthongumur, santri Mbah Moen.
*Demikian tentang Cara Mendapatkan Kenikmatan Sirri Hurufihi, semoga manfaat.








