Canda gurau sebagai obat stres tentu menjadi kebutuhan setiap makhluk bernama manusia. Islam juga tidak melarang umatnya untuk bersenda gurau dan tertawa

Bukti Rasulullah Gemar Bercanda, Jadi Umatnya Jangan Suka Marah

Posted on

Bukti Rasulullah Gemar Bercanda, Jadi Umatnya Jangan Suka Marah

Canda gurau sebagai obat stres tentu menjadi kebutuhan setiap makhluk bernama manusia. Islam juga tidak melarang umatnya untuk bersenda gurau dan tertawa. Namun, syariat memberikan tuntunan, bagaimana harusnya seorang Muslim menyikapinya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Rasulullah SAW sebagai suri tauladan telah memperlihatkan bagaimana semestinya seorang Muslim dalam bersenda gurau. Beliau Rasasullah SAW sendiri juga bercanda dengan keluarga dan para sahabatnya. Dengan bercanda, Beliau SAW bisa menambah keakraban, menghibur, menimbulkan kasih sayang, sekaligus memberikan edukasi positif.

Dalam suatu riwayat, seorang wanita tua mendatangi Rasulullah SAW. Ia menanyakan perihal surga: ”Wanita tua tidak ada di surga,” sabda Beliau Rasulullah SAW.

Mendengar ucapan itu, si nenek pun menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW segera menghiburnya dan menjelaskan makna sabdanya tersebut itu: “Sesungguhnya ketika masa itu tiba Anda bukanlah seorang wanita tua seperti sekarang.”

Rasulullah pun kemudian membacakan ayat: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.” (QS al-Waaqi’ah : 35-36).

Akhirnya, si nenek tua tadi pun tersenyum. Mungkin ada yang menilai, betapa kasarnya guyonan Rasulullah sehingga membuat wanita yang sudah tua sampai menangis. Namun perlu dicermati, guyonan tersebut adalah suatu kebenaran, punya nilai edukasi, dan sarat dengan ilmu pengetahuan. Si nenek diajarkan suatu ilmu baru, bahwa kelak para penghuni surga akan dikembalikan seperti masa ia ketika muda.

Rasulullah juga dikenal sebagai seorang suami yang hangat dalam keluarga. Suatu kali, Rasulullah SAW menantang istrinya Aisyah RA lomba lari. Karena Aisyah masih sangat muda, ia berhasil mengalahkan Rasulullah SAW. Mungkin saja Rasulullah SAW hanya mengalah demi membahagiakan istrinya yang masih sangat muda itu. Ia ingin memupuk rasa cinta dan kasih sayang dengan istrinya.

Beberapa waktu setelah itu, Rasulullah kembali menantang Aisyah untuk lomba lari. Karena badannya sudah gemuk, Rasulullah pun memenangkan perlombaan itu: “Ini pembalasan untuk kekalahan yang dulu,” sabda Beliau Rasulullah SAW.

Baca Juga >  Kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Kalah Debat dengan Pemabuk Berat

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Beliau Rasulullah SAW: “Wahai, Rasullullah! Apakah Engkau juga bersendau gurau bersama kami?”

Rasulullah SAW menjawab: “Benar, Hanya saja saya selalu berkata benar.” (HR Ahmad).

Jadi Rasulullah SAW. Sekalipun bercanda tidak dengan kebohongan.

Rasulullah juga pernah becanda dengan Sahabat Ali. Suatu ketika Sahabat Ali pernah iseng ke Rasulullah SAW dengan memindahkan biji kurma bekas miliknya ke tempat biji kurma Rasul.

Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang berbuka puasa. Buah kurma terhidang di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing.

Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain. Muncul keisengan Sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasul.

Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Rasul: “Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak.”

Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali: “Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan beserta biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu.” (Sumber : HR. Bukhori)

Begitulah model bercanda yang dicontohkan Bercanda Islami Ala Rasulullah SAW . Dalam bercanda, Beliau SAW tidak pernah tertawa sampai terbahak-bahak. Tertawanya hanya sampai terlihat gigi taringnya saja. Beliau juga tidak melontarkan lelucon bohong, dusta, atau merendahkan orang lain. Beliau juga tidak berlebih-lebihan dalam bercanda. Hanya sebatas refreshing dan pelepas kesuntukan sesaat.

Demikian Bukti Rasulullah Gemar Bercanda, Jadi Umatnya Jangan Suka Marah

4 juli 2020

Penulis: Ahmad Hasan Mashuri